Apa Itu Inflasi? Ini Penjelasannya

Menyajikan beragam informasi terbaru, terkini dan mengedukasi.
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Kabar Harian tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Apa itu inflasi? Dalam ilmu ekonomi, pengertian inflasi adalah suatu proses meningkatnya harga-harga secara umum dan terus-menerus atau kontinu.
Dengan kata lain, inflasi bisa dikatakan sebagai kondisi menurunnya nilai mata uang. Kondisi ini tentunya bukan hal yang diinginkan oleh suatu negara, karena hanya akan berdampak buruk untuk masyarakat di sekitar.
Di Indonesia sendiri, inflasi sempat terjadi pada awal kemerdekaan. Pada saat itu, keadaan ekonomi Indonesia mengalami keterpurukan akibat kebutuhan masyarakatnya yang meningkat hingga 100%.
Menyadur buku Ekonomi Makro Islam karangan Husna Ni'matul Ulya, penyebab terjadinya inflasi di awal kemerdekaan Indonesia, yakni adanya tiga jenis mata uang yang beredar di masyarakat secara tidak terkendali.
Mata uang tersebut meliputi uang kertas De Javasche Bank peninggalan kolonial Belanda, uang kertas dan logam pemerintah Hindia Belanda, uang buatan Jepang, yaitu De Japansche Regering, Dai Nippon emisi 1943, dan Dai Nippon Teikoku Seibu emisi 1943.
Tiga jenis mata uang tersebut membuat kondisi ekonomi menjadi tidak stabil, terlebih Indonesia pada masa itu belum memiliki mata uang resmi.
Melihat dari kasus inflasi di atas, dapat diketahui bahwa inflasi yang stabil menjadi prasyarat bagi pertumbuhan ekonomi berkesinambungan, sehingga bisa bermanfaat untuk kesejahteraan masyarakat.
Untuk memahami lebih jelas tentang pengertian dari inflasi, simak informasi lebih lanjutnya pada artikel di bawah ini.
Pengertian Inflasi
Menyadur laman resmi Bank Indonesia, inflasi adalah kenaikan harga barang dan jasa secara umum dan terus menerus dalam jangka waktu tertentu.
Lebih jelasnya, inflasi merupakan keadaan sangat berat yang dirasakan oleh masyarakat dalam suatu negara, karena keadaan inflasi menunjukkan harga-harga barang secara umum mengalami kenaikan, sehingga masyarakat yang memiliki pendapatan tetap dan pendapatan rendah yang berdampak negatif.
Adapun teori yang dihasilkan oleh Keynes menyebutkan bahwa inflasi terjadi karena suatu masyarakat ingin hidup di luar batas kemampuan ekonominya. Keadaan seperti ini ditandai dengan permintaan masyarakat akan barang melebihi jumlah barang-barang yang tersedia, sehingga menyebabkan inflationary gap (celah inflasi).
Selama inflationary gap tetap ada, proses inflasi terus berkelanjutan. Sebagai informasi, celah inflasi terjadi karena adanya kelompok pemenang (yang terdiri dari pemerintah, pengusaha, dan buruh) yang mampu mewujudkan keinginannya karena didukung sejumlah dana.
Selain kelompok pemenang, ada juga kelompok yang kalah, yaitu kelompok yang tidak mampu berebut rezeki karena tidak dapat meningkatkan pendapatannya. Kelompok kalah tersebut terdiri dari pensiunan, pegawai negeri dan petani.
Selain teori Keynes, teori strukturalis adalah teori inflasi jangka panjang karena menyoroti sebab-sebab inflasi yang berasal dari kekakuan (infleksibilitas) struktur ekonomi suatu negara.
Menurut teori ini, ada dua ketegaran utama dalam perekonomian negara sedang berkembang yang dapat menimbulkan inflasi, yaitu kelakuan penerimaan ekspor dan kelakuan penawaran bahan makanan.
Untuk perhitungan inflasi, BPS (Badan Pusat Statistik) akan menghitung melalui link ke metadata SEKI-IHK. Meski demikian, kenaikan harga dari satu atau dua barang saja tidak dapat disebut inflasi kecuali bila kenaikan itu meluas atau mengakibatkan kenaikan harga pada barang lainnya.
Pengukuran IHK sendiri bisa dilihat berdasarkan dari the Classification of Individual Consumption by Purpose (COICOP) yang terjadi dari tujuh kelompok pengeluaran, yaitu:
Bahan makanan
Makanan jadi, minuman, dan tembakau
Perumahan
Sandang
Kesehatan
Pendidikan dan olahraga
Transportasi dan komunikasi
Di samping pengelompokan berdasarkan COICOP tersebut, BPS saat ini juga mempublikasikan inflasi berdasarkan pengelompokan lainnya yang dinamakan disagregasi inflasi.
Disagregasi inflasi dilakukan untuk menghasilkan indikator inflasi yang menggambarkan pengaruh dari faktor yang bersifat fundamental. Di Indonesia, disagregasi inflasi IHK tersebut dikelompokkan menjadi:
1. Inflasi inti
Inflasi inti adalah komponen inflasi yang cenderung menetap atau persisten (persistent component) di dalam pergerakan inflasi dan dipengaruhi oleh faktor fundamental, seperti:
Interaksi permintaan-penawaran.
Lingkungan eksternal, seperti nilai tukar, harga komoditi internasional, inflasi mitra dagang.
Ekspektasi inflasi dari pedagang dan konsumen.
2. Inflasi non-inti
Inflasi non-inti adalah komponen inflasi yang cenderung tinggi volatilitasnya karena dipengaruhi oleh selain faktor fundamental. Komponen inflasi non-inti terdiri dari:
Inflasi komponen bergejolak (valatile food), inflasi yang dominan dipengaruhi oleh shocks (kejutan) dalam kelompok bahan makanan.
Inflasi komponen harga yang diatur oleh pemerintah (administered prices), inflasi yang dominan dipengaruhi oleh shocks (kejutan) berupa kebijakan harga pemerintah.
Baca Juga: Jenis-Jenis Kebijakan Moneter untuk Mengatasi Inflasi
(JA)
Frequently Asked Question Section
Apa yang dimaksud dengan inflasi?

Apa yang dimaksud dengan inflasi?
Inflasi adalah kenaikan harga barang dan jasa secara umum dan terus menerus dalam jangka waktu tertentu.
Apa itu inflasi inti?

Apa itu inflasi inti?
Inflasi inti adalah komponen inflasi yang cenderung menetap atau persisten (persistent component) di dalam pergerakan inflasi dan dipengaruhi oleh faktor fundamental, seperti interaksi permintaan-penawaran, lingkungan eksternal, seperti nilai tukar, harga komoditi internasional, inflasi mitra dagang, dan ekspektasi inflasi dari pedagang dan konsumen.
Apa yang menjadi penyebab terjadinya inflasi?

Apa yang menjadi penyebab terjadinya inflasi?
Menyadur buku Ekonomi Makro Islam karangan Husna Ni'matul Ulya, penyebab terjadinya inflasi di awal kemerdekaan Indonesia, yakni adanya tiga jenis mata uang yang beredar di masyarakat secara tidak terkendali.
