Sejarah Pasola Sumba, Tradisi Sakral dalam Kepercayaan Marapu

Penulis yang percaya setiap kata punya kekuatan. Spesialis di bidang teknologi, personal finance, dan otomotif.
ยทwaktu baca 3 menit
Tulisan dari Hendro Ari Gunawan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pasola Sumba merupakan ritual sakral yang melekat dalam kepercayaan Marapu dan telah berlangsung selama berabad-abad. Tradisi ini bukan sekadar permainan perang-perangan, melainkan upacara agraris yang menandai kesuburan tanah. Kajian antropologi dalam buku The Religion of the Indonesian Archipelago karya Robert W. Hefner menegaskan bahwa ritual seperti Pasola lahir dari hubungan spiritual masyarakat Sumba dengan alam, leluhur, dan siklus pertanian. Untuk mengetahui sejarah Pasola Sumba lebih lanjut, simak terus uraian berikut ini.
Daftar isi
Daftar isi

Daftar isi
Asal-Usul Sejarah Pasola
Tradisi Pasola berakar pada keyakinan bahwa darah yang jatuh ke tanah merupakan persembahan kepada leluhur untuk menjamin kesuburan padi. Pasola sudah menjadi bagian dari siklus agraris masyarakat Sumba jauh sebelum pengaruh modern.
Penelitian antropologis yang dimuat dalam Oceania Journal berjudul Ritual Warfare and Agricultural Cycles in Eastern Indonesia oleh James J. Fox menjelaskan bahwa Pasola terbentuk dari praktik peperangan ritual yang berkaitan dengan musim tanam. Temuan tersebut memperkuat bahwa Pasola bukan tradisi hiburan, tetapi bagian dari ekologi spiritual masyarakat setempat.
Legenda yang Melatarbelakangi Tradisi Pasola
Legenda yang paling terkenal adalah kisah Rambu Koba, perempuan yang terseret gelombang laut ketika menunggu suaminya. Ketika ia kembali bersama pria lain, masyarakat mengadakan Pasola sebagai simbol penyelesaian konflik.
Versi legenda ini dicatat dalam buku Encyclopedia of Mythology and Folklore of Southeast Asia karya Jan Knappert, yang menjelaskan bahwa ritus peperangan di Sumba muncul dari dinamika antarklan dan kemudian berkembang menjadi ritual perdamaian serta rekonsiliasi.
Peran Rato dan Hubungan Pasola dengan Fenomena Alam
Ritual Pasola hanya dapat dilaksanakan jika Rato, pemimpin adat, menentukan tandanya melalui kemunculan Nyale (cacing laut). Munculnya Nyale merupakan restu leluhur bahwa musim agraris siap dimulai.
Hubungan antara fenomena alam dan ritual Pasola ini dibahas dalam Journal of Ethnobiology melalui artikel Seasonal Marine Indicators in Indigenous Rituals of the Western Pacific oleh Emily R. Miller, yang menegaskan bahwa kemunculan Nyale dipakai masyarakat tradisional sebagai indikator ekologis sekaligus spiritual.
Pelaksanaan Pasola sebagai Ritual Perang Suci
Pasola dilakukan oleh dua kelompok penunggang kuda yang saling melempar lembing kayu tumpul. Masyarakat meyakini bahwa pertumpahan darah dalam Pasola merupakan simbol kesuburan dan bagian dari keseimbangan kosmos.
Riset dari Routledge Studies in Ritual and Religion berjudul Sacred Violence in Austronesian Ritual Traditions karya Markus Schindlbeck menjelaskan bahwa kekerasan simbolik dalam Pasola tidak dimaknai sebagai agresi, melainkan sebagai mekanisme menjaga harmoni alam melalui persembahan darah kepada leluhur.
Transformasi Pasola di Era Modern
Kini Pasola juga menjadi atraksi budaya yang menarik wisatawan, namun unsur sakralnya tetap dipegang penuh oleh para Rato. Pemerintah daerah hanya membantu pengaturan wisata tanpa mengubah inti ritual.
Fenomena ini dibahas dalam publikasi UNESCO Cultural Heritage Reports melalui tulisan Cultural Continuity and Tourism Management in Indigenous Ritual Sites oleh Helen Rees, yang menguraikan bagaimana komunitas seperti Sumba menjaga inti tradisi sekaligus menyesuaikan diri dengan pariwisata modern.
Baca juga: Sejarah Awal Industri Keris di Pulau Jawa dari Zaman Majapahit hingga Masa Kini
(NDA)
