Konten dari Pengguna

5 Ciri Circle Pertemanan Toxic yang Sering Tidak Disadari

jafar abdurrahim

jafar abdurrahim

Mahasiswa semester 7 Hukum Ekonomi Syariah

ยทwaktu baca 2 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari jafar abdurrahim tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi teman toxic (sumber foto: freepik)
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi teman toxic (sumber foto: freepik)

Memiliki circle pertemanan yang sehat penting untuk menjaga kesejahteraan mental sehari-hari. Namun, tidak semua orang menyadari bahwa lingkungan pertemanannya sebenarnya membawa dampak negatif bagi dirinya sendiri.

Circle pertemanan yang toxic biasanya tidak terlihat jelas di awal. Pola-pola negatif dalam hubungan pertemanan justru sering muncul secara halus dan berlangsung lama sebelum akhirnya disadari.

Berikut lima ciri circle pertemanan toxic yang perlu diwaspadai.

1. Sering Membicarakan Orang Lain di Belakang

Salah satu tanda paling umum dari circle pertemanan toxic adalah kebiasaan bergosip atau membicarakan keburukan orang lain, termasuk anggota circle itu sendiri. Jika hal ini terjadi terus-menerus, besar kemungkinan hal serupa juga dilakukan terhadap diri kita ketika tidak ada di tempat.

2. Selalu Membandingkan Pencapaian

Circle pertemanan yang sehat semestinya saling mendukung, bukan saling membandingkan. Ciri toxic muncul ketika pencapaian salah satu anggota justru dijadikan bahan sindiran atau membuat anggota lain merasa rendah diri.

3. Sulit Menerima Perbedaan Pendapat

Dalam circle yang toxic, anggota yang memiliki pandangan berbeda cenderung dikucilkan atau dijadikan bahan cemoohan. Pola ini membuat anggota lain akhirnya memilih diam meski tidak setuju, demi menghindari konflik.

4. Dukungan yang Bersyarat

Pertemanan sehat memberi dukungan tanpa embel-embel. Sebaliknya, dalam circle toxic, dukungan sering kali hanya diberikan jika ada timbal balik tertentu, seperti keuntungan pribadi atau validasi sosial.

5. Membuat Merasa Bersalah Saat Menolak Ajakan

Ciri lainnya adalah munculnya rasa bersalah berlebihan ketika menolak ajakan atau permintaan dari anggota circle. Padahal, dalam pertemanan yang sehat, penolakan seharusnya bisa diterima tanpa perlu merasa berdosa.

Mengenali ciri-ciri di atas penting agar seseorang dapat mengevaluasi kembali lingkungan pertemanannya. Jika beberapa ciri di atas dirasa sesuai dengan kondisi yang dialami, tidak ada salahnya untuk mulai membatasi interaksi atau mencari lingkungan pertemanan yang lebih sehat.