Tips Keliling Indonesia ala Rega, Backpacker Pengidap Hemofilia Asal Lampung
·waktu baca 7 menit

Info Dompu - Sudah hampir 12 bulan Muhammad Rega (25) keliling Indonesia menggunakan motor matic warna birunya. Backpacker asal Kota Bandar Lampung ini sudah menyinggahi 23 desa sejak dari Provinsi Jawa Barat, Banten, Jawa Tengah, Jawa Timur, Bali dan Nusa Tenggara Barat (NTB).
Rencananya untuk mengunjungi desa adat di Nusa Tenggara Timur (NTT) terpaksa dibatalkan karena sejumlah daerah melakukan karantina wilayah akibat wabah global COVID-19. Aktivis YLBHI Kota Bandar Lampung ini tertahan sebulan lebih dan menginap di rumah temannya di Desa Tembalae Kecamatan Pajo Kabupaten Dompu, NTB. Dia tidak dapat melanjutkan perjalanan karena semua jalur transportasi ditutup karena wabah virus tersebut.
Meski punya riwayat hemofilia, tapi penyakit genetik ini tdak menghalanginya berpetualang seorang diri. Kendati gagal melanjutkan perjalanan tapi Rega mengaku puas dengan keberhasilannya melintasi banyak daerah tersebut. Dia juga bersyukur karena mendapatkan pengalaman dan bertemu dengan orang baru dari berbagai bahasa dan budaya. Ia bersyukur karena mendapat kesempatan menyapa kebudayaan Indonesia yang begitu kaya.
“Dengan capaian ini aku merasa sangat bahagia bahkan melampaui capaianku saat menyelesaikan kuliah lebih cepat maupun IPK tinggi,” terang alumni Fakultas Hukum Universitas Lampung ini ketika ditemui di rumah temannya di Dusun Restu Desa Tembalae Kecamatan Pajo Kabupaten Dompu, Senin (1/6).
Rega meninggalkan kota kelahirannya dan memulai perjalanan sejak 27 Juni 2019 dan kini bersiap hendak balik seiring mulai dibuka kembali jalur transportasi. Dari Dompu ia berencana menempuh jalan darat hingga Pulau Lombok, lalu menumpang tol laut dari Pelabuhan Lembar, Lombok Barat dan turun di Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya, setelah itu meneruskan jalan darat hingga ke Lampung.
Setelah bekerja kembali, Rega berencana untuk menabung dan melakukan perjalanan berikutnya ke Pulau Sumatera, terutama Aceh dan Padang, dan ke Pulau Kalimantan khususnya ke beberapa Desa Adat. Rega mengaku kagum dengan Sumatera karena adat dan budayanya yang begitu kaya. Tapi untuk ke Sumatera Rega berencana menggunakan mobil jeep hard top.
Dengan melakukan perjalanan, menurutnya, dirinya lebih menghargai dan menghayati makna saat berjauhan dengan keluarga. Dia juga mengakui pergeseran hobi perjalanan dulu dan sekarang.
"Kalau dulu aku datang ke tempat-tempat wisata untuk menikmati sunset dan lainnya tapi sekarang lebih untuk bertemu dengan orang-orangnya; bertemu dengan budaya yang berbeda,” ujarnya.
Rega juga mengaku terinspirasi turis asal Amerika saat bertemu di Kediri, seorang lansia berusia 70 tahun tapi punya keberanian melakukan perjalanan ke berbagai negara. Apa saja sih yang harus disiapkan seorang backpacker?
Menurut Rega berikut beberapa tipsnya:
Pertama, siapkan mental yang kuat
Menurut Rega, menempuh perjalanan sebagai backpacker sungguh tidak mudah. Berbeda dengan travelling yang bertujuan untuk wisata dan bersenang-senang, backpacker justru dilakukan karena low budget (anggaran minim) sehingga tekad membaja diperlukan untuk menghadapi berbagai kemungkinan terburuk sekalipun. Rega menyebut contoh seperti kecelakaan di perjalanan, tanpa sinyal ponsel, ditolak atau diusir.
