Dalil Metode Hisab dan Rukyat dalam Penentuan Awal Bulan Hijriah

Menyajikan beragam informasi terbaru, terkini dan mengedukasi.
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Kabar Harian tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Dalil metode hisab dan rukyat menjadi pijakan utama dalam menentukan awal bulan Hijriah, yang memiliki peran penting dalam penentuan waktu ibadah umat Islam, seperti puasa Ramadan, Idulfitri, dan Iduladha.
Penentuan ini tidak bisa sembarangan, karena berkaitan langsung dengan kepatuhan terhadap syariat dan keseragaman pelaksanaan ibadah di masyarakat.
Metode hisab adalah perhitungan astronomis yang memanfaatkan ilmu falak untuk memprediksi posisi bulan dan matahari, sehingga mampu menentukan kapan bulan baru akan muncul.
Dalil Metode Hisab dan Rukyat di Islam
Dalil Metode Hisab dan Rukyat menjadi dasar dalam penentuan awal bulan Hijriah, isu yang kerap menimbulkan perbedaan dalam penetapan hari raya umat Islam itu.
Misalnya, pada Iduladha 1436 H/2015 di Sumatera Barat, penetapan jatuh pada empat tanggal berbeda yaitu Selasa, 22 September oleh Tharikat Naksabandi, Rabu, 23 September oleh Muhammadiyah, Kamis oleh pemerintah/Kemenag, dan Jumat di beberapa daerah seperti Pariaman.
Masing-masing pihak merasa benar menurut dalil dan metode yang diyakini, sehingga muncul pertanyaan mengapa penetapan awal Muharram 1437 H akhirnya sama, yaitu Rabu, 14 September 2015.
Kejadian ini menunjukkan bahwa walaupun yang diamati dan dihitung hanyalah bulan, pemahaman terhadap dalil dan metode bisa berbeda, sehingga membutuhkan telaahan serius karena berkaitan dengan kepentingan ibadah.
Dikutip dari jurnal yang berjudul Ayat dan Hadis Hukum Tentang Hisab dan Rukyat karya Firdaus, mengungkapkan bahwa dalam Islam penentuan awal waktu ibadah selalu terkait fenomena alam, khususnya peredaran Matahari, Bulan, dan Bumi.
Shalat fardhu maupun salat gerhana bergantung pada posisi matahari dan bayangan benda tegak, sedangkan puasa dan haji terkait awal bulan Ramadan dan Zulhijah.
Perbedaan dalam penetapan muncul karena Al-Qur’an memberikan petunjuk umum tanpa teknis operasional, sementara hadis memiliki berbagai versi, dan konteks sosiologis masa awal Islam menunjukkan keterbatasan penguasaan ilmu astronomi.
Pada saat itu, rukyat menjadi satu-satunya metode praktis, sementara hisab baru berkembang seiring kemajuan ilmu pengetahuan.
Dalil metode hisab:
وَالْقَمَرَ قَدَّرْنَاهُ مَنَازِلَ حَتَّى عَادَ كَالْعُرْجُونِ الْقَدِيمِ
“Dan telah Kami tetapkan bagi bulan manzilah-manzilah, sehingga (setelah dia sampai ke manzilah yang terakhir) kembalilah dia seperti pelapah yang tua” (QS 36:39).
اَلشَّمْسُ وَالْقَمَرُ بِحُسْبَانٍۙ
Artinya: Matahari dan bulan (beredar) menurut perhitungan. (QS. Ar Rahman: 5).
Kini, hisab memungkinkan penghitungan posisi bulan dan Matahari dengan akurat hingga detik, sehingga dapat memprediksi awal bulan, gerhana, waktu salat, dan arah kiblat.
Meski begitu, rukyat tetap digunakan oleh sebagian umat karena mengedepankan observasi langsung.
Dalam praktiknya, aliran rukyat menggunakan pengamatan hilal atau istikmal, sedangkan hisab menerapkan kriteria ijtima’, imkan al-ru’yat, dan wujud al-hilal.
Perbedaan pemahaman dan tafsir inilah yang menyebabkan tanggal sama kadang jatuh pada hari berbeda.
Dengan memahami dasar dan variasi kedua metode secara empatik dan menyadari konteks historis maupun teknisnya, perbedaan penetapan awal bulan dapat diterima sebagai bagian dari dinamika interpretasi ilmiah dan spiritual dalam Islam.
Oleh karena itu, kesadaran terhadap Dalil Metode Hisab dan Rukyat menjadi kunci untuk menjaga ketepatan ibadah sekaligus saling menghormati praktik penentuan awal bulan di tengah umat.(KIKI)
Baca juga: Kapan Arab Saudi Mulai Puasa Ramadhan 2026? Ini Penjelasannya
