Konten dari Pengguna

Sejarah PRRI Permesta, Latar Belakang, dan Dampaknya untuk NKRI

Hendro Ari Gunawan

Hendro Ari Gunawan

Penulis yang percaya setiap kata punya kekuatan. Spesialis di bidang teknologi, personal finance, dan otomotif.

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Hendro Ari Gunawan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi peristiwa PRRI Permesta. Foto: Unsplash
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi peristiwa PRRI Permesta. Foto: Unsplash

Peristiwa PRRI Permesta merupakan salah satu babak penting dalam sejarah Indonesia yang menggambarkan ketegangan politik dan perjuangan daerah untuk mendapatkan otonomi dari pemerintah pusat. Gerakan ini muncul sebagai reaksi atas ketidakpuasan terhadap distribusi kekuasaan dan pembangunan yang dianggap tidak merata, khususnya antara pusat dan daerah. Munculnya PRRI Permesta menjadi bagian dari dinamika awal Orde Lama yang memperlihatkan kompleksitas hubungan antara pemerintah pusat dengan berbagai daerah di Indonesia. Artikel ini akan mengulas lebih lanjut seputar sejarah PRRI Permesta.

Daftar isi

Latar Belakang Munculnya PRRI Permesta

PRRI (Pemerintah Revolusioner Republik Indonesia) dan Permesta (Perjuangan Rakyat Semesta) muncul pada tahun 1958 sebagai gerakan yang berpusat di Sumatera Barat dan Sulawesi.

Buku PRRI-PERMESTA yang diterbitkan oleh Kusumah Hadiningrat menjelaskan bahwa ketimpangan ekonomi, politik, dan kekecewaan atas pemerintah pusat di Pulau Jawa menjadi penyebab utama lahirnya gerakan ini.

Regionalisme dan tuntutan otonomi daerah semakin menguat sebagai respons terhadap dominasi Jakarta dalam pengambilan keputusan nasional. Selain itu, kekuatan militer lokal yang merasa tidak diperhatikan posisinya turut memperkuat posisi PRRI Permesta.

Tujuan dan Aksi PRRI Permesta

Gerakan PRRI Permesta berupaya mereformasi sentralisasi kekuasaan lewat tuntutan otonomi daerah yang lebih luas dan pemerataan pembangunan. Jurnal berjudul Sejarah PRRI/Permesta a UMMAT Scientific Journals menguraikan bahwa PRRI memproklamasikan pemerintahannya sendiri pada Februari 1958, sementara Permesta yang dipimpin Letkol Ventje Sumual bertujuan memperjuangkan aspirasi rakyat Sulawesi.

Beberapa aksi militer pun dilancarkan untuk menandingi pemerintah pusat, termasuk penguasaan beberapa wilayah strategis dan pembentukan pemerintahan baru di daerah. Namun, upaya ini akhirnya berhadapan dengan operasi militer dari TNI yang bertujuan meredam gerakan tersebut.

Dampak dan Penumpasan PRRI Permesta

Penumpasan gerakan PRRI Permesta dilakukan melalui serangkaian operasi militer yang didokumentasikan secara lengkap dalam jurnal PRRI Suppression Operation in Sungai Pagar oleh Santhet.

Operasi seperti Merdeka, Tegas, dan Sadar dijalankan oleh TNI dengan tujuan mengembalikan pemerintah pusat ke kendali wilayah-wilayah yang direbut oleh pemberontak.

Konflik ini memunculkan tantangan besar bagi persatuan nasional Indonesia pada masa awal Orde Lama, namun juga menguatkan peran negara dalam mengelola keragaman daerah.

Menurut laporan kajian bertajuk Pemberontakan PRRI dan Permesta: Ketegangan Politik Di Awal Orde Lama (1957-1958) karya Subhan Rizki Dayani, dkk., meski gerakan ini berakhir dengan kekalahan PRRI dan Permesta, ia tetap menjadi refleksi penting perjuangan daerah yang ingin diakui secara politik.

Warisan Sejarah PRRI Permesta dalam Demokrasi Indonesia

Kajian ilmiah di e-jurnal Hitam Putih PRRI-Permesta: Konvergensi Dua Kepentingan susunan Faishal Hilmy Maulida menyoroti, PRRI dan Permesta sebagai gerakan yang kompleks, bukan sekadar pemberontakan, melainkan sebuah ambisi perubahan struktural dalam tata kelola negara.

Peristiwa ini mengajarkan pentingnya keseimbangan antara otoritas pusat dan otonomi daerah dalam membangun demokrasi yang inklusif. Dalam buku PRRI-Permesta, Strategi Membangun Indonesia Tanpa Komunis karya Mestika Zed juga menekankan bahwa latar belakang perjuangan PRRI Permesta tidak dapat dilepaskan dari konteks ketegangan ideologi dan politik dalam negeri pada waktu itu.

Baca juga: Sejarah Konferensi Asia Afrika: Tonggak Solidaritas Negara-Negara Terjajah

(NDA)