Kumparan Logo

Baru Bangkit di 2019, Bisnis Properti Kini Dihajar Pandemi

kumparanBISNISverified-green

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Pengunjung melihat miniatur apartemen pada pameran properti di Jakarta, (12/10). Foto: REUTERS / Darren Whiteside
zoom-in-whitePerbesar
Pengunjung melihat miniatur apartemen pada pameran properti di Jakarta, (12/10). Foto: REUTERS / Darren Whiteside

Bisnis properti dan perumahan pada 2019 lalu baru saja bangkit dari kelesuan, namun belum lama langsung dihajar pandemi virus corona. Untuk mengatasi situasi ini Asosiasi Real Estat Indonesia (REI) meminta pemerintah mempermudah perizinan.

Ketua DPD REI DKI Jakarta, Arvin F Iskandar, menjelaskan kebangkitan bisnis properti dan perumahan pada 2019 lalu tercermin dari survei yang dilakukan REI DKI Jakarta. Survei ini dilakukan kepada para pengembang yang terdaftar sebagai anggota, dengan lokasi proyek tersebar di Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi (Jabodetabek).

Dari survei itu Arvin mengatakan, hampir semua pengembang di Jabodetabek memang mengalami penurunan penjualan dalam beberapa waktu terakhir.Tapi pada akhir 2019, sebenarnya sudah mulai membaik.

"Tahun lalu, sebetulnya berat. Tetapi kami masih optimistis dan itu tercermin dari hasil survei kami, yakni 73 persen menyatakan bahwa kondisi real estat sama atau bahkan lebih baik dari tahun sebelumnya. Sebanyak 61 persen menyatakan penjualan produk tahun 2019 sama atau bahkan lebih baik dari tahun sebelumnya. Dari sisi regulasi dan dukungan pembiayaan demikian juga," ujar Arvin melalui keterangan resmi, Rabu (9/9).

Sebanyak 86,5 persen menyatakan bahwa suku bunga kredit memberikan dampak lebih baik bagi iklim usaha dan 79,3 persen menyatakan pemerintah sudah cukup baik, bahkan sangat baik dalam menyediakan infrastruktur.

Dia menambahkan, untuk mengatasi dampak pandemi dan mengantisipasi pengaruh resesi terhadap bisnis sektor properti nasional, para pengusaha meminta kemudahan perizinan.

Ilustrasi KPR untuk milenial. Foto: Irfan Adi Saputra/kumparan

"Gerak cepat pemerintah sangat diperlukan. Permudah perizinan. Kita tentu tidak berharap terjadi resesi. Pengembang harus kerja sangat keras untuk bisa bertahan," katanya.

Menurut Arvin seperti dilansir Antara, akibat pandemi kondisi sebagian besar anggota REI terutama di DKI Jakarta semakin melemah sebagai dampak penurunan aktivitas ekonomi seperti tingkat penjualan jatuh, sedangkan biaya yang dikeluarkan tetap.

Pandemi Bikin Harga Properti Terkoreksi

Sebelumya, hasil studi Indonesia Property Market Index menunjukkan pasar properti nasional pada masa normal baru dalam kondisi buyer's market selama kuartal kedua tahun ini.

kumparan post embed

"Memasuki fase kenormalan baru, penyedia suplai properti melakukan koreksi harga untuk menjaga daya tarik properti di mata konsumen. Karena itu, kuartal kedua masih menjadi buyer’s market, di mana konsumen memiliki daya tawar yang lebih tinggi," ujar Country Manager Rumah.com Marine Novita.

Menurut dia, Rumah.com Indonesia Property Market Index-Harga (RIPMI-H) pada kuartal kedua 2020 berada pada angka 110,6 atau turun 1,7 persen.

Secara tahunan (year-on-year/yoy), RIPMI-H kuartal kedua 2020 mengalami kenaikan sebesar 2,3 persen. Namun, besarnya kenaikan ini masih di bawah rata-rata kenaikan per kuartal sejak 2018, di mana tercatat sebesar 5 persen.