Penyebab Diabetes Insipidus Berdasarkan Jenis dan Cara Mencegahnya

Konten Media Partner
9 November 2022 11:40
·
waktu baca 4 menit
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
Ilustrasi seorang yang menderita diabetes insipidus akan menyebabkannya sering buang air kecil. Foto: Unsplash
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi seorang yang menderita diabetes insipidus akan menyebabkannya sering buang air kecil. Foto: Unsplash
ADVERTISEMENT
Diabetes insipidus adalah suatu kondisi langka pada ginjal yang disebabkan oleh kekurangan hormon antidiuretik akibat gangguan pada kelenjar pituitari. Hal ini menyebabkan kinerja ginjal untuk menyerap air menjadi berkurang.
ADVERTISEMENT
Diabetes insipidus ditandai dengan pembentukan urine yang berlebihan. Kondisi ini membuat penderitanya selalu merasa haus dan sering buang air kecil dalam jumlah banyak, bahkan bisa mencapai 20 liter dalam sehari.

Penyebab Diabetes Insipidus

Diabetes insipidus menyebabkan tubuh tidak dapat menyeimbangkan kadar cairan. Penyebab penyakit ini tergantung pada jenis diabetes insipidus yang diderita.
Mengutip jurnal Diabetes Insipidus: The Other Diabetes oleh Sanjay Kalra, dkk., diabetes insipidus dibagi menjadi empat jenis, yaitu diabetes insipidus sentral, diabetes insipidus netrogenik, diabetes insipidus gestasional, dan diabetes insipidus dipsogenik. Berikut masing-masing penjelasannya:
Ilustrasi diabetes insipidus terjadi di ginjal. Foto; Unsplash
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi diabetes insipidus terjadi di ginjal. Foto; Unsplash

1. Diabetes Insipidus Sentral

Diabetes insipidus sentral disebabkan oleh rusaknya kelenjar hipofisis atau hipotalamus dalam otak. Kerusakan ini menyebabkan kurangnya hormon antidiuretik (ADH). Contoh penyebab diabetes insipidus yang berkaitan dengan kerusakan hipotalamus antara lain:
ADVERTISEMENT
  • Adanya kerusakan pada hipotalamus yang bertugas menghasilkan hormon antidiuretik
  • Tumor otak
  • Infeksi seperti tuberkolosis, meningtis, dan echepalitis
  • Operasi bedah pada kepala
  • Arteri yang mengeras
Umumnya yang mendorong terjadinya diabetes insipidus sentral adalah kerusakan pada otak yang diikuti atau disebabkan oleh tumor, bedah pada kepala, infeksi pada hipotalamus, dan sebagainya.
Pada kasus tertentu, diabetes insipidus sentral disebabkan oleh kelainan genetik. Diabetes insipidus sentral dengan kelainan ini mudah ditemukan pada anak-anak.

2. Diabetes Insipidus Nefrogenik

Berbeda dengan diabetes insipidus sentral, diabetes insipidus nefrogenik biasanya diikuti dengan adanya gangguan pada ginjal yang disertai keluarnya air kemih yang encer. Kerusakan ini membuat ginjal tidak mampu merespons hormon antidiuretik. Beberapa faktor penyebabnya antara lain:
  • Faktor genetik. Kelainan pada penderita diabetes insipidus nefrogenik karena faktor genetik terlihat ketika penderitanya baru lahir atau sesaat setelah kelahiran. Penderita diabetes ini biasanya berjenis kelamin laki-laki dan perempuan bertindak sebagai pembawa gen.
  • Faktor obat-obatan. Obat-obat tertentu seperti litium, declomycin, oxoflacyn, orlistat, dan tetrasiklin bisa menyebabkan diabetes insipidus. Pada banyak kasus, obat-obatan ini hanya mendorong terjadinya diabetes insipidus nefrogenik.
  • Kurangnya kadar potasium dalam tubuh.
  • Kelebihan kalsium dalam tubuh (hiperkalsemia).
  • Gangguan ginjal. Pada penderita diabetes insipidus ini, gejala yang terjadi adalah kehausan yang berlebihan dan jumlah urine yang terbuang bisa mencapai 3-15 liter per hari. Jika penderita tidak mengonsumsi minuman dengan baik, maka mereka bisa saja mengalami dehidrasi, pusing, berat badan berkurang, lelah, dan suhu tubuh yang rendah.
ADVERTISEMENT

