Agar Tetap Cuan, Ini Pilihan Investasi Paling Aman Saat Resesi

Resesi terjadi saat suatu negara mengalami pertumbuhan ekonomi negatif pada dua kuartal berturut-turut. Hal itu hampir pasti dialami Indonesia, setelah Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati, memproyeksi ekonomi Indonesia minus 2,9 persen pada kuartal III 2020.
Pada kuartal sebelumnya, pertumbuhan ekonomi Indonesia bahkan minus lebih dalam, yakni 5,32 persen. Hal ini terjadi akibat kelesuan ekonomi. Khusus di Indonesia yang 60 persen ekonominya ditopang konsumsi, kelesuan terjadi karena belanja konsumsi masyarakat menurun.
"Perusahaan maupun UMKM menurun omzet dan keuntungannya, akibatnya terjadi gelombang PHK. Sehingga masyarakat menurun daya belinya karena kehilangan penghasilan akibat PHK. Jika mempunyai usaha, penghasilan usahanya menurun bahkan juga bisa bisnisnya bangkrut," ujar Perencana Keuangan dari Mitra Rencana Edukasi (MRE), Mike Rini, kepada kumparan, Kamis (24/9).
Sementara yang penghasilannya masih normal, menahan konsumsi karena pandemi virus corona membuat masyarakat merasa tak aman untuk bepergian. Kegiatan seperti pergi ke mal berbelanja, makan di restoran, atau liburan pun tak dilakukan.
Untuk kelompok masyarakat ini, justru ada uang nganggur yang bisa digunakan untuk investasi. Tapi Perencana Keuangan dari Advisors Alliance Group Indonesia, Andy Nugroho, mengingatkan untuk berinvestasi di tengah kelesuan ekonomi seperti saat resesi, harus memilih yang berisiko rendah.
"Seperti logam mulia, deposito, obligasi ritel, sukuk ritel, SBN, reksadana berbasis pasar uang atau reksadana berbasis pendapatan tetap," kata Andy saat dihubungi kumparan, Kamis (24/9)
Yang dimaksud risiko rendah, menurut Andy yakni terjamin imbal hasilnya dan mudah dicairkan. Sementara investasi yang berisiko seperti saham, harganya cenderung sangat fluktuatif. Selain itu ada juga investasi properti, meski aman namun sulit dicairkan dalam situasi resesi.
