Edukasi Gizi Arisan Telur: Guna Kurangi Kasus Stunting Desa Kesamben, Jombang

Jihan Afifah Rizki Nabila
Mahasiswi Ilmu Komunikasi Universitas Airlangga
Konten dari Pengguna
22 Juni 2024 14:59 WIB
·
waktu baca 3 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
Tulisan dari Jihan Afifah Rizki Nabila tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Pilihan daging merah atau telur? Sumber: Desain Pribadi
zoom-in-whitePerbesar
Pilihan daging merah atau telur? Sumber: Desain Pribadi
ADVERTISEMENT
sosmed-whatsapp-green
kumparan Hadir di WhatsApp Channel
Follow
Jombang, Juni 2024– Fenomena stunting masih menjadi permasalahan yang belum terselesaikan. Romadhona Rizki Riansari, sebagai Ahli Gizi di Puskesmas Desa Kesamben membagikan pendpaatnya mengenai fenomena tersebut, terutama di Kabupaten Jombang.
ADVERTISEMENT
Dhona telah bekerja sebagai nutritionist selama empat tahun. Kegiatan sehari-harinya adalah melakukan edukasi gizi kepada masyarakat melalui program puskesmas dalam bentuk penyuluhan.

Daging merah masih menjadi sumber gizi tersier

Ironi dibalik meriahnya Hari Raya Haji atau Iduladha yang identik dengan kegiatan penyembelihan hewan daging merah tidak diimbangi dengan grafik konsumsi keseharian daging merah di Indonesia dalam pemenuhan gizi. Dimana kandungan protein dan zat besi yang tinggi pada daging merah adalah kandungan penting dalam masa pertumbuhan anak.
Berdasarkan data survei yang dilakukan oleh Goodstats pada tahun 2022, konsumsi daging merah di Indonesia di Indonesia masih menduduki peringkat tiga terbawah di antara negara-negara Asia lainnya. Hal ini juga berdampak pada jatah konsumsi daging merah anak yang dikuatkan dengan hasil survei BPS pada tahun 2019 bahwa sumber konsumsi protein anak masih didominasi dengan konsumsi nasi dan makanan pendamping dari pada konsumsi langsung daging merah.
ADVERTISEMENT
Pernyataan Dhona sebagai praktisi gizi, idealnya anak-anak (balita) memenuhi kebutuhan protein dengan besaran 50-55 gram dalam satu hari. Sedangkan berdasarkan Survei Sosial Ekonomi Nasional 2019 yang menyatakan bahwa, pada kawasan kota dan desa konsumsi daging merah dalam sehari hanya sekitar 4,79 gram.
Walaupun terdapat opsi lain untuk mendapatkan protein yakni dengan daging putih atau telur. Namun, kandungan protein dan zat besi yang ada di dalamnya lebih rendah dari pada daging merah.

Perekonomian dan konflik internal keluarga dalam penentuan kualitas gizi anak

“Masalah konsumsi daging merah sebagai sumber protein, kebanyakan dari kendala ekonomi,” Ungkap Ahli Gizi asal Kabupaten Jombang tersebut pada sesi wawancara. Dhona juga menyatakan keadaan yang terkadang menyulitkan tugasnya sebagai tenaga kesehatan untuk masuk ke dalam penyelesaian masalah gizi karena adanya kaitannya dengan masalah hubungan dalam keluarga itu sendiri.
ADVERTISEMENT
“Ada orangtua yang bilang kalau, mbak saya bisa beli tempe sama tahu saja sudah bersyukur, dan hal itu yang akhirnya membuat kita mengupayakan pemenuhan gizi dengan bugdet yang sesuai dengan kemampuan masyarakat.” Jelasnya mengenai konflik internal keluarga yang kerap terjadi ini.

Kolaborasi puskesmas dengan organisasi masyarakat: Arisan telur

Kehadiran pemerintah pada kasus stunting memiliki peranan penting pada bidang pendidikan. Terkhususnya terhadap solusi pemenuhan gizi anak agar tidak hanya dianggap urusan pribadi, melainkan persoalan kolektif yang harus diselesaikan bersama.
Kegiatan Dhona sebagai seorang Ahli Gizi yang kerap melakukan penyuluhan membuahkan hasil dengan dibuatnya wadah bersosialisasi antara organisasi masyarakat dan isu masyarakat.
“Arisannya itu bayarnya pakai telur, nah, karena pihak organisasi ibu-ibu tadi sudah bekerja sama dengan pihak Puskesmas Kesamben, hasil dari arisan akan dibagikan kepada mereka yang memerlukan,” Tukas Dhona.
ADVERTISEMENT
Ia juga menyatakan jika kandungan protein dalam telur juga dapat menjadi pengganti protein yang ada pada daging merah untuk memenuhi gizi harian anak.