“Aku pernah diusir waktu hendak bermalam di sebuah desa di Jawa Tengah yang baru selesai Pilkades. Aku dicurigai,” ujarnya.
Rega mengaku terinspirasi Dandy Laksono, seorang jurnalis sekaligus backpacker senior, yang menyatakan bahwa untuk mendapatkan sesuatu yang besar kita butuh pemicu yang kuat.
“Itu untuk determinasinya,“ katanya menjelaskan.
Ditambahkan, backpacker berbeda dengan liburan yang relatif tidak memerlukan persiapan mental karena tujuannya untuk bersenang-senang. Tapi menjadi backpacker, seseorang pergi untuk waktu lama hanya bermodalkan tas ransel.
Kedua, menyiapkan dana.
Besarnya dana, kata Rega, tergantung jarak yang ditempuh atau berapa lama saat melakukan perjalanan. Ia sendiri mengaku sudah menabung dana sejak 2017 untuk melakukan perjalanan tahun 2019 hingga 2020 ini. Selain dari tabungan sendiri, Rega juga mengaku mendapat dukungan beberapa temannya.
“Beberapa teman terus memantau keberadaanku dan nanya-nanya kabar. Bahkan aku dikirimi uang oleh mereka,” ujarnya.
Jika benar-benar mendesak Rega juga terpaksa minta jatah dari orang tua. Rega sempat berpikir sambil bekerja untuk menambah dana perjalanannya tapi kondisi fisiknya tidak memungkinkan sebagai penderita hemofilia.
Ketiga, tetap berpikiran jernih dan tenang saat menghadapi masalah.
Saat memutuskan jadi backpacker, kata dia, berarti kita telah memutuskan untuk meninggalkan semua kenyamanan seperti di rumah lalu melakukan perjalanan ke tempat baru, asing serta dengan segala kemungkinan yang buruk.
“Kalau di rumah kita butuh sesuatu sudah tersedia kan. Tapi saat di jalan kita harus mengusahakan sendiri semua kebutuhan,” ujarnya. Rega mengibaratkan seperti bermain catur, sebelum memindahkan bidak harus memperhitungkan dampaknya.
Sebelum memutuskan jadi backpacker, Rega sudah memperkirakan risiko serta membuat antisipasinya.
“Sebagai manusia, risiko terburuknya kan mati. Tetapi kita harus mampu mengurangi risiko tersebut misalnya jalannya santai, bagaimana cara kita membawa diri, menghadapi orang lain dan lainnya," ujarnya.
Saat kita ceroboh, katanya melanjutkan, tentu berisiko terhadap kita. Menjadi backpacker berarti kita harus mengurus diri sendiri dan bertanggung jawab atas semua tindakan dan keputusan kita. Karena itu menurutnya menjaga kesehatan juga menjadi penting karena saat kita sakit tidak ada orang lain yang akan merawat diri kita selain kita sendiri.
Karena itu, saat menghadapi masalah seorang backpacker harus tetap berpikiran jernih saat mengambil keputusan. Dia menyontohkan seperti Corona sekarang, tidak seorang pun yang membayangkan hal buruk tersebut terjadi Rega sendiri mengaku, selama tertahan di Dompu setiap malam ia harus menyusun ulang strategi perjalanannya karena wabah Corona.
Ia mesti menyusun ulang jadwal perjalanannya, mengatur segala sesuatu berkaitan dengan kepulangannya. Termasuk kemungkinan terburuk seperti tidak tersedianya kapal yang laut yang dapat ditumpangi.
“Termasuk bagaimana memilih diksi saat bernegosisiasi dengan petugas di penyeberangan,” ujarnya terkekeh.
Rega menambahkan, waktu mendapat penolakan di Jateng dirinya sempat berpikir untuk pulang. Tetapi hal itu menurutnya tidak menyelesaikan masalah.
“Mengambil keputusan pulang memang gampang. Tapi kalau dipikir-pikir lagi juga lucu karena yang mengambil keputusan jalan ini ka saya sendiri. Jadi, kalo pulang berarti integritasku sepertinya dipertaruhkan,” ujarnya tertawa.
