Sejarah Gamelan: Alat Musik Tradisional Khas Indonesia

Penulis yang percaya setiap kata punya kekuatan. Spesialis di bidang teknologi, personal finance, dan otomotif.
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Hendro Ari Gunawan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Gamelan merupakan alat musik sekaligus kesenian tradisional Indonesia. Alat musik ini kerap digunakan untuk upacara ritual yang sifatnya keagamaan, pendidikan, adat, dan lain sebagainya.
Gamelan juga jadi alat musik pengiring pertunjukkan wayang sejak zaman dahulu. Lantas, bagaimana sejarah gamelan? Simak informasi selengkapnya di bawah ini.
1. Awal Kemunculan Gamelan
Dikutip dari jurnal Kesenian Musik Tradisional Gamelan Jawa sebagai Kekayaan Budaya Bangsa Indonesia susunan Gatot Iswantoro, kemunculan gamelan dimulai ketika budaya Hindu-Budha mendominasi Indonesia. Kehadirannya diduga sejak tahun 404 M di Jawa.
Penggambaran permainan gamelan pada masa itu ditunjukkan di relief Candi Borobudur dan Prambanan. Instrumennya dikembangkan pada zaman Kerajaan Majapahit hingga bentuknya sampai seperti sekarang ini.
Gamelan berasal dari kata “gamel” yang dalam bahasa Jawa artinya memukul atau menabuh. Sedangkan akhiran “an” merujuk pada kata benda. Dengan demikian, gamelan bisa diartiken sebagai alat musik yang dimainkan dengan cara dipukul atau ditabuh.
2. Gamelan dalam Mitologi Jawa
Dalam mitologi Jawa, gamelan diciptakan oleh Sang Hyang Guru, dewa yang menguasai seluruh tanah Jawa, pada era Saka. Pertama-tama, Sang Hyang Guru menciptakan gong untuk memanggil para dewa. Untuk pesan yang lebih spesifik, Sang Hyang Guru menciptakan dua gong, sehingga akhirnya terbentuk set gamelan.
3. Perkembangan Gamelan di Jawa
Gamelan yang berkembang di Jawa memiliki irama lembut. Pada umumnya, digunakan untuk mengiringi pagelaran wayang, pertunjukkan tari atau pertunjukkan lainnya.
Namun, seiring dengan perkembangannya, gamelan Jawa kemudian berdiri sendiri sebagai sebuah pertunjukkan musik. Dilengkapi dengan penyanyi yang biasa disebut Sinden.
Gamelan Jawa juga diperdengarkan sebagai alunan musik pengiring pengantin di keraton-keraton Jawa. Sampai saat ini, masyarakat Jawa masih menggunakan gamelan sebagai pengiring acara resepsi pernikahan.
Gamelan Jawa juga didukung oleh seperangkat alat musik yang dimainkan secara harmonis untuk menghasilkan nada yang indah. Berikut beberapa di antaranya:
Gendang atau Kendang, berfungsi sebagai pengatur irama dan tempo yang dimainkan.
Gong, berfungsi sebagai pemangku irama. Selain itu, bunyi gong merupakan pertanda dimulainya dan berakhirnya sebuah gending.
Suling, berfungsi sebagai pangrengga lagu.
Gambang, terdiri dari dua macam, yaitu gambang slendro dan pelog. Fungsinya sebagai pemangku lagu, memperindah lagu dengan cengkoknya, dan pembuka untuk gending-gending gambang.
Bonang, berfungsi untuk membuka atau memulai penyajian pada gending-gending tertentu serta menghias lagu.
Siter, menghasilkan nada-nada slendro dan pelog. Berperan membentuk cengkok dan dimainkan bersama gambang dalam kecepatan yang sama.
Rebab, fungsinya tidak hanya sebagai pelengkap iringan nyanyian sinden, tetapi lebih berfungsi untuk menuntun arah lagu sinden, terutama dalam tabuhan yang lirih.
Kenong, berfungsi menentukan batas-batas gatra berdasarkan bentuk gendingnya, menegaskan irama, dan mengatur tempo dari gending yang dimainkan.
Baca Juga: Cara Membedakan Gamelan Jawa dan Bali dari Sejarahnya
