Kumparan Logo
Konten Media Partner

6 Obat Malaria dari Medis dan Bahan Herbal

Kata Dokter

·waktu baca 6 menit

clock
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ilustrasi obat malaria di apotek. Foto: Unsplash
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi obat malaria di apotek. Foto: Unsplash

Daftar isi

Malaria adalah penyakit infeksi menular yang bisa menyebar melalui gigitan nyamuk. Kondisi ini menyebabkan pengidap malaria mengalami demam dan menggigil selama beberapa hari. Untuk menyembuhkan kondisi ini, ada beberapa obat malaria di apotik, seperti suldox tab, primaquine, hingga mefloquine.

Selain penggunaan obat-obatan, penanganan malaria juga bisa dibantu dengan berbagai bahan herbal. Bahan-bahan alami tersebut mungkin bisa membantu mengatasi gejala, tetapi belum tentu menyembuhkan penyakit.

Gejala Malaria

Ilustrasi salah satu gejala malaria adalah demam. Foto: Pexels

Malaria memiliki gejala yang cukup mirip dengan flu. Dikutip dari Centers for Disease Control and Prevention, berikut adalah beberapa gejala malaria yang perlu diwaspadai.

  • Demam

  • Panas dingin atau menggigil

  • Berkeringat

  • Sakit kepala

  • Mual dan muntah

  • Diare

  • Sakit perut

  • Nyeri otot atau sendi

  • Kelelahan

  • Detak jantung cepat

  • Batuk

Dalam beberapa kasus, malaria juga bisa mengalami komplikasi yang dapat menyebabkan gejala yang lebih berat, seperti:

  • Anemia berat

  • Gangguan pernapasan akut

  • Gagal ginjal

  • Hipoglikemia

  • Kejang

  • Panas tinggi diikuti dengan gangguan kesadaran

  • Perdarahan di hidung, gusi, atau saluran pencernaan

  • Sesak napas

Penyebab Malaria

Ilustrasi penyebab malaria adalah gigitan nyamuk yang menularkan parasit Plasmodium. Foto: Pexels

Malaria adalah penyakit menular yang disebabkan oleh keluarga parasit Plasmodium. Ada empat jenis parasit Plasmodium yang biasanya menyebabkan malaria, yaitu:

  • Plasmodium vivax

  • Plasmodium ovale

  • Plasmodium malariae

  • Plasmodium falciparum (parasit paling berbahaya)

Penyakit malaria ditularkan melalui gigitan Anopheles betina yang terinfeksi parasit tersebut. Gigitan nyamuk tersebut yang membuat parasit masuk dalam tubuh.

Setelah memasuki tubuh manusia, parasit Plasmodium menuju ke organ hati untuk berkembang menjadi bentuk yang lebih matang. Setelah masa inkubasi di hati, parasit ini kemudian memasuki aliran darah dan menginfeksi sel darah merah.

Selama berada di dalam sel darah merah, parasit Plasmodium berkembang biak dan memecahkan sel darah merah yang terinfeksi. Kondisi inilah yang menimbulkan sejumlah gejala, seperti demam, menggigil, dan badan lemas.

Selain gigitan nyamuk, parasit pada malaria juga bisa disebarkan melalui donor organ, transfusi darah, berbagi pemakaian jarum suntik, hingga janin yang terinfeksi dari ibunya.

Faktor Risiko Malaria

Ilustrasi gigitan nyamuk yang menyebabkan malaria. Foto: Pexels

Malaria adalah penyakit menular yang dapat menyerang semua kalangan. Namun, ada beberapa faktor yang dapat meningkatkan risiko terinfeksi malaria, di antaranya:

1. Lokasi Geografis

Faktor risiko utama untuk terkena malaria adalah tinggal di daerah yang rawan penyakit malaria. Menurut World Health Organization, beberapa wilayah yang rentan terhadap malaria termasuk:

  • Sub-Sahara Afrika

  • Asia Selatan dan Asia Tenggara

  • Kepulauan Pasifik

  • Amerika Tengah dan Amerika Selatan bagian utara

Tingkat risiko penularan malaria bergantung pada seberapa baik pengendalian malaria yang dilakukan di daerah tersebut dan langkah-langkah pencegahan yang diterapkan untuk menghindari gigitan nyamuk.

