Sejarah Frankenstein yang Menarik bagi Penggemar Kisah Horor

Menyajikan beragam informasi terbaru, terkini dan mengedukasi.
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Kabar Harian tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sejarah Frankenstein yang menarik bagi penggemar kisah horor berawal dari masa ketika imajinasi dan ilmu pengetahuan bertemu dalam satu karya luar biasa.
Tokoh Frankenstein, atau lebih tepatnya makhluk ciptaan Victor Frankenstein, pertama kali muncul dalam novel karya Mary Shelley yang diterbitkan pada tahun 1818.
Cerita ini tidak hanya menjadi salah satu tonggak awal dalam genre horor dan fiksi ilmiah, tetapi juga melahirkan simbol mendalam tentang ambisi manusia, kesepian, serta batas antara kehidupan dan kematian.
Sejarah Frankenstein
Dikutip dari laman bbc.com, mengungkapkan bahwa sejarah Frankenstein tidak hanya mencatat lahirnya sebuah kisah horor klasik, tetapi juga perjalanan panjang gagasan manusia tentang penciptaan, kesepian, dan ambisi yang melampaui batas.
Kisah ini berawal pada musim panas tahun 1816, ketika Mary Wollstonecraft Godwin, yang kelak dikenal sebagai Mary Shelley, berkumpul bersama Lord Byron, Percy Shelley, dan John Polidori di Villa Diodati, tepi Danau Geneva.
Dari tantangan menulis cerita hantu, Mary menciptakan kisah Victor Frankenstein, seorang ilmuwan muda yang terobsesi menghidupkan kembali jasad mati, namun justru terperangkap dalam ketakutan dan penyesalan ketika ciptaannya menjadi simbol penderitaan dan penolakan.
Novel Frankenstein, or, The Modern Prometheus yang terbit pada 1818 menjadi titik awal lahirnya fiksi ilmiah sekaligus karya horor yang mengusik nurani.
Di dalamnya, Mary Shelley menyingkap bahaya kesombongan manusia yang ingin menandingi Sang Pencipta, serta luka batin akibat penolakan terhadap yang dianggap berbeda.
Tokoh “ilmuwan gila” dan “makhluk ciptaan” menjelma menjadi arketipe abadi dalam dunia sastra dan perfilman, menginspirasi ratusan adaptasi dari panggung teater hingga layar lebar.
Film klasik garapan James Whale pada 1931, misalnya, menegaskan citra monster bisu yang menakutkan, meskipun hal itu sekaligus menyingkirkan sisi kemanusiaan yang sebenarnya ingin disampaikan Mary Shelley.
Seiring waktu, pesan moral dalam novel ini kerap tenggelam di balik popularitas visual dan interpretasi budaya pop. Padahal, Shelley menulisnya bukan sekadar untuk menakuti, melainkan untuk menggugah empati terhadap makhluk yang ditolak oleh penciptanya dan oleh dunia.
Dalam diri sang makhluk tersimpan kerinduan untuk dicintai, sedangkan dalam diri Frankenstein terpantul kecemasan manusia terhadap hasil ciptaannya sendiri.
Kini, sutradara Guillermo del Toro mencoba menghidupkan kembali dimensi emosional tersebut melalui film terbarunya yang dibintangi Oscar Isaac dan Jacob Elordi.
Ia menafsirkan hubungan pencipta dan ciptaan sebagai kisah luka batin, keterasingan, dan pencarian kasih yang tak pernah usai. Del Toro menegaskan bahwa Frankenstein adalah kisah tentang kemanusiaan, bukan sekadar horor.
Lebih dari dua abad berlalu, sejarah Frankenstein tetap menjadi refleksi mendalam tentang ambisi, tanggung jawab, dan sisi rapuh manusia yang selalu berusaha menciptakan kehidupan, seraya bergulat dengan konsekuensi dari ciptaannya sendiri. (YOLAN)
Baca juga: Cara Manusia Memenuhi Kebutuhan saat Belum Ada Konsep Uang
