Sejarah Debus Banten, Seni Pertunjukan yang Lahir dari Penyebaran Islam

Penulis yang percaya setiap kata punya kekuatan. Spesialis di bidang teknologi, personal finance, dan otomotif.
·waktu baca 2 menit
Tulisan dari Hendro Ari Gunawan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Debus merupakan salah satu seni budaya khas Banten yang terkenal karena atraksi kekebalan tubuh terhadap senjata tajam maupun api. Pertunjukan ini menampilkan aksi penusukan atau pemukulan menggunakan benda tajam yang dilakukan oleh para pemainnya. Sejarah debus Banten memiliki kaitan erat dengan proses penyebaran Islam pada masa lalu. Kini, seni ini menjadi bagian penting dari warisan budaya yang terus dijaga keberadaannya. Simak uraian berikut untuk memahami bagaimana debus pertama kali muncul.
Daftar isi
Daftar isi

Daftar isi
1. Sarana Berlatih Prajurit dan Pejuang Banten
Perkembangan kesenian debus tidak bisa dipisahkan dari masa perlawanan masyarakat Banten terhadap kekuasaan Belanda. Pada masa pemerintahan Sultan Ageng Tirtayasa (1651 - 1683), debus menjadi sarana untuk membangkitkan semangat juang para prajurit.
Dalam buku Kesenian Tradisional Debus karya K. Hadiningrat yang diterbitkan Direktorat Jenderal Kebudayaan, dijelaskan bahwa Sultan Ageng Tirtayasa memperkenalkan ilmu kekebalan tubuh kepada para pengikutnya. Ilmu tersebut dipelajari melalui ayat-ayat suci Al-Qur'an yang harus dihafalkan dan dihayati secara mendalam.
Pemahaman spiritual inilah yang diharapkan dapat mempertebal tekad dan moral dalam perjuangan melawan Belanda. Dari hal tersebut, lahirnya debus dapat dipahami sebagai bagian dari upaya pertahanan rakyat Banten yang dilandasari oleh ajaran agama Islam.
2. Sarana Penyebaran Agama Islam
Selain sebagai media pelatihan para pejuang, ada pula pendapat lain yang menyatakan bahwa debus awalnya berkembang sebagai sarana dakwah. Dalam buku Sastra dan Budaya Lokal: Konstruksi Identitas Masyarakat Banten dalam Seni Pertunjukan Debus karya Syarifaeni Fahdiah, disebutkan bahwa debus mulai dikenal pada abad ke-16, pada masa pemerintahan Sultan Maulana Hasanudin (1552 - 1570).
Saat itu, sebagian besar masyarakat Banten masih menganut agama Hindu. Untuk menarik minat rakyat memeluk Islam, dibuatlah bentuk kesenian baru yang menampilkan kekuatan tubuh terhadap senjata tajam atau benda keras. Kekuatan tersebut diyakini dapat diperoleh siapa saja yang mempelajari dan mengamalkan ayat-ayat Al-Qur'an.
Meskipun semua orang diperbolehkan mempelajarinya, tidak semua berhasil menguasainya karena terdapat syarat-syarat khusus yang cukup berat. Hanya mereka yang memiliki kedisiplinan dan keteguhan hati yang dapat mencapai tingkat kekebalan tersebut.
Nama Debus sendiri berasal dari kata ad-debus dalam bahasa Arab, yang merujuk pada alat tusuk atau senjata tajam yang digunakan dalam pertunjukan. Seiring waktu, istilah tersebut menjadi nama dari keseluruhan kesenian.
Baca Juga: Sejarah Pasola Sumba, Tradisi Sakral dalam Kepercayaan Marapu
(SA)
