Sejarah Alat Musik Angklung Tradisional Asli Jawa Barat

Penulis yang percaya setiap kata punya kekuatan. Spesialis di bidang teknologi, personal finance, dan otomotif.
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Hendro Ari Gunawan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Angklung adalah salah satu kesenian kebanggaan Indonesia yang telah mendunia. Alat musik bambu dengan alunan merdu yang mampu memikat hati siapa saja yang mendengarnya. Ketika UNESCO menetapkan angklung sebagai Warisan Budaya Takbenda pada tahun 2010, pengakuan tersebut bukan hanya sekedar penghargaan, melainkan bukti bahwa kearifan lokal masyarakat Sunda telah memberikan kontribusi besar bagi peradaban dunia. Sejarah alat musik angklung tradisional asli Jawa Barat berakar dari pandangan hidup agraris masyarakat yang menghormati Dewi Sri. Untuk mengetahui perjalanan panjang dari alat musik angklung, mulai dari sebagai pelengkap ritual hingga menjadi simbol diplomasi budaya Indonesia di kancah internasional, simak terus uraian ini.
Daftar isi
Daftar isi

Daftar isi
Asal-Usul Angklung dalam Kebudayaan Sunda
Menurut Ajeng Dewi Sri Ayu Ningsih dkk dalam jurnal Gudang Jurnal Multidisiplin Ilmu yang berjudul Perkembangan Alat Musik Angklung, angklung adalah alat musik multitonal berbunyi ganda yang berkembang dalam budaya masyarakat Sunda di bagian barat Pulau Jawa.
Kata "angklung" sendiri berasal dari bahasa Sunda "angkleung-angkleungan" yang merujuk pada suara yang dihasilkan ketika angklung dimainkan. Alat musik ini terbuat dari bambu yang dirangkai dengan tali rotan, menciptakan harmoni nada yang unik.
Dalam publikasi Obby A.R. Wiramihardja yang dikutip Rosyadi dalam jurnal Patanjala berjudul Angklung: Dari Angklung Tradisional ke Angklung Modern disebutkan bahwa angklung telah ada di Nusantara bahkan sebelum era Hindu dan di Jawa Barat sudah dimainkan sejak abad ke-7.
Terciptanya alat musik ini berakar dari pandangan hidup masyarakat Sunda yang agraris dengan makanan pokok berupa padi. Muncul mitos Nyai Sri Pohaci sebagai Dewi Sri pemberi kehidupan yang menjadi objek pemujaan dalam ritual pertanian masyarakat Sunda.
Fungsi Sakral dalam Ritual Pertanian
Dalam sejarah Kerajaan Sunda abad ke-12 hingga 16, angklung dimainkan untuk memuja Nyai Sri Pohaci sebagai lambang Dewi Sri. Syair lagu-lagu yang dinyanyikan dianggap sebagai penghormatan dan persembahan kepada dewi padi serta sebagai tolak bala agar bercocok tanam tidak mendatangkan malapetaka.
Dalam perkembangannya, syair lagu tersebut diiringi dengan bunyi tetabuhan dari batang-batang bambu yang dibuat sederhana, inilah cikal bakal angklung. Masyarakat Suku Baduy di Jawa Barat hingga kini masih menggunakan angklung dalam beberapa upacara adat mereka.
Angklung Dogdog Lojor dari Sukabumi misalnya, digunakan untuk merayakan dan memohon berkah dalam berbagai kegiatan pertanian. Bunyi yang dihasilkan angklung jenis ini biasanya lebih rendah dan dalam karena ukuran tabung bambunya yang besar, menciptakan ritme dan harmoni yang unik dan khas.
Transformasi dari Pentatonis ke Diatonis
Perubahan paling revolusioner dalam sejarah angklung terjadi pada tahun 1938 melalui tangan Daeng Soetigna. Dalam buku Daeng Soetigna: Bapak Angklung Indonesia yang disusun Sjamsuddin dan Winitasasmita dijelaskan bahwa Daeng Soetigna mengembangkan angklung pentatonis menjadi bernada diatonis-kromatis.
Dengan modal pengetahuan musik yang diperolehnya dari sekolah buatan Belanda, ia mengubah sistem tangga nada tradisional angklung menjadi solmisasi modern yang memungkinkan angklung dimainkan untuk berbagai jenis musik.
Inovasi Daeng Soetigna ini membuka jalan bagi angklung untuk berkembang pesat dan dimainkan tidak hanya untuk lagu-lagu Sunda, tetapi juga lagu nasional dan bahkan lagu-lagu mancanegara. Pengembangan ini kemudian dilanjutkan oleh Udjo Ngalagena yang sejak 1966 mengembangkan teknik permainan berlandaskan laras pelog, salendro, dan madenda, sekaligus mengajarkan cara bermain angklung kepada berbagai komunitas.
Jenis-Jenis Angklung Tradisional
Rosyadi dalam jurnalnya mencatat bahwa terdapat berbagai jenis angklung tradisional di Jawa Barat. Angklung Buhun atau angklung kuno masih dimainkan oleh masyarakat Baduy dan beberapa daerah lain dengan mempertahankan bentuk aslinya.
Angklung Gubrag dari Jasinga Bogor digunakan dalam upacara ngaseuk atau menanam padi. Angklung Badud dari Cijulang Pangandaran tumbuh sebagai media ritual pertanian padi yang merupakan profesi mayoritas masyarakat setempat.
Setiap jenis angklung memiliki ciri khas yang mencerminkan adat istiadat, kepercayaan, dan kondisi geografis daerah asalnya. Keberagaman ini menjadi bukti kekayaan budaya Jawa Barat yang patut dilestarikan.
Pengakuan Dunia dan Upaya Pelestarian
Pengakuan UNESCO pada 2010 menjadi momentum penting dalam pelestarian angklung. Sejak saat itu, berbagai upaya dilakukan untuk menjaga keberlangsungan alat musik ini.
Pemerintah Daerah Jawa Barat mendirikan rumah angklung, memasukkan angklung dalam kurikulum muatan lokal sekolah, dan mendukung kegiatan ekstrakurikuler angklung. Promosi internasional juga dilakukan melalui House of Angklung di Amerika dan berbagai pertunjukan rutin di seluruh dunia.
Angklung kini tidak hanya populer di Jawa Barat tetapi telah menyebar ke berbagai daerah di Indonesia bahkan mancanegara. Dari akarnya sebagai alat musik ritual pertanian, angklung telah bertransformasi menjadi alat musik modern yang mampu memainkan berbagai genre musik dari pop, jazz, hingga klasik, tanpa kehilangan identitas kulturalnya.
Baca juga: Sejarah Alat Komunikasi Tradisional Kentongan di Indonesia
(NDA)
