Di Bawah Bayang-bayang Krisis Pangan, Saat Beli Gula Seperti Beli Narkoba

Presiden Jokowi mewanti-wanti ancaman krisis pangan, yang membayangi di belakang pandemi virus corona COVID-19. Hal itu diungkapkan Jokowi dalam rapat terbatas membahas harga bahan pangan menjelang Lebaran 1441 Hijriah.
Sebelum Jokowi memperingatkan ancaman krisis pangan, bahkan sebelum ditemukan kasus positif virus corona di Indonesia, masyarakat sudah dipusingkan oleh kelangkaan dan mahalnya harga gula. Gula jadi barang langka sejak awal 2020. Mulai dari kalangan industri pengguna gula mentah (raw sugar) dan gula rafinasi, hingga konsumen rumah tangga pengguna gula pasir, mengeluhkan kelangkaan gula. Hukum pasar pun berlaku, barang langka harganya pasti melambung.
Gula pasir eceran misalnya, hingga saat ini harganya masih berkisar Rp 19.000 hingga Rp 20.000 per kilogram (kg). Sudah mahal, masyarakat juga mengeluhkan sulitnya mendapatkan gula pasir di pasaran. Bahkan di mini market yang populer dan banyak dijumpai di permukiman warga, gula tak lagi tersedia di rak atau display toko.
“Tapi bukannya enggak ada sama sekali kok. Kalau mau beli, langsung samperin kasirnya sambil bisik-bisik dan jangan ada pembeli lain. ‘Mba... Mas..., ada gula enggak?’ Nah, kalau belinya begitu, nanti dikasih deh gulanya,” tutur Dewi, seorang warga Jakarta Pusat, menuturkan kisahnya berburu gula pasir.
Itu pun menurutnya, pembelian dijatah maksimal dua bungkus. Masing-masing 1 kilogram.
“Sekarang beli gula udah kayak beli narkoba. Harus bisik-bisik kayak gitu. Katanya sih mereka sengaja enggak keluarin barang, karena suka ada yang borong,” imbuhnya.
Kelangkaan dan mahalnya harga gula, juga dikeluhkan kalangan pengusaha. Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Indonesia (GAPMMI), bahkan sudah mewanti-wanti pemerintah sejak awal tahun, soal tipisnya stok gula nasional.
Ketua Umum GAPMMI, Adhi S. Lukman, saat itu mensinyalir ada keterlambatan penerbitan izin impor di Kementerian Perdagangan.
"Saya lupa tepatnya kapan rekomendasi Kemenperin keluar. Harusnya akhir tahun lalu izin impor keluar. Karena rekomendasi Kemenperin sudah keluar lama, sebaiknya Mendag segera mengeluarkan izin impor,” kata Adhi.
Harga gula pasir yang mencapai Rp 20.000 per kg, bahkan jauh di atas harga eceran tertinggi (HET) yang ditetapkan Kemendag sendiri sebesar Rp 12.500 per kg. Lonjakan harga gula di Indonesia ini sungguh mengherankan. Karena data organisasi pertanian dan pangan dunia atau Food and Agriculture Organization (FAO), mengungkapkan harga komoditas itu di pasar dunia trennya terus menurun dalam tiga bulan terakhir sepanjang 2020.
FAO mengukur indeks harga pangan secara berkala setiap bulan, mengacu pada lima komoditas pangan utama dunia. Yakni susu, gula, daging, sereal, dan minyak sayur. Selain gula pasir yang harganya turun paling tajam di sepanjang 2020, indeks harga komoditas pangan lainnya juga menunjukkan tren penurunan.
Tren penurunan indeks harga komoditas pangan dunia pada triwulan pertama 2020 ini, berbanding terbalik dengan tren dua tahun sebelumnya. Pada 2019 dan 2018, grafik indeks harga komoditas pangan di awal tahun naik tajam.
Sementara itu selain gula, Presiden Jokowi juga menyoroti kenaikan harga beras, bawang putih, dan bawang bombai.
"Kita harus betul-betul menjaga agar harga bahan-bahan pokok terjangkau oleh rakyat. Jangan sampai ada terjadi kenaikan. Ini yang masih naik beras, mulai naik sedikit. Harga gula tidak bergerak sama sekali, justru naik menjadi 19.000. Bawang putih, bawang bombai juga belum turun. Saya enggak tahu ini dari Kementerian Perdagangan apa sudah melihat lapangannya bahwa ini belum bergerak," kata Jokowi, Selasa (21/4).
Soal kekisruhan pasokan dan harga sejumlah bahan pangan, kumparan sudah minta tanggapan Dirjen Perdagangan Dalam Negeri Kemendag, Suhanto. Tapi panggilan telepon dan pesan singkat yang dikirimkan, tak direspons.
Sementara itu Perum Bulog, mengaku sudah mengantongi izin impor gula sebanyak 50 ribu ton. Direktur Pelayanan dan Informasi Publik Perum Bulog, Tri Wahyudi, mengaku izin impor gula sebanyak itu pun hanya seperempat dari yang diajukan Bulog ke Kemendag, yakni sebanyak 200 ribu ton.
“Izinnya baru keluar awal April. Kita akan mendatangkan kurang lebih hampir 50 ribu ton. Sehingga, baru pada minggu kedua bulan Mei, stok gula yang ditugaskan ke Bulog akan disiapkan dan distribusi langsung ke seluruh indonesia,” katanya kepada kumparan, Rabu (22/4).
Tri mengakui, impor gula sebanyak itu tak cukup berarti untuk memenuhi kebutuhan gula nasional yang mencapai 250 ribu ton per bulan. Tapi selain Bulog, impor dan stok gula juga bisa dipegang oleh perusahaan swasta maupun BUMN.
Simak panduan lengkap corona di Pusat Informasi Corona.
*****
Yuk! bantu donasi atasi dampak corona.
