Asal-Usul Mitos Orang Jawa Tidak Boleh Menikah dengan Orang Sunda

Menyajikan beragam informasi terbaru, terkini dan mengedukasi.
ยทwaktu baca 3 menit
Tulisan dari Kabar Harian tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Menurut mitos, orang Jawa tidak boleh menikah dengan orang Sunda. Mitos ini seolah menjadi tradisi yang diwariskan secara turun-temurun. Karena itu, tak heran jika mitos ini masih dipercaya oleh sejumlah masyarakat Jawa dan Sunda.
Mengutip buku Etnologi Jawa oleh Prof. Dr. Suwardi Endraswara, M. Hum, konon kehidupan pernikahan pasangan yang melanggar mitos tersebut menjadi tidak harmonis, melarat, dan tidak bahagia. Mereka juga dipercaya akan diterpa petaka dan kesialan selama hidupnya.
Faktanya, ada banyak orang yang belum mengetahui kenapa orang Jawa tidak boleh menikah dengan orang Sunda. Sebenarnya, bagaimana asal-usul mitos tersebut?
Asal-Usul Mitos Orang Jawa Tidak Boleh Menikah dengan Orang Sunda
Mengutip jurnal Mitos Larangan Menikah antara Orang Jawa dengan Orang Sunda dalam Perspektif Masyarakat Modern tulisan Dikhorir Afnan, mitos orang Jawa tidak boleh menikah dengan orang Sunda berkaitan dengan peristiwa perang Bubat yang diperkirakan pada tahun 1357 Masehi.
Perang Bubat diawali oleh skema pernikahan politik antara Raja Majapahit, Hayam Wuruk, dengan putri Raja Sunda Prabu Linggabuana, Dyah Pitaloka Citraresmi. Hayam Wuruk mengirim surat kehormatan kepada Linggabuana untuk menyampaikan niatnya mempersunting putrinya dan meminta agar prosesi pernikahan dilangsungkan di Kerajaan Majapahit.
Tanpa curiga, Linggabuana akhirnya bersedia membawa putrinya beserta rombongan kerajaan ke Majapahit. Setibanya di Majapahit, mereka kemudian ditempatkan di Bubat Pesanggrahan.
Di sisi lain, Gajah Mada yang ditunjuk sebagai Mahapatih menganggap kedatangan rombongan Linggabuana sebagai kesempatan emas bagi dirinya untuk menaklukkan Kerajaan Sunda. Ia menganggap kedatangan Sang Raja merupakan bentuk kekalahan Sunda Galuh karena sudah menyerahkan diri kepada Majapahit.
Baca juga: Mitos Larangan Menikah di Bulan Rabiul Akhir dalam Budaya Jawa
Sikap Gajah Mada tersebut akhirnya memantik perselisihan dan memuncak menjadi peperangan. Korban berjatuhan akibat perang ini. Prabu Linggabuana gugur dalam pertempuran, sementara putrinya, Dyah Pitaloka, memilih mengakhiri hidupnya meski sempat selamat dari peristiwa berdarah tersebut.
Mendengar adanya perang, Putra Mahkota Sunda Galuh, Niskala Wastu Kencana sangat murka. Ia yakin bahwa undangan Hayam Wuruk kepada ayah dan kakak perempuannya hanyalah siasat untuk menjebak mereka. Buntutnya, Niskala memutuskan untuk menghentikan hubungan diplomatik antara Kerajaan Sunda dan Majapahit
Pada akhirnya, Perang Bubat merusak hubungan kenegaraan antara dua kerajaan tersebut. Hubungan yang buruk ini berlangsung hingga bertahun-tahun kemudian dan tidak pernah pulih seperti sedia kala. Bukan hanya itu, Perang Bubat juga menyisakan luka mendalam bagi rakyat Sunda yang merasa dikhianati dan kehilangan pemimpinnya.
Dari peristiwa itulah mitos orang Jawa tidak boleh menikah dengan orang Sunda muncul dan berkembang luas di masyarakat. Meski hanya mitos, larangan tersebut telah menjadi bagian dari tradisi yang menurun dari generasi ke generasi.
(ADS)
Baca juga: Mitos Burung Perkutut yang Dipercaya oleh Masyarakat Jawa
