Konten dari Pengguna
Sejarah Gajah Mada, Mahapatih Majapahit yang Menyatukan Nusantara
13 November 2025 14:39 WIB
·
waktu baca 3 menit
Kiriman Pengguna
Sejarah Gajah Mada, Mahapatih Majapahit yang Menyatukan Nusantara
Bagaimana sejarah Gajah Mada di masa Kerajaan Majapahit? Simak pembahasan dalam artikel ini seputar perjalanan hidupnya.Hendro Ari Gunawan
Tulisan dari Hendro Ari Gunawan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

ADVERTISEMENT
Gajah Mada adalah tokoh sentral pada Kerajaan Majapahit yang dikenal sebagai Mahapatih paling berpengaruh. Ia berperan besar membawa Majapahit mencapai masa kejayaan karena cita-citanya menyatukan seluruh Nusantara lewat Sumpah Palapa. Artikel ini akan menguraikan sejarah Gajah Mada dari seorang prajurit hingga menjadi Mahapatih.
ADVERTISEMENT
1. Asal Usul Gajah Mada
Tanggal lahir Gajah Mada tidak diketahui secara pasti dan kisah kelahirannya dipenuhi mitos. Berdasarkan Babad Arung Bondan dan Serat Pararaton yang dikutip Enung Nurhayati dalam buku Gajah Mada: Sistem Politik dan Kepemimpinan, ia disebut sebagai putra Gajah Pagon, seorang pejabat Majapahit sekaligus pengikut setia Raden Wijaya.
Sejak kecil, Gajah Mada dikenal pemberani, tangguh, dan setia. Ia mendapat pendidikan kewiraan dari ayahnya yang membentuk karakter kepemimpinannya. Berkat kemampuan dan dedikasinya, Gajah Mada kemudian dipercaya menjadi Rakryan Mahapatih dan melayani beberapa raja Majapahit, termasuk Jayanegara, Tribhuwana Wijayatunggadewi, dan Hayam Wuruk.
2. Dari Prajurit Hingga Mahapatih
Karier Gajah Mada dimulai dari pasukan Bhayangkara, pengawal khusus kerajaan. Namanya mengundang perhatian saat berhasil menyelamatkan Prabu Jayanegara dalam pemberontakan Ra Kuti, yang ingin menggulingkan raja pada tahun 1319.
ADVERTISEMENT
Atas jasanya, ia diangkat menjadi Patih Kahuripan, lalu Patih Daha, hingga akhirnya dipercaya menjadi Mahapatih Amangkubhumi Majapahit pada tahun 1334 M di masa pemerintahan Ratu Tribhuwana Wijayatunggadewi.
3. Sumpah Palapa: Cita-Cita Besar Menyatukan Nusantara
Gajah Mada dikenal luas karena Sumpah Palapa. Dalam buku Sejarah Raja-Raja Majapahit karya Sri Wintala Achmad, sumpah ini disebut sebagai program politik Gajah Mada untuk memulihkan wilayah Majapahit yang terlepas pada masa pemerintahan Dyah Wijaya dan Jayanegara, sekaligus memperluas pengaruh kerajaan ke seluruh kepulauan Nusantara.
Dalam sumpah tersebut, Gajah Mada bertekad tidak akan menikmati palapa atau rempah-rempah, yang bermakna kenikmatan duniawi, sebelum berhasil menyatukan seluruh wilayah Nusantara di bawah kekuasaan Majapahit.
4. Masa Kejayaan Majapahit
Sumpah Palapa diwujudkan melalui serangkaian ekspedisi besar. Di bawah kepemimpinan Gajah Mada, Majapahit menaklukkan atau memengaruhi banyak wilayah, seperti Bali, Lombok, Palembang, Sriwijaya, Samudra Pasai, Tamiang, Pulau Bintan, Tumasik (Singapura), Semenanjung Malaya, dan sebagian Kalimantan. Keberhasilannya menjadikan Majapahit sebagai kekuatan maritim terbesar di Asia Tenggara kala itu.
ADVERTISEMENT
5. Awal Kemunduran Gajah Mada
Kejayaan Gajah Mada mulai meredup setelah terjadinya Perang Bubat pada tahun 1357 M. Dalam buku Di Balik Runtuhnya Majapahit karya M. Rizal Qasim, peristiwa ini dijelaskan sebagai perselisihan antara Gajah Mada dan Prabu Linggabuana dari Kerajaan Sunda di Pesanggarahan Bubat, Jawa Timur.
Perang Bubat bermula ketika Raja Hayam Wuruk berniat menikahi putri Kerajaan Sunda, Dyah Pitaloka. Namun, Gajah Mada justru memiliki niat lain dengan menjadikan kedatangan rombongan Sunda sebagai tanda penyerahan diri kepada Majapahit.
Prabu Linggabuana merasa dikhianati karena perjanjian awal bukan untuk penaklukan. Hal ini berujung pada pertempuran tragis yang menewaskan seluruh rombongan Sunda, termasuk sang putri Dyah Pitaloka.
6. Akhir Hayat Gajah Mada
Perang Bubat mencoreng nama Gajah Mada dan membuatnya dinonaktifkan dari jabatannya. Ia dianggap terlalu ceroboh dalam mengambil keputusan dan lebih menuruti hasrat pribadinya.
ADVERTISEMENT
Menurut Sosok di Balik Perang karya Ratna Rengganis, Gajah Mada meninggal dunia pada tahun 1364 Masehi. Catatan Negarakretagama menyebut, ketika Raja Hayam Wuruk kembali dari upacara keagamaan di Simping, Gajah Mada sudah dalam kondisi sakit dan kemudian wafat.
(SA)

