Kejang pada Bayi: Ciri-Ciri, Penyebab, dan Cara Mengatasinya

Menyajikan beragam informasi terbaru, terkini dan mengedukasi.
·waktu baca 5 menit
Tulisan dari Kabar Harian tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Kejang pada bayi merupakan salah satu kelainan neurologis, di mana terjadi perubahan secara tiba-tiba pada fungsi otak, baik fungsi motorik maupun fungsi otonomik karena kelebihan pancaran listrik pada otak.
Kejang pada bayi bukanlah suatu penyakit, tetapi merupakan gejala dari gangguan saraf pusat, lokal, atau sistemik. Oleh karena itu, kenali kondisi kejangnya, temukan penyebabnya, dan berikan pertolongan terarah, bukan hanya mencoba menanggulangi kejang tersebut.
Untuk memahami lebih jelas mengenai kejang pada bayi, mulai dari ciri-ciri, penyebab, dan cara mengatasinya, simak uraian lengkapnya di bawah ini.
Ciri-Ciri Kejang pada Bayi 0-6 Bulan
Dikutip dari laman Children’s Wisconsin, kejang pada bayi terjadi karena hasil dari aktivitas listrik yang abnormal di otak sehingga mengganggu fungsi kerja otak.
Aktivitas abnormal ini tidak berada di bawah kendali bayi, dan tidak ada yang dapat dilakukan orang tua atau orang lain untuk menghentikan atau mengubahnya. Sekitar 3 sampai 5 persen bayi mungkin akan mengalami kejang ini.
Meskipun sampai sekarang belum dipastikan apa yang dapat menyebabkan kejang pada bayi, banyak dokter anak yang berpendapat bahwa epilepsi dianggap sebagai penyebab yang paling umum dari masalah ini.
Selain itu, hal-hal lainnya yang bisa memicu kejang pada bayi antara lain:
Adanya masalah pada otak
Terjadinya trauma serta komplikasi pada kelahiran
Ketidakseimbangan proses kimia dalam tubuh
Dikutip dari Buku Ajar Patologi Obstetri oleh Ida Ayu Chandranita Manuaba, kejang pada bayi baru lahir tidak banyak dijumpai dan sulit diprediksi dari mana sumbernya. Namun, serangan kejang pada bayi akan berbeda dengan yang dialami oleh orang dewasa.
Adapun ciri-ciri kejang pada bayi usia 0-6 bulan, di antaranya:
1. Mata Terlihat Berputar
Ketika bayi mengalami kejang disertai demam, biasanya kondisi matanya terlihat berputar serta tungkai kaki menjadi tampak tegang sampai menyentak-nyentak. Kondisi mata bayi yang berputar ini akan kembali seperti semula saat kejangnya sudah pulih.
Namun, perlu diwaspadai apabila mendapati mata bayi terus berputar, kondisi tubuhnya semakin kaku, serta mengalami demam di atas 38 derajat celsius yang tak kunjung turun. Sebaiknya segera membawa bayi dokter untuk mendapatkan penanganan lebih lanjut.
2. Mengeluarkan Keringat Dingin
Bayi yang mengalami kejang, umumnya akan terus mengeluarkan keringat dingin. Ketika bayi berkeringat, wajahnya akan tampak lebih pucat, bibirnya menjadi lebih kaku, serta badannya menjadi lemas karena kemampuan otot bayi menjadi melemah.
3. Menangis dan Menjerit
Ketika kondisi tubuh bayi yang tidak nyaman akibat kejang, akan membuat bayi mulai menangis maupun menjerit.
4. Tubuh Bayi Tampak Membungkuk ke Depan
Tubuh bayi yang mengalami kejang akan terlihat membungkuk ke depan atau pada bagian punggungnya seperti melengkung. Kondisi bayi yang tiba-tiba membungkuk ke depan ini bisa terjadi ketika bayi akan tidur, bangun tidur, maupun ketika akan diberi air susu ibu (ASI).
Selain itu, kaki dan tangan bayi akan menjadi kaku, serta lehernya menjadi lebih tegang.
5. Lebih Sering Muntah
Bayi muntah mungkin merupakan hal yang biasa. Namun, ketika bayi lebih sering muntah, bisa jadi karena sedang mengalami kejang.
Ketika kejang, bagian kerongkongan bayi menjadi lebih tegang, sehingga kesulitan untuk menelan ASI maupun susu formula. Akibatnya, seluruh isi perutnya pun akan dikeluarkan kembali.
Penyebab Kejang pada Bayi
Hingga kini, belum ditemukan secara pasti penyebab kejang pada bayi. Bentuk kejang pada bayi beraneka ragam, antara lain tremor, hiperaktif, mata berkedip-kedip, bayi menangis melengking, dan lainnya.
Karena sulit diterka dan beraneka ragam bentuknya, setiap kelainan gerak pada bayi dapat dianggap sebagai kejang pada bayi.
