Sejarah Konferensi Asia Afrika: Tonggak Solidaritas Negara-Negara Terjajah

Penulis yang percaya setiap kata punya kekuatan. Spesialis di bidang teknologi, personal finance, dan otomotif.
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Hendro Ari Gunawan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Konferensi Asia Afrika yang diselenggarakan pada 18-24 April 1955 di Bandung adalah momen bersejarah ketika 29 negara dari dua benua bersatu menyuarakan perlawanan terhadap kolonialisme. Ketika Presiden Soekarno membuka konferensi di Gedung Merdeka dengan pidato yang berapi-api, ia tidak hanya berbicara untuk Indonesia, melainkan mewakili ratusan juta jiwa yang mendambakan kemerdekaan. Konferensi ini menjadi titik balik dalam sejarah hubungan internasional, membuktikan bahwa negara-negara yang pernah dijajah mampu bersatu dan menentukan nasibnya sendiri tanpa harus tunduk pada kekuatan besar dunia. Artikel ini akan mengulas secara lengkap mengenai sejarah Konferensi Asia Afrika selengkapnya.
Daftar isi
Daftar isi

Daftar isi
Latar Belakang Konferensi Asia Afrika
Dalam jurnal Agastya yang ditulis Alfian Mahardika tentang Pengaruh Konferensi Asia Afrika Tahun 1955 Terhadap Kemerdekaan Negara-Negara Di Benua Afrika dijelaskan, gagasan Konferensi Asia Afrika lahir dari perasaan senasib sepenanggungan antara negara-negara di kawasan Asia dan Afrika sebagai dampak Perang Dunia II.
Setelah perang berakhir, dunia terpolarisasi menjadi dua blok besar: Blok Barat yang dipimpin Amerika Serikat dan Blok Timur yang dipimpin Uni Soviet. Di tengah persaingan ideologi kedua blok tersebut, negara-negara Asia dan Afrika yang baru merdeka atau masih berjuang meraih kemerdekaan membutuhkan wadah solidaritas tersendiri.
Gagasan konkret konferensi ini bermula dari Konferensi Kolombo pada April 1954 di Sri Lanka yang dihadiri oleh lima negara, yakni Indonesia, Myanmar, Sri Lanka, India, dan Pakistan. Kelima negara inilah yang kemudian menjadi penggagas dan penyelenggara Konferensi Asia Afrika. Usulan tersebut diperkuat dalam pertemuan di Bogor, di mana dibahas lebih detail mengenai tujuan konferensi dan negara-negara yang akan diundang.
Persiapan dan Pelaksanaan Konferensi
Menurut Zukhrufa Ken Satya Dien dalam jurnal Sejarah dan Budaya Universitas Malang tahun 2024 yang berjudul Suara yang Terlupakan: Memori Kolektif Para Pendukung Konferensi Asia Afrika Tahun 1955, keberhasilan konferensi tidak terlepas dari peran masyarakat lokal Bandung. Mereka dipilih berdasarkan kemampuan dan keahlian untuk mendukung berbagai aspek penyelenggaraan, mulai dari penyiapan akomodasi, konsumsi, hingga keamanan.
Pada 1 April 1955, dilakukan persiapan simbolis dengan penggantian nama gedung-gedung penting. Gedung Dana Pensiun berganti nama menjadi Gedung Dwiwarna, Gedung Concordia menjadi Gedung Merdeka, dan Jalan Raya Timur menjadi Jalan Asia Afrika. Perubahan nama ini bukan sekadar administratif, tetapi juga representasi semangat baru yang ingin ditanamkan dalam konferensi tersebut.
Jalannya Konferensi dan Tokoh-Tokoh Penting
Konferensi dibuka secara resmi oleh Presiden Soekarno pada 18 April 1955 dan dipimpin oleh Perdana Menteri Indonesia Ali Sastroamidjojo. Dalam buku The Bandung Connection karya Roeslan dijelaskan bahwa konferensi ini melibatkan tokoh-tokoh penting dunia seperti Perdana Menteri India Jawaharlal Nehru, Perdana Menteri Burma U Nu, Perdana Menteri Tiongkok Zhou Enlai, Presiden Mesir Gamal Abdel Nasser, dan banyak pemimpin lainnya.
Diskusi dalam konferensi mencakup berbagai isu penting seperti kolonialisme, perdamaian dunia, kerja sama ekonomi dan budaya, serta hak asasi manusia. Meski terdapat perbedaan ideologi dan kepentingan di antara peserta, semua sepakat untuk menyuarakan penolakan terhadap segala bentuk penjajahan dan imperialisme.
Dasasila Bandung sebagai Hasil Konferensi
Hasil terpenting dari Konferensi Asia Afrika adalah Dasasila Bandung, sepuluh prinsip dasar hubungan internasional yang disepakati oleh semua peserta. Prinsip-prinsip tersebut meliputi penghormatan terhadap hak asasi manusia, kedaulatan negara, persamaan ras dan bangsa, non-intervensi dalam urusan negara lain, hak membela diri, penolakan terhadap agresi, dan penyelesaian sengketa secara damai.
Dasasila Bandung kemudian menjadi landasan penting bagi pembentukan Gerakan Non-Blok pada tahun 1961, sebuah organisasi negara-negara yang tidak berpihak pada Blok Barat maupun Blok Timur. Prinsip-prinsip ini juga memberikan inspirasi bagi banyak negara Afrika untuk memperjuangkan kemerdekaannya pada dekade berikutnya.
Dampak terhadap Kemerdekaan Afrika
Dalam jurnal penelitiannya yang berjudul Pengaruh Konferensi Asia Afrika Tahun 1955 Terhadap Kemerdekaan Negara-Negara Di Benua Afrika , Alfian Mahardika mencatat bahwa Konferensi Asia Afrika memberikan pengaruh positif terhadap perjuangan bangsa-bangsa terjajah di Afrika.
Semangat Bandung menyadarkan rakyat Afrika akan pentingnya persatuan dalam melawan kolonialisme Eropa Barat. Setelah konferensi, gelombang kemerdekaan di Afrika semakin masif, dengan puluhan negara meraih kemerdekaan pada tahun 1960-an yang dikenal sebagai "Tahun Afrika".
Konferensi ini terbukti menjadi momentum historis yang sangat penting dalam sejarah dunia, khususnya bagi bangsa-bangsa yang berjuang melepaskan diri dari imperialisme.
Baca Juga: Peran Indonesia dalam KAA yang Berpengaruh Terhadap Dunia
(NDA)
