Jose Mourinho dan Pelajaran Menjadi Bangsa yang Besar

Moslem. Author of Arsenal: Sebuah Panggung Kehidupan
Tulisan dari Katondio Bayumitra Wedya tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pada suatu masa, Bung Besar pernah berujar, "Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa pahlawannya".
Aku setuju dengan beliau. Siapa pula yang tidak? Kalau tak ada pejuang yang berperang di medan tempur, mungkin Indonesia belum (atau butuh waktu lebih lama) meraih kemerdekaan.
Tak cuma mereka yang bertarung secara fisik. Tapi, juga mereka yang berjuang lewat jalur diplomasi, keagamaan, hingga pendidikan. Mereka juga pahlawan.
Jadi, wajar jika Bung Besar berkata seperti itu. Kita tidak boleh jadi bangsa yang kufur.
Namun pertanyaannya, setelah merdeka, lalu apa? Well, Bung Besar juga sudah memperingatkan kita soal ini:
“Perjuanganku lebih mudah karena mengusir penjajah, tapi perjuanganmu akan lebih sulit karena melawan bangsamu sendiri.”
-Ir. Sukarno
Ya, begitulah. Mereka yang kaya kian serakah. Mereka yang miskin semakin terengah-engah.
Sesama orang Indonesia banyak yang saling sikut. Mulai di level pemerintahan hingga di tingkat akar rumput. Kita yang di tengah-tengahnya jadi semaput. Terkentut-kentut.
Ada yang salah. Dari cara kita menafsirkan sejarah. Bukannya bikin masa depan bangsa kian cerah, malah tak jarang meninggalkan jejak darah.
Kalau menurut aku pribadi, sih, salah satunya mungkin kita harus belajar menghargai. Termasuk kepada mereka yang bukan (atau tak tampak seperti) pahlawan negeri. Ini juga mungkin cara yang tepat mengenyahkan 'penyakit' haus atensi dan mau menang sendiri.
Dalam sebuah tulisannya, penulis sekaligus jurnalis Indonesia, Zen RS, pernah mengutip kalimat dari Sanento Yuliman. Asal tahu saja, menurut Zen, Sanento adalah orang Indonesia pertama yang meraih gelar doktor seni rupa.
Dalam esai berjudul 'Di Bawah Naungan Para Pahlawan', Sanento Yuliman menulis begini:
"Bangsa yang besar adalah bangsa yang bisa menghargai orang-orang biasa dan pekerjaan-pekerjaan biasa."
-Sanento Yuliman
Masuk akal? Menurutku, sih, iya. Kita itu kadang lupa tahu berterima kasih dengan 'orang-orang biasa' ini. Kita kadang terlalu sibuk mengglorifikasi sesuatu. Me-'Maha-Maha'-kan suatu tokoh, menjunjung tinggi profesi tertentu.
Jika begitu, entah sadar atau tidak, bakal ada 'tokoh' lain di hidup ini yang terkesampingkan. Bakal ada profesi yang jadi terpinggirkan. Buruknya, mereka bakal jauh dari nikmat kehormatan --yang mungkin mereka pantas dapatkan.
Aku akan beri satu contoh: Ojek Online. Profesi yang kini mulai digeluti banyak orang Indonesia. Banyak dari kita --aku yakin termasuk kalian yang baca-- mulai menggantungkan hidup pada mereka.
Lapar dikit, order. Malas jalan jauh, order. Giliran internet down, pada keder.
Yakin, kita selaku pelanggan sudah berterima kasih dengan benar kepada mereka? Ya, aku juga mungkin kadang lupa.
Sedikit sharing, salah satu caraku memanusiakan mereka adalah memberi salam di chat pertamaku pada mereka.
"Assalamualaikum," biasanya aku begitu. Atau kalau kamu mau bernuansa lebih 'Bhinneka' bisa pakai "Selamat pagi/siang/sore" atau "Salam sejahtera".