Orangtua juga bisa jadi godaan untuk pulang. Saat menghadapi masalah di jalan mustahil menceritakannya kepada orangtua, kecuali nanti kalau sudah pulang nanti.
Keempat, karakter diri.
Sebab saat kita berada di tempat baru kita harus mampu melebur dan menyesuaikan diri dengan keadaan suatu masyarakat demi menjaga harmoni. Rega sendiri mengaku kaget dengan kemampuannya beradaptasi dengan lingkungan baru yang pernah dikunjunginya. Menurutnya karakter diri ini sangat menentukan keberhasilan seorang backpacker.
"Bayangin saja, kita jalan dengan budget yang minim, menumpang tidur dan makan, kamar mandi kita nebeng itu butuh tanggung jawab besar,” terangnya.
Terlebih, katanya, kalau target backpacker-nya di kota dimana semuanya harus dibeli.
“Nah, saat backpacker-an di desa hampir semuanya kita peroleh secara gratis seperti makan dan minum. Bagi warga desa air minum mungkin hal sepele, tapi bagi backpacker dengan dana minim semua itu sangat berarti,” katanya.
Selain itu, kata Rega, dengan karakter yang baik dirinya mendapatkan banyak kejutan seperti keluarga baru yang membuatnya terharu.
“Saat lebaran kemarin aku sempat WhatsApp dan nanya kabar di beberapa tempat yang pernah aku singgahi. Mereka kaget dan terharu, "wah ternyata kamu masih ingat kami ya", katanya ada waktu sekalian singgah,” ujar Rega menirukan kehangatan dengan orang-orang yang pernah ditemuinya.
Hal itu katanya berkaitan dengan kemampuan komunikasi, tidak hanya sekadar keberanian.
Dibadingkan teman lain, katanya, dirinya kalah karena mereka memiliki fisik dan keberanaian. Tetapi hal itu tidak cukup tanpa dibarengi kemampuan komunikasi yang baik.
Seorang backpacker menurutnya harus memiliki kemampuan berkomunikasi sehingga membangkitkan simpati dan empati orang lain sehingga mereka bersedia membantu kita.
Kelima, peralatan perjalanan
Peralatan seperti tenda, matras, hammock, sleeping bag, alat masak, kompor dan lain-lain. Peralatan yang lengkap, katanya, akan memudahkan saat di perjalanan. Misalnya jika memutuskan tinggal beberapa hari di satu desa maka peralatan tersebut akan membantu mengurangi pengeluaran.
“Jadi, jika ingin masak cukup beli bahan mentahnya saja dan bisa masak sendiri. Jika ingin istirahat dan duduk kita udah punya matras, jika kedinginan tinggal bikin kopi dan seterusnya,” ujarnya menjelaskan.
Menjawab pertanyaan, Rega menyatakan bahwa sebenarnya kondisi fisiknya sebenarnya masih dapat ditingkatkan. Caranya dengan banyak bergerak untuk memperkuat otot-ototnya. Dia mengaku malu karena tidak dapat membantu beberapa aktivitas warga yang pernah menampungnya seperti bertani atau gotong royong lantaran fisiknya yang tidak memungkinkan. Padahal dengan membantu pekerjaan mereka justru akan meningkatkan rasa persaudaraan.
“Kita gak enak karena gak bisa membantu. Itu karena penyakit bawaanku,” akunya menyesal.
Keenam, disiplin.
Hal itu karena seorang backpacker dituntut mengurus dirinya sendiri. Semuanya harus diperhitungkan seperti jam berapa harus tidur, bangun, budget tinggal berapa, pakaian yang bersih tinggal berapa dan lainnya. Begitu pula kapan berangkat dan kapan pulang. Karena itu, kata dia, melakukan sesuatu serba mengalir ala anak remaja tidak dapat diterapkan bagi backpacker.
-
Ilyas Yasin
*kumparanDerma membuka campaign crowdfunding untuk bantu pencegahan penyebaran corona virus. Yuk, bantu donasi sekarang!
