Sejarah Tari Saman Aceh dari Media Dakwah hingga Warisan Dunia

Penulis yang percaya setiap kata punya kekuatan. Spesialis di bidang teknologi, personal finance, dan otomotif.
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Hendro Ari Gunawan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ketika puluhan penari duduk berbaris rapi dan menggerakkan tangan mereka dengan kecepatan luar biasa dalam kesatuan ritme yang sempurna, itulah keajaiban tari saman yang telah memikat dunia. Sejarah tari saman Aceh dimulai dari dataran tinggi Gayo sebagai media penyebaran agama Islam pada abad ke-14, dan kini telah berkembang menjadi salah satu warisan budaya takbenda yang diakui UNESCO. Tari ini berasal dari kelompok etnis Gayo dari Gayo Lues, provinsi Aceh, dan biasanya ditampilkan untuk merayakan acara-acara penting dengan karakteristik ritme yang cepat dan keselarasan harmonis antar penari. Artikel ini akan mengulas lebih lanjut seputar sejarah dari tari saman Aceh.
Daftar isi
Daftar isi

Daftar isi
Syekh Saman Sang Pencipta di Abad ke-14
Mengutip buku Sejarah Kebudayaan Islam Madrasah Tsanawiyah Kelas IX karya Dr. H. Murodi, MA, sejarah tari saman Aceh tidak bisa dilepaskan dari sosok Syekh Saman, seorang ulama besar yang menciptakan tarian ini pada abad ke-14 Masehi.
Kata "Saman" sendiri berasal dari nama Sheikh Saman, seorang guru Islam terkenal dari Gayo di Aceh yang mempelajari tentang tradisi Melayu kuno seperti Ratib yaitu nyanyian-ucapan Sufi, kemudian ia menciptakan tarian ini untuk menunjukkan ajaran Islam kepada orang-orang baru di Gayo.
Pada masa ketika Islam menyebar di seluruh nusantara, Saman menjadi cara efektif untuk berbagi nilai dan ajaran melalui seni, berkembang dari permainan desa sederhana yang disebut pok ane menjadi tarian terstruktur dengan syair-syair berirama yang memuji Tuhan dan menawarkan pesan moral.
Menurut publikasi di Journal of Community Research and Service oleh Yusnizar Heniwaty, tari saman pada awalnya digunakan sebagai media dakwah kepada masyarakat lokal dengan lirik dakwah dan petuah yang menggunakan bahasa Gayo dan Arab.
Dari Ritual Keagamaan Menjadi Identitas Budaya
Berdasarkan penelitian Bintang Handayani dkk dalam jurnal The Presentation of Indonesia's Traditional Dances, tari saman yang dipengaruhi kuat oleh sistem kepercayaan Islam di Aceh awalnya hanya ditampilkan pada perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW.
Seiring perkembangan zaman, tarian ini kemudian dapat dipentaskan di acara-acara publik seperti kunjungan tamu terhormat, pernikahan, pembukaan festival, dan acara-acara penting lainnya, menjadikannya lebih dari sekadar ritual keagamaan.
Karakteristik Unik dan Struktur Pertunjukan
Menurut penelitian Margaret Kartomi dalam The Saman Gayo Lues Sitting Song-Dance and its Recognition as an Item of Intangible Cultural Heritage yang dipublikasikan di Yearbook for Traditional Music, keunikan tari saman terletak pada koreografi yang mengandalkan gerakan cepat dan terkoordinasi dari tangan, tubuh, dan kepala, tanpa penggunaan iringan musik selain nyanyian dan tepukan para penari itu sendiri.
Dalam buku Saman Kesenian dari Tanah Gayo oleh Rajab Bahry dkk, struktur pertunjukan dijelaskan dimulai dengan para penari mengumandangkan salam untuk memuji dan membesarkan nama Allah SWT.
Setelah salam, gerak mulai berkembang dengan tempo yang lambat hingga sedang, kemudian memasuki bagian uluni lagu atau kepala lagu di mana gerakan tidak terlepas dari irama lagu.
Pada babak akhir, kecepatan gerak tangan yang menghentak dada, paha, dan tepukan tangan mencapai puncaknya dengan gerakan badan ke atas dan ke bawah secara serentak maupun bersilang.
Pengakuan UNESCO dan Prestasi Internasional
Pada 24 November 2011, Yusnizar Heniwaty memberitahukan dalam Journal of Community Research and Service, UNESCO secara resmi mengakui tari tradisional Saman dari Aceh sebagai Karya Agung Warisan Lisan dan Takbenda Kemanusiaan yang membutuhkan perlindungan mendesat. Pengakuan ini memperkuat nilai tari saman tidak hanya untuk Aceh tetapi untuk seluruh nusantara Indonesia dan dunia.
Prestasi lainnya datang dari ASEAN Tourism Association yang menamai tari saman sebagai upaya pelestarian budaya ASEAN terbaik pada ASEANTA Awards for Excellence ke-25 tahun 2012. Pengakuan internasional ini membuktikan bahwa tari saman tidak hanya penting secara lokal tetapi juga regional dan global sebagai warisan budaya yang harus dilestarikan.
Baca juga: Sejarah Debus Banten, Seni Pertunjukan yang Lahir dari Penyebaran Islam
(NDA)
