Kumparan Logo
Konten Media Partner

Alasan Pemuda asal Lampung yang Lakukan Perjalanan 10 Bulan Keliling Indonesia

Info Dompuverified-green

comment
2
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Muhammad Rega, pemuda asal Lampung yang keliling Indonesia selama 10 bulan. Foto: Ilyas Yasin/ Info Dompu
zoom-in-whitePerbesar
Muhammad Rega, pemuda asal Lampung yang keliling Indonesia selama 10 bulan. Foto: Ilyas Yasin/ Info Dompu

Info Dompu - Muhammad Rega (25), backpacker asal Kota Bandar Lampung menjelaskan bahwa di kampung halamannya biasanya ada 3 alasan seseorang keluar daerah, terutama jika ke pulau Jawa, yakni mencari kerja, kuliah atau wisata.

Saat memutuskan hendak melakukan perjalanan keliling Indonesia sejak 27 Juni 2019 lalu, alumni Fakultas Hukum Universitas Lampung ini mengaku tidak berdasarkan ketiga alasan tersebut sehingga kepergiannya tidak banyak yang tahu.

kumparan post embed

Hanya 10 orang teman dekat yang dia beritahu mengenai rencana tersebut, sedangkan beberapa tetangganya justru merasa aneh dengan kepergiannya. Sebagai sarjana baru, para tetangganya berpandangan seharusnya ia fokus mencari pekerjaan. Posisinya sebagai relawan di YLBHI Kota Bandar Lampung terpaksa ditinggalkan dulu demi menjalankan misi perjalanan nya tersebut.

Sulung dari 2 bersaudara ini menjelaskan, ada beragam motivasi dia melakukan perjalanan keliling Indonesia selama hampir 10 bulan ini. Tetapi dia mengemukakan 3 alasan utamanya yakni untuk pembuktian diri, sangat mencintai kehidupan di desa, dan terkait dengan pekerjaannya di YLBHI. Meski dirinya juga menikmati perjalanan dengan teman lain, tapi melakukan perjalanan sendirinya sengaja dilakukannya sebagai ajang pembuktian diri.

Rega saat berada di Bogor. Foto: Dok. Rega

“Saya sebenarnya suka melakukan perjalanan dengan teman lain, tapi memang ada porsinya sendiri-sendiri, sih,” ujarnya ketika ditemui di rumah temannya di Dusun Restu Desa Tembalae Kecamatan Pajo Kabupaten Dompu, Kamis (16/4). .

Dengan melakukan perjalanan sendirian, katanya, ia sedang menantang dirinya sendiri apakah ia mampu menghadapi segala situasi sendirian, terlebih dengan kelainan genetik hemofilia yang dideritanya. Dengan perjalanan tersebut, katanya, dia hendak mengirim pesan kepada sesame penderita hemophilia agar tidak mudah menyerah dengan segala keterbatasan yang ada.

“Sebab selama ini banyak penderita hemofilia yang skeptik dengan kehidupan mereka sendiri. Hemofilia dianggap sebagai kekurangan dan membatasi termasuk melakukan hal-hal yang kita sukai,” tegasnya yakin.

kumparan post embed

Kecintaannya kepada kehidupan masyarakat desa adalah alasan perjalanan kedua Rega. Sebagai penderita hemofilia ia merasa banyak dibatasi oleh kedua orangtuanya sejak kecil, sehingga ia hendak menggenapi ‘utang’ tersebut. Pemuda ini juga mengaku kagum dengan kesederhanaan, ketulusan dan semangat hidup warga desa yang pernah ditemuinya.

“Di sebuah desa di Jawa Tengah saya pernah bertemu dengan kakek berusia 70 tahun. Sudah sepuh, tapi ia masih kuat mengangkut buntalan kayu bakar yang cukup berat. Wow kalau melihat semangat hidup seperti itu, saya jadi malu,” ujarnya.

Semangat hidup seperti itu menunjukkan betapa warga desa memiliki militansi yang luar biasa. Baginya hal-hal tersebut sangat menginspirasi hidupnya agar tidak lekas menyerah.

Ilustrasi. Pixabay

Demikian pula, dia mengaku terharu karena banyak mendapatkan bantuan, termasuk tinggal beberapa hari di rumah-rumah warga yang pernah disinggahinya di desa. Selama di perjalanan ia tidak pernah tidur di penginapan karena diberi tumpangan oleh penduduk desa yang ditemuinya.

“Inilah hebatnya jika jadi backpacker di desa. Saya sangat tersentuh dengan ketulusan mereka meski saya orang asing. Situasinya mungkin berbeda jika saya melakukan perjalanan di kota,” ujarnya.

Meski warga desa hidup dengan banyak keterbatasan, katanya, tapi ia terharu dengan ketulusan mereka. “Misalnya, saya diajak makan bersama bahkan bisa mandi di kamar yang sama dengan mereka. Baju kotor yang saya rendam eh gak taunya sudah dicuciin. Semuanya mengharukan,” ujarnya.

Karena itu, katanya, setelah kembali ke rumah di Bandar Lampung ia akan meminta orangtuanya untuk menelepon semua keluarga yang pernah menolongnya selama di perjalanan.

“Iya, nanti aku minta ke ayah bunda untuk menelepon dan ngucapin terima kasih kepada orang-orang yang telah menolongku,” harapnya.

Ilustrasi. Pixabay

Sedangkan alasan ketiga, perjalanan Rega diakuinya berhubungan dengan pekerjaannya sebagai relawan di YLBHI Kota Bandar Lampung. Sebagai aktivis kemanusiaan dia mengaku merasa tidak puas hanya bergelut dengan buku. Ia hendak menyelami lebih dalam dan lebih dekat dengan masyarakat terpinggirkan yang sering jadi kliennya seperti petani.

Pada September 2019, katanya, saat di Jakarta ia sempat bergabung dengan ribuan pendemo di Gedung DPR yang berisi 8 tuntutan antara menolak UU KUHP, Minerba, pembebasan tahanan HAM dan hak petani bersama para mahasiswa maupun petani.

Begitu pula Rega ikut aksi demo di Lapangan Gasibu, Kota Bandung yang merupakan lanjutan dari aksi demo di Jakarta. Sedangkan di Surabaya ia turut bergabung dengan puluhan ribu pendemo dari kalangan buruh yang menuntut pembatalan draf undang-undang Omnibus Law.

kumparan post embed

Rega mengaku terpanggil untuk menjadi bagian dari perjuangan kalangan marjinal. Dia juga mengaku geram dan mengkritik keras tindakan represif kepolisian saat berhadapan aksi demo tersebut.

Saat ini Rega tertahan di Dompu, NTB, karena tidak dapat melanjutkan perjalanannya karena wabah virus corona (COVID-19) yang sedang melanda Indonesia. Dia memilih menempuh jalur di wilayah timur guna menghindari pulau Jawa yang sudah tergolong zona merah penyebaran virus mematikan ini.

Rega mulai meninggalkan kota kelahirannya dan memulai perjalanan sejak 27 Juni 2019. Ia masih menyimpan impian untuk berkunjung ke desa-desa adat di Flores, Nusa Tenggara Timur. Sayangnya langkahnya harus terhenti karena wabah Corona.

-

Ilyas Yasin

***

*kumparanDerma membuka campaign crowdfunding untuk bantu pencegahan penyebaran corona virus. Yuk, bantu donasi sekarang!