2. Kelompok Usia

Kelompok usia tertentu, seperti anak kecil, bayi, dan orang lanjut usia, berisiko lebih tinggi terkena penyakit malaria. Hal ini karena sistem kekebalan tubuh mereka belum sepenuhnya berkembang atau melemah karena faktor usia.

3. Akses Terbatas terhadap Perawatan dan Pencegahan Malaria

Kurangnya akses terhadap perawatan medis, tindakan pencegahan, dan informasi yang tepat dapat meningkatkan risiko seseorang terkena malaria. Hal ini sering terjadi di daerah dengan sistem kesehatan yang terbatas atau infrastruktur yang buruk.

Obat Malaria di Apotik

Ilustrasi obat-obatan malaria. Foto: Unsplash

Menyadur laman Kementerian Kesehatan RI, jumlah penderita malaria cenderung menurun dari tahun ke tahun. Namun, masih banyak yang menderita malaria di beberapa provinsi di wilayah timur, seperti Papua dan Papua Barat. Sementara, provinsi DKI Jakarta dan Bali sudah masuk ke dalam kategori provinsi bebas malaria.

Untuk mencegah terjadinya komplikasi yang membahayakan, malaria perlu ditangani secepat mungkin. Penanganan malaria sendiri bisa dilakukan dengan mengonsumsi obat antimalaria.

Obat-obatan tersebut ditentukan berdasarkan penyebab, usia, kondisi sedang hamil atau tidak, hingga tingkat keparahannya.

Lantas, apa saja obat malaria di apotek yang paling ampuh untuk dikonsumsi guna mencegah penyebaran infeksi? Berikut informasinya, seperti yang dikutip dari berbagai sumber.

1. Doxycycline

Menurut National Library of Medicine, doxycycline adalah obat antibiotik yang digunakan untuk mengatasi berbagai penyakit yang disebabkan oleh infeksi bakteri, salah satunya malaria. Obat ini bekerja dengan cara menghambat pertumbuhan bakteri yang dapat menyebabkan infeksi.

Kendati demikian, ada beberapa efek samping yang dapat dirasakan dari mengonsumsi obat doxycycline, di antaranya:

  • Perubahan warna gigi, namun jangan khawatir karena sifatnya hanya sementara

  • Nafsu makan yang berkurang

  • Mual dan muntah

  • Sensitif terhadap sinar matahari

  • Rasa gatal di area vagina

2. Suldox Tab

Obat malaria dari apotek yang selanjutnya adalah suldox tab. Menyadur MedSpace, obat malaria ini dapat digunakan untuk mengobati serangan akut malaria falciparum yang sudah resisten terhadap klorokuin.

Dengan kata lain, suldox tab bisa dikatakan sebagai golongan obat keras. Jadi, pembelian obat ini memerlukan resep dokter. Obat ini tidak dapat dikonsumsi oleh pasien yang mengalami gangguan hati, ginjal, ibu yang sedang hamil, dan bayi di bawah 2 tahun.

Lebih jelasnya, berikut beberapa efek samping yang dapat dirasakan dari mengonsumsi obat suldox tab.

  • Sindrom Steven-Johnson, efek samping langka yang ditandai dengan gejala flu, ruam kemerahan, dan lepuh

  • Gatal di sebagian tubuh

  • Pusing hingga sekeliling terasa berputar atau vertigo

  • Nyeri sendi

  • Mual dan muntah

3. Mefloquine

Obat mefloquine adalah obat yang digunakan untuk mengatasi malaria akibat parasit Plasmodium dari gigitan nyamuk. Obat ini bekerja dengan cara mengganggu pertumbuhan parasit pada sel darah merah.

