Kumparan Logo

Chatib Basri: Cuma Crazy Rich yang Bisa Nganggur Saat Pandemi

kumparanBISNISverified-green

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Chatib Basri Foto: Aditia Noviansyah/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Chatib Basri Foto: Aditia Noviansyah/kumparan

Ekonom senior Chatib Basri mengungkapkan, dalam situasi pandemi hanya sebagian kecil masyarakat bisa bertahan tinggal di rumah. Mereka adalah orang-orang kaya atau kaum crazy rich, yang kalau pun tidak bekerja alias menganggur, tetap punya penghasilan.

“Karena hanya orang kaya di Indonesia yang bisa nganggur, ya. Pengangguran barang mewah hanya orang kaya yang bisa nganggur. If you have money you stay at home,” ungkapnya saat diskusi virtual 'Investment Optimism Post COVID-19 Vaccine', Rabu (7/10).

Berbeda dengan kaum crazy rich, manten Menteri Keuangan itu menjelaskan, masyarakat kelas bawah atau miskin harus tetap bekerja untuk mendapatkan penghasilan. Dan bekerja bagi kelompok masyarakat itu, umumnya hanya bisa dilakukan di luar rumah.

Menurut Chatib Basri, kelompok kelas menengah dan miskin ini akan membelanjakan uangnya untuk kebutuhan harian, yang membuat mereka harus berinteraksi dan keluar dari rumah. Sementara untuk kelompok kaya mereka bisa tetap bertahan di rumah.

Aktivitas pasar ikan tradisional Peunayong ditengah pandemi COVID-19, di Banda Aceh, Aceh, Sabtu (3/10). Foto: Irwansyah Putra/ANTARA FOTO

"Yang menarik ada perubahan behavior orang ada dua kelompok masyarakat," ujarnya.

Menurut dia, dapat tinggal di rumah seperti pengangguran saat pandemi merupakan kemewahan. Dia pun mencontohkan perubahan perilaku ini dari ramainya pasar tradisional, Pasar Tanah Abang pada saat pembukaan PSBB.

“Itu yang menjelaskan Pasar Tanah Abang, Mayestik itu langsung recover tetapi middle income group they don't spend money,” jelasnya.

Ia bilang, kelompok kaya akan membelanjakan uangnya melalui pasar modal, bond dan investasi.

“Jadi persoalannya adalah yang kecil spend money tetapi porsi total konsumsi enggak besar. Sementara yang besar punya uang, tapi mereka itu enggak spend karena ada beberapa pertimbangan. Ke mana mereka taruh uang ini? Masuk ke dalam tabungan,” tutur Chatib Basri.