Konten dari Pengguna

Sejarah Cirebon sebagai Kota yang Kaya Budaya dan Keragaman

Hendro Ari Gunawan

Hendro Ari Gunawan

Penulis yang percaya setiap kata punya kekuatan. Spesialis di bidang teknologi, personal finance, dan otomotif.

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Hendro Ari Gunawan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi Alun-alun Kota Cirebon. Foto: Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Alun-alun Kota Cirebon. Foto: Shutterstock

Cirebon, sebuah kota pesisir di utara Jawa Barat menyimpan sejarah panjang yang kaya akan budaya dan peradaban. Perpaduan antara tradisi, perdagangan, dan pengaruh berbagai masyarakat membuat kota ini menjadi pusat kehidupan yang dinamis sejak masa lalu.

Mengacu pada laman Pemerintah Kota Cirebon, berikut ini rangkaian sejarah Kota Cirebon yang menarik untuk disimak.

Muara Jati: Titik Awal Peradaban Cirebon

Pada abad ke-14, sebuah desa nelayan kecil bernama Muara Jati menjadi cikal bakal berkembangnya Cirebon. Berdasarkan manuskrip Purwaka Caruban Nagari, pelabuhan di desa ini sudah ramai disinggahi kapal dagang dari berbagai penjuru dunia.

Ki Gedeng Alang-Alang ditunjuk oleh penguasa Kerajaan Galuh untuk mengelola pelabuhan ini. Seiring waktu, aktivitas perdagangan yang sibuk turut mendorong penyebaran agama Islam di kawasan ini, dan menandai awal mula peradaban Islam di Cirebon.

Dukuh Kecil Caruban: Awal Kota Cirebon

Menurut Sulendraningrat dalam naskah Babad Tanah Sunda dan Purwaka Caruban Nagari, Cirebon awalnya adalah sebuah dukuh kecil yang didirikan oleh Ki Gedeng Tapa. Dukuh ini lama-kelamaan berkembang menjadi sebuah perkampungan ramai.

Melihat potensi wilayah yang strategis, Ki Gedeng Alang-Alang memindahkan pemukiman dari Muara Jati ke Lemahwungkuk, sekitar 5 km ke selatan, dekat kaki bukit.

Pemukiman ini kemudian diberi nama Caruban, yang berarti “campuran” karena dihuni pendatang dari berbagai suku, agama, dan latar belakang pekerjaan.

Mayoritas penduduk di sini berprofesi sebagai nelayan, tetapi seiring waktu muncul pekerjaan lain seperti menangkap rebon (udang kecil), membuat terasi, petis, dan garam.

Dari kehidupan sehari-hari itulah, nama “Cirebon” muncul, berasal dari kata Cai (air) dan Rebon. Dukuh kecil ini pun menjadi pusat kegiatan masyarakat sekaligus cikal bakal kota yang lebih besar.

Pangeran Walangsungsang dan Berdirinya Kerajaan Cirebon

Di tengah perkembangan Dukuh Kecil, Pangeran Walangsungsang, putra Prabu Siliwangi, diangkat sebagai Adipati Cirebon dengan gelar Cakrabumi. Ia mendirikan Kerajaan Cirebon pada abad ke-15.

Keberanian dan keteguhannya dalam mempertahankan kemerdekaan wilayah ini menjadi fondasi berdirinya Kerajaan Cirebon sebagai kerajaan Islam pertama di Jawa Barat.

Keraton Kasepuhan: Simbol Kejayaan Kerajaan Cirebon

Seiring waktu, Kerajaan Cirebon terpecah menjadi beberapa kesultanan akibat konflik internal. Salah satu cabang utamanya adalah Keraton Kasepuhan, yang memegang peranan penting dalam sejarah dan budaya Cirebon.

Sebagai pusat pemerintahan, Keraton Kasepuhan dibangun di Dalem Agung Pakungwati. Keraton ini tidak hanya sebagai tempat tinggal raja, tetapi juga sebagai pusat kebudayaan dan agama.

Arsitektur keraton yang unik mencerminkan perpaduan antara budaya Jawa, Sunda, Islam, Tionghoa, dan Belanda, yang menggambarkan keragaman budaya di Cirebon.

Perkembangan Administratif Kota Cirebon: Masa Kolonial hingga Sekarang

Pada awal pemerintahan kolonial Belanda, Kota Cirebon ditetapkan sebagai Gemeente Cheribon dengan luas 1.100 hektar dan berpenduduk sekitar 20.000 jiwa.

Seiring berjalannya waktu, kota ini mengalami beberapa perluasan wilayah. Pada tahun 1942, luasnya meningkat menjadi 2.450 hektar. Kemudian, pada tahun 1957, status pemerintahan berubah menjadi Kota Praja dengan luas 3.300 hektar.

Setelah ditetapkan sebagai Kotamadya pada tahun 1965, wilayah Kota Cirebon bertambah lagi menjadi 3.600 hektar.

Hingga saat ini, Kota Cirebon memiliki luas wilayah 3.946,4 hektar yang terbagi menjadi 5 kecamatan dan 22 kelurahan. Kota ini menjadi pusat kegiatan pemerintahan, ekonomi, dan budaya di wilayah pesisir utara Jawa Barat.

Baca Juga: Mengulik Sejarah Monas, dari Pencetusan hingga Proses Pembangunannya