Pilih salah satu saja. Tidak usah pakai salam enam agama. Ingat, kamu bukan mau pidato. Nanti abang/mbaknya bingung mau jawab apa.
Intinya begini, salam itu --yang aku pahami-- bukan sekadar sapaan. Tapi mendoakan orang lain agar selamat. Bagus, bukan?
Menurutku, itulah sekecil-kecilnya sebuah penghargaan. Salam. Karena kita mau mendoakan orang yang mungkin tak kita kenal dan cuma sebatas lewat di hidup kita yang singkat.
Makanya, ketika membaca berita soal Ojek Online yang jadi korban konten prank YouTuber, aku sangat geram. Dia mungkin tak peduli si abang sudah banting tulang siang dan malam.
Seolah di mata pelaku, sang korban hanya objek konten belaka, nilai profesinya tidaklah berarti. Dia mungkin lupa, abang Ojek Online itu punya keluarga, punya harga diri. Percayalah, konten prank itu tidak manusiawi, tidak funny.
Marilah kita belajar menghargai orang kecil. Aku mengajak kita semua mencontoh Jose Mourinho. Sejenak aku lepaskan kebanggaanku sebagai seorang penggemar Arsenal, dengan sportif mengakui sikap terpuji juru taktik anyar Spurs itu.
Dalam laga Tottenham Hotspur kontra Olympiacos di pekan kelima fase grup Liga Champions 2019/20, Rabu (27/11/2019) dini hari WIB, Mourinho memuji aksi seorang anak gawang. Callum Hynes nama anak gawang itu.
The Special One menganggap peran si anak gawang cukup krusial terhadap gol penyama kedudukan yang dicetak Harry Kane. Gol itu amat penting bagi skuat asuhannya yang sempat tertinggal lebih dulu, hingga akhirnya laga itu berkesudahan 4-2 untuk kemenangan Spurs.
"Bocah tadi sangat pandai menjalankan tugasnya. Dia mampu memahami dan menikmati jalannya laga. Aku ingin mengajaknya merayakan kemenangan di ruang ganti. Akan tetapi, dia sudah menghilang," ucap Mourinho kepada BT Sport.
Lantas, apakah Mourinho bersikap 'ya sudahlah' begitu saja? Enggak. Mourinho mengundang Hynes secara khusus untuk makan bareng skuat Spurs jelang laga kontra Bournemouth pada pekan ke-14 Premier League 2019/20, Sabtu (30/11/2019).
"Hari yang bahagia untuk anak itu dan mudah-mudahan kami memberinya kenangan yang luar biasa sepanjang sisa hidupnya, yang begitu indah untuknya," kata Mourinho, dilansir Daily Mail.
Bahkan, Mourinho berujar bakal mempertimbangkan untuk mengundang setidaknya satu anak gawang di setiap momen makan jelang laga kandang. Apa benar? Kita lihat saja.
Tapi seenggaknya, pria asal Portugal itu sudah memberi contoh baik kepada kita tentang cara memberikan penghargaan kepada anak gawang, sosok yang kerap terpinggirkan di dunia sepak bola.
Dia menghargai profesi anak gawang. Bahkan anak gawang mungkin sebenarnya tak masuk kategori profesi. Tapi dia tak peduli, Mourinho berterima kasih kepada siapa pun yang dia inginkan.
"Bangsa yang besar adalah bangsa yang bisa menghargai orang-orang biasa dan pekerjaan-pekerjaan biasa."
Bagaimana jika dalam konteks Mourinho kita ganti kata "bangsa" dengan "klub sepak bola". Maka dengan begitu, Mourinho telah mengajarkan Spurs bagaimana menjadi klub sepak bola yang besar.
Dengan caranya sendiri, bukan dengan trofi, atau kumpulan pemain bergaji tinggi. Tapi dengan menghargai orang-orang biasa dan pekerjaan-pekerjaan biasa. Hal yang mungkin bisa juga kita terapkan di luar sepak bola.
