Jonan Bagikan Pengalaman Ubah KAI Jadi Transportasi Aman & Nyaman
·waktu baca 2 menit

Nama Ignasius Jonan mulai dikenal sejak sosok tersebut dinilai berhasil membawa perubahan signifikan di tubuh PT Kereta Api Indonesia (Persero) (KAI). Lewat tangan dingin Jonan, kereta api kini menjadi transportasi aman dengan layanan yang makin modern dan terdigitalisasi.
Jonan bercerita, keberhasilan transformasi di KAI tidak lepas dari delapan nilai kepemimpinan yang selalu ia pegang.
“Pertama establishing the sense of urgensi. Kalau mau transformasi itu jelaskan urgensinya apa. Ini tantangan pertama dari semua pemimpin dalam transformasi,” ujar Jonan dalam Webinar Leadership in Digital Era, PPM School of Management, Sabtu (17/7). Sabtu (17/7).
Menurutnya, seorang pemimpin harus bisa menemukan urgensi masalah yang dihadapi perusahaan. Setelah itu, pemimpin harus bisa memerintahkan urgensi tersebut kepada seluruh lapisan organisasi.
“Kalau enggak bisa, lebih baik mundur. Jangan salahkan organisasinya. Enggak ada yang lebih salah daripada pemimpin yang enggak becus. Ini menurut saya,” ujarnya.
Kedua, pemimpin harus bisa menghimpun dukungan dari para regulator dan stakeholder termasuk ke pihak internal seperti karyawan. Jonan bahkan mengaku dirinya mati-matian berkomunikasi dengan banyak stakeholder demi mengkomunikasikan visi dan misi KAI.
“Saya melakukan dua hal ini selama lima tahun delapan bulan atau selama 68 bulan, sekitar 2.000 hari kira-kira. Itu saya pulang ke rumah hanya 200 hari. Yang lainnya saya keliling untuk bicara dari kota ke kota, depo ke depo, bengkel ke bengkel, stasiun ke stasiun. Kepada semua orang yang saya bawahi supaya dia mau terima,” ujarnya.
Hal ini berhubungan dengan poin ketiga yaitu visi. Menurutnya pemimpin harus bisa menentukan visi perusahaan. Keempat, jika visi sudah ditentukan, maka langkah berikutnya adalah mengkomunikasikan visi tersebut.
“Selanjutnya empowering the others, itu penting. Mendorong orang itu untuk melakukan visi itu. Memberikan delegasi of authority. Tapi kalau salah, pemimpin yang tanggung jawab,” ujar Jonan.
Poin keenam, yang tak kalah penting, yaitu menciptakan perubahan-perubahan kecil. Ada tiga hal kecil yang Jonan ubah saat memimpin KAI, yaitu membersihkan toilet, membersihkan stasiun dan menghemat kertas. Siapa sangka, tiga perubahan kecil tersebut menjadi awal bagi perubahan yang lain. Total di bawah kepemimpinan Jonan, KAI melakukan 150 perubahan dalam waktu hampir 6 tahun.
Menurut Jonan hal tersebut tetap bertahan bahkan setelah sekian lama Jonan tak lagi jadi pemimpin di KAI. “Saya pergi 7 tahun tetap stasiun bersih enggak ada yang jualan di kereta. Enggak ada yang enggak tertib, tetap jalan dan semua bangga,” ujarnya.
Namun Jonan mengatakan bahwa perubahan tersebut tidak boleh berhenti. Artinya, perusahaan harus terus berubah dan beradaptasi sesuai zaman.
“Terakhir, kalau sudah ada pola itu, jadikan itu standar baku,“ tandasnya.