Secara klinis, kejang pada bayi dapat terjadi akibat kelainan aktivitas listrik di otak yang mengatur fungsi dan gerak tubuh. Kelainan tersebut menyebabkan gangguan pada kesadaran, sensasi, gerakan, atau perilaku yang tidak dapat dikendalikan oleh tubuh.
Pemicu dari kelainan ini umumnya adalah kerusakan saraf yang disebabkan oleh beberapa hal, yaitu:
Cedera kepala
Cacat lahir
Infeksi
Demam tinggi
Adanya masalah keseimbangan senyawa kimia dalam otak
Selain itu, kejang pada bayi juga dapat disebabkan tanpa mengalami demam terlebih dahulu. Kejang pada bayi tanpa demam disebabkan oleh dua hal, yaitu:
Kelainan pada otak, seperti trauma kepala, perdarahan di otak, dan peradangan di otak.
Kelainan yang tidak berasal dari otak, seperti gula darah rendah atau tidak stabil, keracunan, dan mengalami epilepsi.
Tidak ada makanan atau minuman yang spesifik dilarang untuk bayi yang mengalami kejang. Namun, disarankan bayi yang berusia di atas 18 bulan untuk mengonsumsi kerang agar melatih motorik halusnya dengan cara memberikan garpu dan biarkan bayi menusuknya sendiri.
Sementara, penyebab kejang pada bayi baru lahir, antara lain:
Adanya komplikasi persalinan, yaitu asfiksia (keadaan bayi tidak bernapas secara spontan dan teratur) yang menimbulkan hipoksia ensefalopati, trauma langsung susunan saraf akibat tindakan operasi.
Gangguan metabolisme, yaitu hipoglikemia (gula darah rendah) yang terjadi pada bayi.
Gangguan elektrolit, yaitu hipokalsemia (kadar kalsium dalam darah lebih rendah dari kadar normal) yang terjadi pada bayi.
Adanya infeksi, seperti tetanus neonatrum dan meningitis.
Bayi dengan kelainan kongenital, yaitu kelainan bawaan yang terjadi pada masa perkembangan janin.
Cara Mengatasi Kejang pada Bayi
Keadaan kejang pada bayi merupakan salah satu kondisi berbahaya sehingga memerlukan konsultasi dengan dokter anak dan penanganan medis lebih lanjut.
Dikutip dari Buku Ajar Neonatus, Bayi, Balita, Anak Pra Sekolah oleh Julina Br Sembiring, cara mengatasi kejang pada bayi pada dasarnya dapat dilakukan dengan beberapa tindakan sebagai berikut.
Mengatasi kejang dengan memberikan obat anti kejang-kejang, seperti diazepam, fenobarbital, dan fenotin/dilantin sesuai dosis dalam pengawasan dokter.
Menjaga jalan napas tetap bebas dengan resusitasi.
Mencari faktor penyebab kejang.
Mengobati penyebab kejang pada bayi, misalnya mengobati hipoglikemia, hipokalsemia, dan lainnya.
Sementara itu, penanganan kejang pada bayi baru lahir dapat dilakukan dengan tindakan berikut.
Bayi diletakkan dalam tempat yang hangat dan pastikan bahwa bayi tidak kedinginan.
Jalan napas bayi dibersihkan dengan tindakan pengisap lendir di seputar mulut, hidung, sampai nasofaring.
Jika bayi apnea (henti napas) dilakukan pertolongan agar bayi bernapas lagi dengan alat bantu balon dan sungkup, diberikan oksigen dengan kecepatan 2 liter per menit.
Dilakukan pemasangan infus intravena di pembuluh darah perifer di tangan, kaki, atau kepala.
Bila infus sudah terpasang diberi obat antikejang sesuai dosis.
Nilai kondisi bayi selama 15 menit, perhatikan kelainan fisik yang ada.
Dilakukan anamnesis mengenai keadaan bayi untuk mencari faktor penyebab kejang.
Bila kejang sudah teratasi, diambil bahan untuk pemeriksaan laboratorium untuk mencari faktor penyebab kejang.
(SFR)
Frequently Asked Question Section
Kejang pada bayi apakah berbahaya?

Kejang pada bayi apakah berbahaya?
Kejang pada bayi bukanlah suatu penyakit, tetapi merupakan gejala dari gangguan saraf pusat, lokal, atau sistemtik. Tidak ada yang dapat dilakukan orang tua atau orang lain untuk menghentikan atau mengubahnya.
Apa yang terjadi ketika bayi keringat dingin saat kejang?

Apa yang terjadi ketika bayi keringat dingin saat kejang?
Ketika bayi berkeringat, wajahnya akan tampak lebih pucat, bibirnya menjadi lebih kaku, serta badannya menjadi lemas karena kemampuan otot bayi menjadi melemah.
Kejang pada bayi itu seperti apa?

Kejang pada bayi itu seperti apa?
Ciri-ciri kejang pada bayi usia 0-6 tahun adalah mata terlihat berputar, mengeluarkan keringat dingin, menangis dan menjerit, tubuh bayi tampak membungkuk ke depan, dan lebih sering muntah.
