Konten dari Pengguna

Perbedaan Popok Kain dan Popok Sekali Pakai, Mana yang Lebih Baik untuk Bayi?

Hendro Ari Gunawan

Hendro Ari Gunawan

Penulis yang percaya setiap kata punya kekuatan. Spesialis di bidang teknologi, personal finance, dan otomotif.

·waktu baca 4 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Hendro Ari Gunawan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi popok bayi. Foto: Unsplash
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi popok bayi. Foto: Unsplash

Mengetahui perbedaan popok kain dan popok sekali pakai untuk bayi merupakan hal penting bagi setiap orang tua. Adapun perbedaan antara kedua jenis popok ini dapat dilihat dari karakteristik, pengeluaran harian, serta dampaknya terhadap lingkungan.

American Academy of Pediatrics (AAP) dan Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) menjelaskan bahwa sejatinya tidak ada pilihan yang "benar" atau "salah" antara popok kain dan sekali pakai, melainkan harus disesuaikan dengan kebutuhan keluarga, sensitivitas kulit bayi, dan preferensi pribadi.

Daftar isi

Apa Itu Popok Kain dan Popok Sekali Pakai untuk Bayi?

Popok kain adalah popok bayi yang bisa dicuci dan digunakan berulang kali. Biasanya terbuat dari bahan katun, bambu, atau microfiber, dan dapat dilapisi dengan insert penyerap. Popok ini tersedia dalam berbagai bentuk seperti pre-fold, fitted, atau all-in-one.

Sementara itu, popok sekali pakai atau disposable diaper adalah popok berbahan sintetis seperti plastik dan gel penyerap, dirancang untuk sekali pakai lalu dibuang. Produk ini sangat praktis dan banyak digunakan di berbagai negara.

Menurut Environmental Protection Agency (EPA), popok sekali pakai merupakan salah satu limbah rumah tangga terbanyak di Amerika Serikat, sementara popok kain dinilai lebih ramah lingkungan bila digunakan secara efisien.

Lebih Ramah Lingkungan Popok Kain atau Popok Sekali Pakai?

Dari perspektif lingkungan, popok kain lebih unggul dalam jangka panjang. Meskipun membutuhkan air dan energi untuk pencucian, popok kain dapat digunakan ratusan kali sebelum akhirnya dibuang.

Laporan dari Journal of Environmental Health Perspectives menyebutkan bahwa satu bayi dapat menggunakan sekitar 2.500–3.000 popok sekali pakai dalam tahun pertama kehidupannya.

Hal ini tentunya dapat menimbulkan beban limbah yang besar, terutama karena popok sekali pakai sulit terurai dan bisa memakan waktu hingga 500 tahun untuk terdekomposisi.

Meski begitu, efektivitas popok kain dalam hal lingkungan ini juga sangat bergantung pada cara pencucian, semakin hemat energi dan air, semakin rendah pula jejak karbonnya.

Lebih Ekonomis Popok Kain atau Popok Sekali Pakai?

Menurut BabyCenter, popok kain lebih hemat dalam jangka panjang, meskipun membutuhkan investasi awal yang lebih besar. Satu set popok kain lengkap bisa menelan biaya antara Rp2–4 juta, namun bisa digunakan hingga anak selesai toilet training, bahkan diwariskan ke adiknya.

Sementara itu, popok sekali pakai memerlukan biaya harian yang berkelanjutan. Data dari Consumer Reports memperkirakan bahwa biaya popok sekali pakai selama 2 tahun bisa mencapai Rp10–15 juta, tergantung merek dan frekuensi pemakaian.

Bagaimana Dampak Popok Kain dan Popok Sekali Pakai terhadap Kesehatan Kulit Bayi?

Popok kain cenderung lebih lembut dan memiliki risiko iritasi kulit lebih rendah, karena tidak mengandung bahan kimia tambahan seperti pewangi atau gel penyerap. Namun, mereka perlu diganti lebih sering karena daya serapnya terbatas.

Popok sekali pakai, di sisi lain, sangat praktis karena dapat menyerap cairan lebih banyak dan menjaga kulit tetap kering. Tetapi beberapa bayi dengan kulit sensitif bisa mengalami ruam popok jika terlalu lama menggunakan popok jenis ini.

Journal of Paediatrics and Child Health mencatat bahwa ruam popok lebih banyak terjadi akibat frekuensi ganti yang rendah dibanding jenis popok itu sendiri. Jadi, perhatian utama tetap pada kebersihan dan rutinitas penggantian.

Kesimpulan

Popok kain dan popok sekali pakai memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing yang perlu disesuaikan dengan kebutuhan keluarga.

Popok kain bisa dicuci dan digunakan ulang, lebih ramah lingkungan, serta ekonomis dalam jangka panjang meski butuh investasi awal. Sebaliknya, popok sekali pakai lebih praktis, namun menghasilkan limbah besar dan biayanya terus berjalan.

Dari sisi lingkungan, popok kain lebih unggul karena bisa dipakai ratusan kali, sementara popok sekali pakai sulit terurai dan menambah beban sampah.

Dalam hal kesehatan kulit bayi, popok kain lebih alami dan minim bahan kimia, tetapi harus sering diganti. Popok sekali pakai lebih menyerap, namun berisiko menimbulkan ruam jika jarang diganti. Intinya, pilihan popok terbaik tergantung kenyamanan bayi dan gaya hidup orang tua.

Baca juga: Rutinitas Harian Bayi Usia 6 bulan: Waktu Tidur, MPASI, dan Bermain

(NDA)