Konten dari Pengguna

Strawberry Moon 30 Juni 2026, Apakah Masih Bisa Dilihat? Cek di Sini

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Kabar Harian tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi Strawberry Moon 30 Juni 2026. Foto: Unsplash.com/Robert Wiedemann
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Strawberry Moon 30 Juni 2026. Foto: Unsplash.com/Robert Wiedemann

Strawberry Moon 30 Juni 2026 menjadi fase bulan purnama yang menghiasi langit malam sekaligus menandai purnama pertama setelah titik balik Matahari musim panas.

Fenomena langit ini selalu menarik perhatian karena menghadirkan pemandangan Bulan yang tampak rendah di cakrawala dengan warna hangat saat mulai terbit.

Momen tersebut berlangsung pada waktu tertentu sehingga pengamatan dari lokasi terbuka dapat memberikan tampilan Bulan yang lebih jelas dan memikat.

Strawberry Moon 30 Juni 2026, Fenomena Alam

Ilustrasi Strawberry Moon 30 Juni 2026. Foto: Unsplash.com/Xs Fan

Dikutip dari space.com, Strawberry Moon 30 Juni 2026 mencapai fase purnama pada 30 Juni 2026 pukul 06.57 WIB, setara dengan 23.57 GMT atau 07.57 CST.

Waktu tersebut merupakan saat Bulan berada tepat berseberangan dengan Matahari jika dilihat dari Bumi sehingga seluruh sisi yang menghadap Bumi menerima cahaya Matahari secara penuh.

Walaupun waktu puncaknya terjadi pada pagi hari di Indonesia, Bulan tetap tampak bulat dan terang pada malam sebelum maupun malam sesudah waktu puncak.

Nama Strawberry Moon bukan berarti Bulan berubah menjadi merah muda seperti buah stroberi. Sebutan tersebut berasal dari suku Algonquian di Amerika Utara yang menggunakan fase purnama bulan Juni sebagai penanda musim panen stroberi liar.

Berbagai budaya lain juga memiliki nama berbeda untuk purnama Juni, seperti Berries Ripen Moon, Green Corn Moon, Birth Moon, Horse Moon, Hot Moon, hingga Mead Moon yang berkaitan dengan musim, hasil alam, maupun tradisi setempat.

Purnama Juni termasuk salah satu Bulan purnama dengan lintasan paling rendah di langit sepanjang tahun. Kondisi itu terjadi karena waktunya sangat dekat dengan titik balik Matahari musim panas yang berlangsung sekitar 21 Juni.

Saat Matahari berada tinggi di langit pada siang hari, Bulan purnama bergerak pada lintasan yang lebih rendah ketika malam tiba. Akibatnya, Bulan tampak lebih lama berada dekat cakrawala dibandingkan purnama pada musim lain.

Cara melihat fenomena ini cukup sederhana, tetapi pemilihan lokasi sangat menentukan hasil pengamatan. Pilih tempat dengan pandangan luas ke arah tenggara tanpa terhalang gedung, pepohonan, atau perbukitan.

Bulan mulai terbit setelah Matahari terbenam di ufuk barat, kemudian bergerak melintasi langit bagian selatan sepanjang malam sebelum akhirnya tenggelam di arah barat daya menjelang fajar.

Warna Bulan sering terlihat kuning hingga jingga ketika baru muncul di dekat cakrawala.

Cahaya Bulan melewati lapisan atmosfer Bumi yang lebih tebal sehingga gelombang cahaya biru lebih banyak tersebar, sedangkan cahaya merah dan jingga lebih mudah mencapai mata.

Efek tersebut membuat Bulan tampak lebih hangat tanpa mengubah warna aslinya.

Ukuran Bulan juga sering terlihat jauh lebih besar ketika berada dekat cakrawala. Fenomena alam itu dikenal sebagai Moon Illusion, yaitu ilusi optik yang membuat Bulan tampak raksasa saat dibandingkan dengan bangunan, pepohonan, atau bentang alam di sekitarnya.

Ukuran fisik Bulan sebenarnya tidak berubah sehingga kesan membesar hanya terjadi akibat cara otak memandang objek di dekat horizon.

Purnama kali ini juga termasuk micromoon, yaitu saat Bulan purnama berada dekat titik terjauh dari Bumi dalam orbitnya. Diameter tampak Bulan memang sedikit lebih kecil dibandingkan supermoon.

Perbedaan tersebut hampir tidak dapat dibedakan hanya dengan mata sehingga kebanyakan pengamat tetap melihat Bulan berukuran normal. Bahkan, efek Moon Illusion sering membuat micromoon justru terlihat sangat besar ketika baru terbit.

Pengamatan tidak memerlukan teleskop. Mata telanjang sudah cukup untuk menikmati bentuk Bulan yang bulat sempurna.

Teropong binokular dapat membantu memperlihatkan wilayah gelap yang disebut maria atau dataran basalt hasil aliran lava purba serta garis-garis terang bekas material yang terpental akibat tumbukan meteorit miliaran tahun lalu.

Pencinta fotografi dapat mengabadikan pemandangan Bulan memakai kamera DSLR, kamera tanpa cermin, maupun ponsel pintar yang memiliki mode malam atau astronomi.

Tripod sangat membantu menjaga kamera tetap stabil sehingga hasil foto lebih tajam. Penggunaan pengatur waktu atau pemicu jarak jauh juga mengurangi getaran ketika tombol rana ditekan.

Komposisi foto akan terlihat lebih menarik jika Bulan dipadukan dengan siluet bangunan, pepohonan, atau pegunungan ketika masih rendah di cakrawala.

Langit malam saat purnama juga menyuguhkan objek menarik lain. Bintang merah Antares dapat ditemukan di langit dekat rasi Scorpius, sedangkan Altair, Vega, dan Deneb membentuk Summer Triangle yang mudah dikenali.

Planet Venus dan Jupiter tampak rendah di langit barat setelah Matahari terbenam, sementara Saturnus dan Mars dapat diamati menjelang fajar apabila langit cukup cerah.

trawberry Moon 30 Juni 2026 menjadi salah satu purnama yang layak disaksikan karena memadukan lintasan rendah, warna jingga di cakrawala, dan efek Moon Illusion yang memikat.

Momen pengamatan akan terasa lebih maksimal saat langit cerah serta cakrawala tenggara terbuka luas tanpa penghalang. (Suci)

Baca Juga: Cara Melihat Strawberry Moon 29 Juni 2026 dengan Mudah