Konten dari Pengguna

Doa Malam Lailatul Qadar Lengkap Arab, Latin, dan Artinya

Kabar Harian

Kabar Harian

Menyajikan beragam informasi terbaru, terkini dan mengedukasi.

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Kabar Harian tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi Doa Malam Lailatul Qadar, Foto: Shutterstock/kumparanMOM
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Doa Malam Lailatul Qadar, Foto: Shutterstock/kumparanMOM

Di sepuluh malam terakhir Ramadan, doa malam Lailatul Qadar dicari oleh umat Islam di seluruh dunia sebagai amalan doa yang dianjurkan untuk dibaca ketika berharap bertemu malam yang diyakini nilainya lebih baik dari seribu bulan.

Sebagai informasi umum, dalam hadis yang diriwayatkan Aisyah ra., Nabi Muhammad saw., menganjurkan umat Islam untuk mencari Lailatul Qadar pada malam-malam ganjil di sepuluh hari terakhir Ramadan (H.R. Bukhari).

Doa Malam Lailatul Qadar Arab, Latin dan Artinya

Ilustrasi Beribadah di Malam Lailatul Qadar, Foto: Shutterstock/kumparanMOM

Mengutip situs https://pendidikan-matematika.fmipa.unesa.ac.id, berikut bacaan doa malam Lailatul Qadar lengkap dengan teks Arab, latin, dan artinya:

Doa yang paling dianjurkan untuk dibaca ketika seorang muslim berharap mendapatkan malam Lailatul Qadar adalah doa yang diajarkan langsung oleh Nabi Muhammad kepada Aisyah binti Abu Bakar. Berikut bacaan lengkapnya:

Arab:

اَللّٰهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّيْ

Latin:

Allahumma innaka ‘afuwwun tuhibbul ‘afwa fa’fu ‘anni.

Artinya:

Ya Allah, sesungguhnya Engkau Maha Pemaaf dan menyukai pemaafan, maka maafkanlah aku.

Doa ini dianjurkan untuk dibaca berulang kali pada sepuluh malam terakhir bulan Ramadan, khususnya pada malam-malam ganjil seperti malam ke-21, 23, 25, 27, dan 29 Ramadan.

Hadis yang Menjadi Dasar Doa Lailatul Qadar

Anjuran membaca doa tersebut berasal dari hadis sahih yang diriwayatkan dari Aisyah radhiyallahu ‘anha. Beliau pernah bertanya kepada Rasulullah mengenai doa yang sebaiknya dibaca ketika seseorang berjumpa dengan malam Lailatul Qadar.

Rasulullah kemudian menjawab agar membaca doa tersebut. Hadis ini diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi, Ibnu Majah, dan Ahmad bin Hanbal dengan derajat hadis yang dinilai hasan shahih oleh para ulama.

Hal ini menunjukkan bahwa doa tersebut memiliki landasan yang kuat dalam ajaran Islam.

Makna Mendalam dari Doa Lailatul Qadar

Doa ini memiliki makna yang sangat dalam karena berfokus pada permohonan ampunan kepada Allah.

Kata “‘afuwwun” dalam doa tersebut berarti Maha Pemaaf yang tidak hanya mengampuni dosa, tetapi juga menghapusnya sepenuhnya seolah-olah dosa itu tidak pernah terjadi.

Makna ini menunjukkan harapan besar seorang hamba agar Allah benar-benar menghapus kesalahan dan memberikan kesempatan untuk memulai kehidupan yang lebih baik. Karena itulah doa ini menjadi amalan yang sangat dianjurkan pada malam Lailatul Qadar.

Waktu Terbaik Membaca Doa Lailatul Qadar

Doa ini dianjurkan dibaca pada sepuluh malam terakhir Ramadan, karena pada rentang waktu tersebut terdapat malam Lailatul Qadar yang disebut dalam Al-Qur'an sebagai malam yang lebih baik dari seribu bulan.

Penjelasan ini terdapat dalam Surah Al-Qadr yang menjelaskan keutamaan malam tersebut.

Waktu yang paling utama untuk membaca doa ini adalah pada sepertiga malam terakhir, ketika seorang muslim melakukan ibadah seperti sholat malam, membaca Al-Qur’an, berzikir, dan memanjatkan doa.

Keutamaan Membaca Doa di Malam Lailatul Qadar

Membaca doa yang diajarkan Rasulullah pada malam Lailatul Qadar memiliki keutamaan yang sangat besar. Selain menjadi bentuk permohonan ampunan kepada Allah, doa ini juga menjadi sarana mendekatkan diri kepada-Nya di malam yang penuh keberkahan.

Dengan memperbanyak doa, zikir, dan ibadah pada malam tersebut, seorang muslim berharap memperoleh rahmat, ampunan, serta pahala yang sangat besar dari Allah SWT.

Oleh karena itu, umat Islam dianjurkan memanfaatkan sepuluh malam terakhir Ramadan dengan memperbanyak amalan, termasuk membaca doa Lailatul Qadar ini. (Fikah)

Baca juga: Sakit di 10 Hari Terakhir Ramadhan, Apakah Pahala Ibadah Tetap Ada? Ini Dalilnya