Konten dari Pengguna

Apakah Gunung Semeru Meletus dan Sejarahnya seperti Apa?

Kabar Harian

Kabar Harian

Menyajikan beragam informasi terbaru, terkini dan mengedukasi.

ยทwaktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Kabar Harian tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi Apakah Gunung Semeru Meletus dan Sejarahnya seperti Apa, Foto:Unsplash/Tasha Marie
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Apakah Gunung Semeru Meletus dan Sejarahnya seperti Apa, Foto:Unsplash/Tasha Marie

Apakah Gunung Semeru meletus dan sejarahnya? Pertanyaan ini sering muncul ketika masyarakat mendengar adanya peningkatan aktivitas vulkanik di kawasan Jawa Timur, terutama karena gunung tertinggi di Pulau Jawa ini memang dikenal aktif dan memiliki rekam jejak erupsi yang panjang.

Setiap kali kabar mengenai asap tebal, lontaran material vulkanik, atau perubahan status muncul, rasa ingin tahu dan kewaspadaan masyarakat ikut meningkat.

Memahami apakah Gunung Semeru meletus pada periode tertentu bukan hanya soal mengetahui kejadian terbaru, namun juga tentang memahami pola alam yang telah terbentuk sejak ratusan tahun lalu.

Apakah Gunung Semeru Meletus dan Sejarahnya?

Ilustrasi Apakah Gunung Semeru Meletus dan Sejarahnya seperti Apa, Foto:Unsplash/Polina Kuzovkova

Apakah Gunung Semeru meletus dan sejarahnya seperti apa? Dikutip dari laman pendidikan-sains.fmipa.unesa.ac.id, Gunung Semeru memang mengalami erupsi signifikan pada Rabu, 19 November 2025, ketika aktivitas vulkaniknya meningkat tajam dan menghasilkan rangkaian awan panas serta lontaran material yang berdampak langsung pada wilayah di sekitarnya.

Erupsi pertama terjadi sekitar pukul 14.13 WIB dengan awan panas yang mengarah ke Sungai Besuk Kobokan. Kemudian, sekitar pukul 16.00 WIB, kolom abu menjulang hingga kurang lebih 2.000 meter di atas puncak, mencapai ketinggian sekitar 5.676 mdpl.

Aktivitas ini berlangsung tidak hanya sekali, melainkan beruntun, ditandai dengan luncuran awan panas sejauh 7 hingga 8,5 kilometer ke arah tenggara.

Pada sekitar pukul 17.00 WIB, PVMBG menetapkan status Level IV (Awas), dan proses evakuasi segera dilakukan untuk ratusan warga serta sejumlah pendaki yang masih berada di area gunung.

Secara ilmiah, Semeru merupakan gunung api aktif yang berada di zona subduksi, tempat Lempeng Indo-Australia menyusup ke bawah Lempeng Eurasia.

Tekanan magma, gas vulkanik, dan kondisi kerak bumi yang rapuh menciptakan peluang terjadinya pelepasan energi secara tiba-tiba.

Pada peristiwa ini, peningkatan kegempaan jenis guguran, letusan, dan harmonik menunjukkan adanya pergerakan material panas, terutama guguran lava pijar menuju Besuk Kobokan.

Meski pemantauan deformasi tubuh gunung terbilang stabil, aliran piroklastik yang mencapai 8,5 kilometer mengisyaratkan adanya keruntuhan material panas yang melaju cepat menuruni lereng.

Wilayah Pronojiwo dan Candipuro menjadi daerah terdampak utama. Lebih dari 765 penduduk mengungsi ke delapan titik aman, sementara sejumlah rumah, sekolah, dan fasilitas umum mengalami kerusakan akibat material panas dan lahar.

Pemerintah daerah menetapkan masa tanggap darurat selama tujuh hari, dengan radius larangan aktivitas hingga 20 kilometer di sepanjang Besuk Kobokan dan 8 kilometer dari kawah.

Awan panas yang meluncur jauh meningkatkan risiko lahar dingin, terutama ketika hujan turun dan membawa material vulkanik ke aliran sungai. Kondisi ini sangat berbahaya bagi pemukiman di jalur sungai.

Bagi mahasiswa maupun masyarakat umum, peristiwa ini menghadirkan pembelajaran penting mengenai dinamika gunung api, dampak sosial, dan urgensi kesiapsiagaan bencana.

Letusan Semeru menjadi pengingat bahwa wilayah rawan bencana memerlukan pemahaman mendalam terhadap risiko serta upaya perlindungan yang terus diperbarui. (DANI)

Baca juga: Cara Manusia Memenuhi Kebutuhan saat Belum Ada Konsep Uang