Sejauh Mana Dunia Membentuk Sejarah Indonesia?

Peneliti di Pusat Riset Masyarakat dan Budaya-BRIN. Surel: hidayatullahrabbani@gmail.com
·waktu baca 5 menit
Tulisan dari HIDAYATULLAH RABBANI tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ketika membaca buku Perang Dunia I & II: Pengaruh Global dan Dampaknya terhadap Indonesia karya Izul Adib (Penerbit AHI, Februari 2025), saya berkontemplasi, dan membayangkan sebuah pertanyaan yang sebenarnya sudah lama hadir dalam berbagai kajian dan literatur sejarah Indonesia: sejauh mana perjalanan bangsa ini dibentuk oleh peristiwa-peristiwa yang berlangsung jauh di luar wilayahnya?
Buku ini berangkat dari gagasan yang sederhana. Izul Adib menulis bahwa dua perang dunia bukan hanya mengubah peta politik Eropa, tetapi juga membuka jalan bagi perubahan besar di berbagai kawasan, termasuk Indonesia. Dalam empat bab, Izul Adib mengajak pembaca mengikuti rangkaian peristiwa mulai dari persaingan negara-negara Eropa, pecahnya Perang Dunia I, lahirnya fasisme, Perang Dunia II, hingga pendudukan Jepang dan jalan menuju kemerdekaan Indonesia. Dengan bahasa yang mudah dipahami, buku ini berhasil memperlihatkan bahwa sejarah Indonesia tidak pernah benar-benar terpisah dari sejarah dunia.
Pandangan semacam ini menjadi penting, terutama karena sejarah sering diajarkan seolah-olah setiap bangsa berkembang di ruangnya sendiri. Padahal,misal pada masa era kolonial, Indonesia telah menjadi bagian dari jaringan perdagangan, politik, dan ekonomi internasional. Apa yang terjadi di Amsterdam, London, Berlin, atau Tokyo pada akhirnya turut menentukan apa yang terjadi di Batavia, Surabaya, maupun Yogyakarta.
Namun justru di titik inilah muncul pertanyaan lain yang menurut saya menarik. Apakah hubungan antara sejarah dunia dan sejarah Indonesia sesederhana hubungan sebab dan akibat? Apakah perang dunia secara langsung melahirkan kemerdekaan Indonesia? Ataukah pengaruh global selalu bekerja melalui kondisi-kondisi yang telah terbentuk di dalam masyarakat Indonesia sendiri?
Pertanyaan ini yang kemudian membuat buku Izul Adib menarik dibaca bukan hanya sebagai pengantar memahami sejarah perang dunia, tetapi juga sebagai pintu masuk untuk merefleksikan cara kita memahami sejarah Indonesia.
Sejarah menunjukkan bahwa perubahan global memang sering menjadi pemicu perubahan di Indonesia. Revolusi Industri, misalnya, meningkatkan kebutuhan Eropa terhadap bahan baku dan pasar baru. Dari situ kolonialisme berkembang semakin intensif. Di Hindia Belanda, tekanan ekonomi tersebut melahirkan kebijakan Tanam Paksa pada 1830. Namun kebijakan itu bukan semata-mata lahir karena Revolusi Industri. Belanda juga sedang menghadapi krisis keuangan setelah Perang Jawa yang menguras kas negara. Dengan kata lain, peristiwa global dan persoalan lokal saling bertemu, lalu menghasilkan kebijakan tertentu.
Hal serupa terjadi ketika Terusan Suez dibuka pada 1869. Jalur perdagangan antara Eropa dan Asia menjadi jauh lebih cepat, menjadikan Hindia Belanda semakin penting dalam ekonomi dunia. Akan tetapi, dampaknya tidak berhenti pada perdagangan. Integrasi ini juga membawa pendidikan modern, berkembangnya pers, serta munculnya kelompok terpelajar yang kemudian melahirkan organisasi-organisasi seperti Budi Utomo dan Sarekat Islam. Nasionalisme Indonesia tidak muncul tiba-tiba karena satu peristiwa, melainkan tumbuh dari perubahan sosial yang berlangsung selama puluhan tahun.
Dalam konteks inilah argumen utama Izul Adib menemukan relevansinya. Perang Dunia II memang menjadi titik balik yang membuka peluang bagi kemerdekaan Indonesia. Kekalahan Belanda dari Jepang pada 1942 mengakhiri dominasi kolonialisme yang selama berabad-abad tampak tak tergoyahkan. Kemudian, ketika Jepang menyerah pada Agustus 1945, terbuka ruang politik yang sebelumnya tidak pernah ada.
