Kumparan Logo

Soal Wacana Boikot Produk Prancis, Perdagangan Indonesia Memang Banyak Tekornya

kumparanBISNISverified-green

comment
6
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Layar televisi saat presiden Prancis Emmanuel Macron memberikan keterangan tentang virus corona di Paris, Prancis. Foto: REUTERS / Charles Platiau
zoom-in-whitePerbesar
Layar televisi saat presiden Prancis Emmanuel Macron memberikan keterangan tentang virus corona di Paris, Prancis. Foto: REUTERS / Charles Platiau

Wacana memboikot produk Prancis di Indonesia ramai disuarakan setidaknya di media sosial. Hal ini bermula dari pernyataan Presiden Prancis, Emmanuel Macron, yang mengaitkan tindak terorisme dengan Islam.

Pernyataan Macron itu bermula dari kasus kartu Nabi Muhammad. Seorang guru di Prancis dipenggal oleh pria Chechnya, setelah guru tersebut menunjukkan gambar Nabi ke muridnya. Macron sendiri menilai tindakan guru itu sebagai kebebasan berekspresi.

Dia juga bahkan mengaitkan Islam dengan terorisme, Muslim dengan separatisme, dan Islam adalah agama yang mengalami krisis di dunia. Macron juga membiarkan penampilan kartun Nabi di gedung-gedung.

Indonesia pun mengecam pernyataan Presiden Prancis tersebut. Kementerian Luar Negeri memanggil Dubes Prancis di Indonesia, untuk menyampaikan kecaman tersebut, Selasa (27/10). "Dalam pertemuan tersebut, disampaikan kecaman terhadap pernyataan Presiden Prancis yang menghina agama Islam," ucap jubir Kemlu Teuku Faizasyah saat dihubungi kumparan.

Kecaman yang sama ditujukan ke Presiden Prancis, khususnya dari sejumlah negara berpenduduk Muslim. Tak hanya itu, negara seperti Kuwait, Maroko, dan Qatar, melakukan boikot produk Prancis di negara mereka.

Rak-rak kosong terlihat di mana produk Prancis dipajang, setelah supermarket Kuwait memboikot barang-barang Prancis, di Kuwait City, Kuwait, Minggu (25/10). Foto: Ahmed Hagagy/REUTERS

Wacana boikot produk Prancis juga mencuat di Indonesia. Untuk diketahui, kedua negara memang punya kerja sama ekonomi yang cukup erat. Hubungan bilateral resmi kedua negara sudah terjalin sejak 1950.

Sementara data neraca perdagangan lima tahun terakhir (2015-2019), menunjukkan Indonesia selalu tekor dan surplus di pihak Prancis. Artinya, nilai ekspor Prancis ke Indonesia lebih besar daripada yang diekspor Indonesia ke Prancis.

Neraca Perdagangan Indonesia Prancis

2019: USD -411 Juta

2018: USD -648,5 Juta

2017: USD -609,4 Juta

2016: USD -489,3 Juta

2015: USD -364 Juta

Demikian juga data neraca perdagangan hingga Agustus 2020, masih tekor alias defisit di posisi Indonesia, yakni sebesar USD 190 juta. Dari Prancis, impor Indonesia utamanya adalah mesin, produk susu, mobil, pesawat terbang dan komponen spareparts, obat-obatan, mesin elektrik dan komponen.

Selain itu juga bahan kimia organik, ekstrak resinoid untuk parfum dan kosmetik, pakan ternak, optik, plastik dan produk plastik, kimia, serat kayu (pulp wood), dan makanan olahan.

Sedangkan ekspor utama Indonesia ke Prancis adalah mesin dan alat listrik, minyak dan lemak, sepatu, karet dan produk karet, kopi, teh dan bumbu, furnitur, produk pakaian dan aksesoris, minyak esensial, alat musik, serta produk perikanan.