3. Diabetes Insipidus Gestasional

Diabetes insipidus gestasional terjadi karena enzim yang dibuat oleh plasenta malah menghancurkan hormon antidiuretik pada ibu hamil. Penyakit ini biasanya akan muncul pada ibu hamil saat trimester ketiga kehamilan (usia kandungan 6-9 bulan).
Pada dasarnya, ibu yang sedang hamil sering buang air kecil pada malam hari karena tumbuhnya fetus. Mereka pun bisa mengalami pusing, mual, dan tubuhnya terasa lemah jika mengalami kelebihan cairan.
Penyakit ini biasanya akan sembuh setelah 4-6 minggu kelahiran bayi. Jika seorang ibu mengalaminya, ia mungkin akan menderita penyakit ini lagi pada kehamilan berikutnya.

4. Diabetes Insipidus Dipsogenik

Diadetes insipidus dipsogenik terjadi karena kerusakan hipotalamus dalam mengatur rasa haus pada seseorang. Karena kerusakan yang terjadi sama-sama pada otak, kondisi ini sulit dibedakan dengan diabetes insipidus sentral.
ADVERTISEMENT
Otak akan membuat penderita merasa sering kehausan. Sayangnya, diabetes insipidus dipsogenik belum dapat disembuhkan. Hingga kini, belum ada cara pengobatan yang berhasil ditemukan untuk diabetes insipidus dipsogenik.
Perawatan yang dilakukan ditujukan untuk mencegah terjadinya dehidrasi yang bisa mengakibatkan berbagai macam komplikasi. Baik diabetes insipidus dipsogenik maupun diabetes insipidus gestasional adalah jenis diabetes insipidus yang jarang ditemukan.
Banyak orang lebih familiar dengan diabetes insipidus sentral dan nefrogenik di samping bahwa diabetes insipidus sendiri pun tidak seterkenal diabetes melitus. Karena itu, istilah diabetes lebih banyak ditujukan untuk diabetes melitus dan bukan insipidus.

Cara Mencegah Diabetes Insipidus

Ilustrasi salah satu cara mencegah diabetes insipidus adalah melakukan yoga. Foto: Unsplash
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi salah satu cara mencegah diabetes insipidus adalah melakukan yoga. Foto: Unsplash
Pada dasarnya, tidak ada cara khusus untuk mencegah diabetes insipidus. Dalam kebanyakan kasus, diabetes insipidus adalah kondisi permanen dan kemungkinan besar tidak akan dapat dicegah.
ADVERTISEMENT
Dikutip dari jurnal Diabetes Insipidus: Pathogenesis, Diagnosis, and Clinical Management oleh Cody M. Mutter, dkk., diabetes insipidus sering kali dikaitkan dengan masalah kesehatan lain, seperti fungsi ginjal yang tidak normal atau tumor.
Oleh sebab itu, ada beberapa cara mencegah diabetes insipidus yang dapat membantu menghindari komplikasi serius dari penyakit tersebut, seperti:
  • Pemeriksaan teratur terhadap volume urine pasien, terutama jika pasien menderita tumor otak atau penyakit ginjal.
  • Pemantauan diri secara teratur untuk memeriksa tanda-tanda dehidrasi atau gejala lainnya.
  • Konsumsi makanan yang rendah garam dan protein untuk membantu ginjal memproduksi lebih sedikit urine.
  • Melakukan aktivitas fisik, olahraga, atau yoga secara teratur untuk menjaga kesehatan tubuh secara keseluruhan.
Artikel ini telah direview oleh dr. Mikhael Yosia, BMedSci, PGCert, DTM&H.
ADVERTISEMENT
(SFR)
Apa yang dimaksud dengan diabetes insipidus?
chevron-down
Apa saja jenis diabetes insipidus?
chevron-down
Apa penyebab diabetes insipidus sentral?
chevron-down
Baca Lainnya
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020