Namun ruang politik tidak otomatis melahirkan kemerdekaan. Proklamasi 17 Agustus 1945 justru lahir karena ada para pemimpin yang mampu membaca situasi, ada jaringan pergerakan yang telah dibangun sejak awal abad ke-20, ada kaum muda yang mendesak percepatan proklamasi, dan ada masyarakat yang telah memiliki kesadaran sebagai sebuah bangsa. Dunia memang berubah, tetapi perubahan itu baru berarti karena bertemu dengan kesiapan yang telah tumbuh di Indonesia.
Pola yang sama tampak pada masa-masa berikutnya. Perang Dingin memengaruhi arah politik Indonesia, tetapi konflik pada pertengahan 1960-an tidak dapat dijelaskan hanya melalui persaingan Amerika Serikat dan Uni Soviet. Ada tarik-menarik kepentingan politik dalam negeri yang sama pentingnya. Demikian pula krisis ekonomi 1997–1998. Krisis itu bermula dari gejolak finansial di Asia, tetapi dampaknya di Indonesia menjadi sangat besar karena ekonomi nasional memang sedang rapuh. Peristiwa global menjadi pemicu, sementara besarnya dampak ditentukan oleh kondisi yang sudah ada di dalam negeri.
Krisis di Rusia-Ukraina, Perang Iran vs Amerika Serikat-Israel, serta meningkatnya pengaruh Tiongkok, bukan hanya peristiwa yang jauh dari Indonesia. Semuanya berkontribusi pada fluktuasi harga energi, pangan, stabilitas perdagangan, hingga arah kebijakan luar negeri negara-negara berkembang. Dalam situasi seperti ini, Indonesia tidak berdiri di luar arus global, tetapi berada di dalamnya, tapi ikut terdampak, sekaligus harus meresponsnya dengan pilihan-pilihan kebijakan sendiri.
Memasuki abad ke-21, bentuk pengaruh dunia berubah. Jika dahulu perang dan kolonialisme menjadi saluran utama, kini hubungan itu hadir melalui pasar keuangan, teknologi digital, rantai pasok global, perubahan iklim, hingga pandemi. Pandemi COVID-19 memperlihatkan dengan jelas bahwa sebuah krisis yang bermula di satu tempat dapat mengubah kehidupan masyarakat di berbagai belahan dunia dalam waktu singkat. Akan tetapi, pengalaman setiap negara tetap berbeda. Perbedaan itu ditentukan oleh kapasitas pemerintah, kekuatan institusi, dan kondisi sosial masing-masing.
Dari rangkaian pengalaman tersebut, saya melihat tampaknya sejarah Indonesia lebih tepat dipahami sebagai hasil perjumpaan antara perubahan global dan dinamika lokal. Peristiwa-peristiwa dunia memang membuka peluang, menghadirkan tekanan, atau memicu krisis. Namun arah akhirnya selalu ditentukan oleh bagaimana masyarakat dan negara meresponsnya.
Di sinilah letak kekuatan buku Izul Adib. Buku ini mengingatkan bahwa memahami Indonesia tidak cukup hanya dengan melihat peristiwa-peristiwa yang terjadi di dalam negeri. Kita juga perlu melihat perubahan yang berlangsung di tingkat global. Meski demikian, hubungan itu mungkin dapat diperkaya lagi jika tidak dipahami sebagai alur yang sepenuhnya satu arah. Dunia memang membentuk Indonesia, tetapi Indonesia juga ikut memberi makna pada perubahan dunia melalui pengalaman kolonialnya, perjuangan kemerdekaannya, dan posisinya dalam arus dekolonisasi Asia-Afrika setelah 1945.
Pada akhirnya, memahami sejarah Indonesia bukanlah kisah tentang sebuah bangsa yang sekadar mengikuti arus dunia. Ia adalah kisah tentang bagaimana perubahan-perubahan global bertemu dengan pilihan-pilihan yang diambil manusia di tingkat lokal. Di ruang pertemuan itulah sejarah bergerak. Dan mungkin, di situlah pelajaran paling penting dari buku Izul Adib, bagaimana memahami Indonesia berarti memahami bahwa sejarah bangsa ini selalu menjadi bagian dari sejarah dunia, tetapi tidak pernah kehilangan kemampuannya untuk menentukan jalannya sendiri.
