Konten dari Pengguna

Sejarah Banten: Dari Masa Kesultanan hingga Provinsi Modern

Hendro Ari Gunawan

Hendro Ari Gunawan

Penulis yang percaya setiap kata punya kekuatan. Spesialis di bidang teknologi, personal finance, dan otomotif.

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Hendro Ari Gunawan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilstrasi sejarah banten. Foto: Unsplash
zoom-in-whitePerbesar
Ilstrasi sejarah banten. Foto: Unsplash

Sejarah Banten memiliki perjalanan panjang yang membentang dari masa kejayaan kerajaan Islam hingga menjadi provinsi tersendiri di Indonesia. Melalui berbagai fase penting, mulai dari era Kesultanan Banten, masa kolonial, hingga zaman kemerdekaan, Banten menyimpan kisah perjuangan yang luar biasa. Simak pembahasan lengkap mengenai perjalanan Banten dari masa ke masa.

1. Masa Kerajaan

Sebelum berdirinya Kesultanan Banten, wilayah barat Pulau Jawa berada di bawah kekuasaan Kerajaan Sunda Pajajaran. Mengutip buku Menelusuri Jejak Jalur Rempah di Banten (Awal Interaksi Niaga Kesultanan Banten) karya Aris Muzhia, kisah awal Banten dimulai ketika Syarif Hidayatullah atau Sunan Gunung Jati mengutus putranya, Maulana Hasanuddin, ke daerah Banten Girang untuk menyebarkan agama Islam.

Setelah banyak masyarakat Banten memeluk Islam, Maulana Hasanuddin memproklamasikan berdirinya Kesultanan Banten pada tahun 1526.

2. Berdirinya Kesultanan Banten

Menurut buku Sejarah untuk Kelas XI SMA karya Nana Supriatna, pembangunan dan pengembangan Kota Banten dilanjutkan oleh putra Maulana Hasanuddin, yaitu Maulana Yusuf, pada tahun 1570. Di bawah kepemimpinannya, wilayah Banten diperluas hingga mencakup hampir seluruh Jawa Barat.

Maulana Yusuf berhasil menaklukkan sisa kekuasaan Kerajaan Sunda Pajajaran dengan merebut kota pelabuhan Sunda Kelapa dan kemudian ibu kota Pakuan Pajajaran pada tahun 1579. Ia bahkan berupaya menaklukkan Palembang, namun usaha tersebut gagal karena Maulana Yusuf gugur dalam peperangan. Tahta Kesultanan Banten kemudian dilanjutkan oleh putranya, Maulana Muhammad, hingga akhirnya diteruskan oleh Sultan Ageng Tirtayasa.

3. Masa Kejayaan Kesultanan Banten

Puncak kejayaan Kesultanan Banten terjadi pada masa pemerintahan Sultan Ageng Tirtayasa (1651–1682). Di masa ini, Banten berkembang menjadi kerajaan maritim yang kuat dan makmur. Wilayah kekuasaannya meliputi hampir seluruh Jawa Barat, Selat Sunda, hingga Lampung.

Kesultanan Banten menjadi kota pelabuhan yang ramai dan menjadi pusat perdagangan internasional. Mereka juga meningkatkan kesejahteraan rakyat melalui politik, pembangunan pertanian, dan perdagangan. Selain itu, Banten dikenal sebagai kerajaan yang menolak keras monopoli perdagangan oleh VOC.

4. Masa Kolonial dan Runtuhnya Kesultanan Banten

Pada tahun 1680, terjadi perebutan kekuasaan antara Sultan Ageng Tirtayasa dengan putranya, Sultan Haji. Menurut buku Untung Surapati Melawan VOC Sampai Mati karya Sri Wintala Achmad, perselisihan antara ayah dan anak ini dimanfaatkan oleh VOC dengan memberikan dukungan penuh kepada Sultan Haji (Sultan Abu Nashar Abdul Qahar).

Akibatnya, perang saudara pun pecah. Dalam upaya memperkuat posisinya, Sultan Haji bahkan meminta bantuan kepada VOC dan Kerajaan Inggris. Dalam perang yang tidak seimbang ini, Sultan Ageng terpaksa mundur dari istana dan mengungsi ke pedalaman. Pada tahun 1683, Sultan Ageng Tirtasayasa tertangkap oleh VOC lalu dibuang ke Batavia.

Setelah itu, Sultan Haji naik takhta sebagai penguasa, namun kekuasaan Banten sepenuhnya berada di bawah kontrol VOC. Runtuhnya Kesultanan Banten dimulai pada awal abad ke-19 ketika pengaruh Belanda di bawah Gubernur Jenderal Hindia Belanda, Herman Willem Daendels semakin kuat

5. Setelah Kemerdekaan

Usai Indonesia merdeka, wilayah Banten bergabung dengan Republik Indonesia sebagai bagian dari Provinsi Jawa Barat. Namun, karena perbedaan identitas budaya serta ketimpangan pembangunan, muncul dorongan kuat untuk memisahkan diri dari Jawa Barat. Setelah melalui proses yang panjang, akhirnya pada 4 Oktober 2000, Banten resmi ditetapkan sebagai provinsi ke-30 di Indonesia, dengan ibu kota Serang.

Baca Juga: Sejarah Pontianak Sejak Awal Berdiri hingga Perkembangannya

(SA)