Mefloquine tidak disarankan untuk pengidap jantung, depresi, hingga anxiety. Efek samping yang dirasakan ketika mengonsumsi mefloquine, di antaranya:

  • Nyeri sendi, otot, hingga kulit melepuh

  • Batuk, suara serak, hingga pusing dan demam

  • Munculnya halusinasi

  • Sulit buang air kecil

  • Munculnya gangguan penglihatan dan pendengaran

Obat Malaria Herbal

Ilustrasi salah satu obat malaria herbal adalah kayu manis. Foto: Pexels

Selain mengonsumsi obat-obatan, bahan-bahan herbal juga bisa membantu penyembuhan malaria. Artinya, pengidap tetap memerlukan pengobatan yang tepat dari dokter, sebelum mengonsumsi bahan-bahan alami ini.

Lebih jelasnya, berikut beberapa obat malaria herbal yang bisa dikonsumsi, seperti yang dikutip dari berbagai sumber.

1. Pepaya

Menurut penelitian dari Journal of Tropical Medicine, pepaya bisa menjadi obat herbal malaria usai dikombinasikan dengan tanaman daun Afrika (Vernonia amygdalina).

Studi yang dilakukan pada tikus tersebut menunjukkan hasil bahwa ekstrak pepaya dapat mengurangi jumlah parasit di dalam tubuh, serta mencegah kerusakan pada hati.

2. Kayu Manis

Selain pepaya, kayu manis juga bisa dijadikan alternatif lain untuk mengatasi malaria. Menurut laman WebMD, kayu manis memiliki sifat anti inflamasi dan zat anti parasit yang mampu menghambat perkembangbiakan parasit.

Selain itu, kayu manis mengandung sifat antioksidan yang mencegah kerusakan sel di dalam tubuh.

3. Kunyit

Kunyit termasuk bumbu dapur yang memiliki manfaat untuk kesehatan tubuh, salah satunya untuk melawan infeksi parasit Plasmodium yang menyebabkan malaria.

Menurut studi dari jurnal Systematic Reviews in Pharmacy, kandungan kurkumin di dalam kunyit diyakini bisa membasmi jenis parasit Plasmodium.

Baca Juga: Kenali 4 Jenis Malaria dan Cara Mengobatinya

Cara Mencegah Malaria

Ilustrasi mengoleskan obat nyamuk untuk mencegah malaria. Foto: Unsplash

Malaria merupakan penyakit infeksi serius yang dapat mengancam jiwa. Untuk melindungi diri dari penyakit ini, ada beberapa cara mencegah malaria yang bisa dilakukan, di antaranya:

  • Gunakan pakaian tertutup yang dapat melindungi tubuh Anda dari gigitan nyamuk, seperti celana panjang, kemeja lengan panjang, dan kaos kaki.

  • Oleskan obat nyamuk pada kulit yang terbuka. Pilih produk yang mengandung bahan aktif seperti DEET, picaridin, IR3535, minyak lemon eucalyptus (OLE), para-menthane-3,8-diol (PMD), atau 2-undecanone. Pastikan untuk mengikuti petunjuk penggunaan yang tertera pada kemasan obat.

  • Gunakan semprotan yang mengandung permetrin pada pakaian Anda. Semprotan ini dapat memberikan perlindungan tambahan agar nyamuk menjauhi tubuh Anda.

  • Gunakan kelambu saat tidur untuk menghindari gigitan nyamuk, terutama saat Anda tidur di wilayah dengan risiko penularan malaria. Pastikan kelambu tersebut diberi perlindungan insektisida, seperti permetrin, untuk meningkatkan efektivitasnya.

Artikel ini telah direview oleh dr. Mikhael Yosia, BMedSci, PGCert, DTM&H.

(JA & SFR)

Frequently Asked Question Section

Sakit malaria harus minum obat apa?

chevron-down

Pengidap malaria perlu mengonsumsi obat-obatan, seperti doxycycline, suldox tab, hingga mefloquine.

Apakah kunyit bisa mengobati malaria?

chevron-down

Kunyit termasuk bumbu dapur yang memiliki manfaat untuk kesehatan tubuh, salah satunya untuk melawan infeksi parasit plasmodium yang menyebabkan malaria.

Apa itu malaria?

chevron-down

Malaria adalah penyakit infeksi menular yang bisa menyebar melalui gigitan nyamuk.