Mengapa Kerajaan Majapahit Bisa Runtuh? Ini Faktor Penyebabnya

Penulis yang percaya setiap kata punya kekuatan. Spesialis di bidang teknologi, personal finance, dan otomotif.
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Hendro Ari Gunawan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Kerajaan Majapahit pernah menjadi salah satu kerajaan terbesar di Asia Tenggara. Namun, seiring berjalannya waktu, kerajaan besar ini mengalami kemunduran hingga akhirnya runtuh. Lantas, mengapa kerajaan yang begitu kuat bisa kehilangan pengaruhnya? Mari simak faktor penyebabnya berdasarkan jurnal Kerajaan Majapahit: Awal Masa Kejayaan Sampai Masa Keruntuhan dan Peninggalannya susunan Regita Putri Nurhasana dan Reka Seprina berikut ini.
Hilangnya Tokoh Kunci dalam Pemerintahan
Kerajaan Majapahit sangat bergantung pada sosok pemimpin yang kuat dan berwibawa. Setelah wafatnya Gajah Mada (1364) dan Hayam Wuruk (1389), kekuatan Majapahit perlahan mulai melemah. Berikut beberapa situasi yang menggambarkan kemunduran tersebut:
Tidak ada pengganti yang sepadan: Peran Gajah Mada dibagi kepada tiga pejabat berbeda. Namun, tidak ada satu pun di antara mereka yang memiliki kewibawaan, kecerdikan, maupun kemampuan kepemimpinan seperti Gajah Mada.
Kekuatan politik melemah: Hayam Wuruk tidak meninggalkan penerus yang sekuat dirinya, sehingga stabilitas kerajaan terguncang.
Kehilangan arah: Setelah dua tokoh besar itu wafat, Majapahit kesulitan mempertahankan kejayaannya.
Perselisihan Internal dan Perang Saudara
Setelah Hayam Wuruk meninggal, perebutan kekuasaan di dalam istana semakin sengit. Kondisi ini memicu perpecahan internal yang sulit diatasi. Berikut beberapa situasi yang terjadi:
Perang Paregreg (1401–1406): Konflik antara Bhre Wirabhumi dan Wikramawardhana membuat kerajaan hancur dari dalam.
Pemberontakan Bhre Daha: Di masa pemerintahan Ratu Suhita (1429–1447), muncul pemberontakan dari dalam istana yang semakin memperlemah kekuasaan pusat dan perekonomian kerajaan.
Politik yang rapuh: Perselisihan dinasti membuat Majapahit kehilangan kewibawaan di mata rakyat dan kerajaan bawahan.
Bangkitnya Kekuasaan Baru di Nusantara
Selain konflik internal, keruntuhan Majapahit juga dipengaruhi oleh munculnya kekuatan baru di Nusantara, terutama kerajaan-kerajaan Islam yang berkembang di pesisir utara Jawa.
Memasuki akhir abad ke-14 hingga awal abad ke-15, pengaruh Majapahit semakin melemah, sementara Kesultanan Malaka justru bangkit sebagai pusat perdagangan maritim.
Puncaknya, pada tahun 1518 M, Majapahit terpaksa menandatangani perjanjian dengan Malaka sebagai tanda nyata bahwa kerajaan besar ini tidak lagi berdaulat penuh atas wilayah yang dahulu berada di bawah kendalinya.
Peninggalan Kerajaan Majapahit
Meski runtuh, jejak kejayaan Majapahit masih bisa terlihat melalui berbagai peninggalan berupa bangunan, karya sastra, hingga prasasti. Berikut beberapa di antaranya:
1. Candi dan Bangunan Keagamaan
Candi Penataran: Candi di Desa Penataran, Kecamatan Nglegok, Kabupaten Blitar. Kompleks candi ini dihiasi oleh prasasti Palah yang memuat kisah Karnaval Hayam Wuruk Jawa Timur.
Candi Tikus: RAA Kromodjojo, Bupati Mojokerto, mendirikan Candi Tikus pada tahun 1914. Kuil ini diduga pernah digunakan sebagai tempat pemandian raja.
Candi Sukuh: Candi ini berlokasi di desa Berjo, kecamatan ngargoyoso, kabupaten Karanganyar Jawa Tengah. Bentuk bangunannya mirip dengan peninggalan budaya Maya di Meksiko atau peninggalan budaya Inca di Peru.
Candi Wringin Lawang: Gerbang besar yang dipercaya sebagai pintu masuk menuju pusat kekuasaan Majapahit. Candi ini berbentuk sebuah gapura, yang biasanya digunakan sebagai gerbang terluar suatu kompleks bangunan.
2. Karya Sastra
Kitab Negarakertagama karya Mpu Prapanca berisi catatan sejarah dan wilayah kekuasaan Majapahit.
Kitab Sutasoma karya Mpu Tantular melahirkan semboyan terkenal “Bhinneka Tunggal Ika.”
3. Prasasti
Prasasti Waringin Pitu (1477 M): Mencatat sistem administrasi dan 14 kerajaan bawahan Majapahit.
Prasasti Prapancasarapura (1337 M): Prasasti ini menjadi bukti adanya pemerintahan Ratu Tribhuwanottunggadewi, dan kini tersimpan di Museum Nasional Indonesia.
Baca Juga: Sejarah Kerajaan Majapahit dari Masa Kejayaan sampai Kemunduran
