Kumparan Logo

Daftar PR Solskjaer sebagai Pelatih Permanen Man United

kumparanBOLAverified-green

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Solskjaer saat mendampingi United hadapi PSG. Foto: AFP/Franck Fife
zoom-in-whitePerbesar
Solskjaer saat mendampingi United hadapi PSG. Foto: AFP/Franck Fife

Kontrak permanen itu akhirnya didapatkan oleh Ole Gunnar Solskjaer. Kamis (28/3/2019) sore WIB pelatih asal Norwegia itu resmi diikat selama tiga musim oleh Manchester United. Dengan demikian, Solskjaer pun jadi pelatih tetap United keempat setelah Alex Ferguson pensiun pada 2013.

Tugas pertama Solskjaer sebagai pelatih permanen United adalah memimpin tim dalam laga melawan Watford di Old Trafford, Sabtu (30/3/2019) malam WIB. Kemenangan pada laga itu akan sangat berharga bagi Manchester United karena pada dua laga sebelum jeda internasional mereka menelan kekalahan beruntun. Yakni, dari Arsenal di Premier League dan dari Wolverhampton Wanderers di ajang Piala FA.

Namun, tentu saja tugas Solskjaer tidak akan berhenti di situ. Statusnya sudah bukan lagi pelatih interim. Artinya, masa depan United kini ada di tangannya. Solskjaer sekarang punya kuasa penuh untuk menentukan ke mana klub akan dibawa.

embed from external kumparan

Sebenarnya, keputusan krusial terkait dua pemain senior sudah dibuat Solskjaer beberapa waktu lalu. Dua pemain senior yang dimaksud adalah kapten Luis Antonio Valencia dan wakilnya, Ashley Young. Jika Valencia akan dilepas ketika kontraknya habis musim panas nanti, Young dipertahankan untuk satu musim.

Meski demikian, itu semua baru awalan. Masih banyak pekerjaan rumah yang wajib diselesaikan oleh Solskjaer demi membawa United kembali ke masa kejayaan.

1) Young dan Valencia Sudah, Lalu Bagaimana dengan Mata dan Herrera?

Ya, selain Young dan Valencia, Juan Manuel Mata dan Ander Herrera juga akan habis kontraknya di akhir musim 2018/19. Mata merupakan rekrutan David Moyes, sementara Herrera adalah hasil pembelian Louis van Gaal.

Di antara dua pemain ini, yang wajib jadi prioritas adalah Herrera. Sebab, mantan pemain Real Zaragoza ini merupakan salah satu andalan Solskjaer di lini tengah. Selama United ditangani Solskjaer, Herrera sudah bermain dalam 13 pertandingan. Di Premier League, menit bermain pria Spanyol ini mencapai angka 669.

embed from external kumparan

Herrera saat ini berusia 29 tahun. Tidak bisa dibilang muda, tetapi juga belum tua. Di usianya saat ini, Herrera adalah paket komplet kematangan dan energi. Jika United tak mau pemain andalannya diembat oleh Paris Saint-Germain, maka sodoran kontrak adalah harga mati.

Sementara itu, pemberian kontrak untuk Mata sifatnya lebih opsional. Di lini depan, eks Real Madrid dan Valencia ini kalah bersaing dari Anthony Martial dan Marcus Rashford. Namun, ada kelebihan-kelebihan yang masih bisa ditawarkan Mata, seperti pengalaman, kematangan, serta eksekusi bola mati seperti saat United mengalahkan Juventus di Turin.

2) Eits, Jangan Lupa... Masih Ada David de Gea Juga

Ah, ya, De Gea. Sampai detik ini, kiper asal Spanyol itu juga belum meneken kontrak anyar bersama Manchester United. Jika ini dibiarkan berlanjut, 'Iblis Merah' akan rugi besar karena mereka akan kehilangan salah satu kiper terhebat dunia secara cuma-cuma. Sembari terus mengejar satu tempat di Liga Champions, Manchester United juga wajib memburu tanda tangan terbaru De Gea.

3) Terus, Alexis Sanchez Mau Diapakan?

Masalah Sanchez ini juga cukup menjadi beban bagi Manchester United. Dengan gaji menyentuh £350.000 per pekan, pemain asal Cile itu praktis tak punya kontribusi apa-apa, terutama semenjak United ditangani Solskjaer. Malah, eks pemain Udinese itu kini sedang mengalami cedera panjang.

embed from external kumparan

Sanchez, sih, sudah berkata kalau dia belum mau menyerah di United. Akan tetapi, Solskjaer sudah pernah berkata kalau kelanjutan karier Sanchez di Old Trafford ada di tangan si pemain sepenuhnya. Dengan kata lain, kalau kontribusinya tetap nihil, Sanchez akan ditendang. Nah, meski sudah berkata demikian, Solskjaer perlu menegaskan lagi sikapnya karena gaji Sanchez itu bisa digunakan untuk keperluan lain yang lebih mendesak...

4) ...Seperti Masalah Pertahanan

Well, harus diakui bahwa Victor Lindeloef dan Chris Smalling sejauh ini tampil oke di bawah asuhan Solskjaer. Mudahnya begini. Di Premier League, United besutan Solskjaer baru kemasukan 11 kali dalam 13 pertandingan. Catatan itu jauh lebih baik ketimbang di era Jose Mourinho, di mana United kebobolan 29 gol dalam 17 pertandingan.

Namun, tetap saja, 11 gol dalam 13 laga bukan catatan yang bisa dibilang sangat baik. Sehebat-hebatnya Lindeloef dan Smalling, United butuh bek sentral kelas dunia. Tanyakan saja kepada Liverpool bagaimana jadinya tim mereka setelah mendatangkan Virgil van Dijk. Nah, karena Van Dijk yang asli sudah jadi milik rival, United perlu Van Dijk-nya sendiri untuk bisa berburu gelar secara serius.

5) Pertahankan Tradisi Memainkan Jebolan Akademi

Sejauh ini sudah ada empat pemain junior yang diberi kesempatan tampil oleh Solskjaer: Angel Gomes, James Garner, Tahith Chong, dan Mason Greenwood. Bahkan, Chong dan Greenwood diberi kesempatan tampil di Liga Champions melawan PSG.

Mason Greenwood dalam laga vs PSG. Foto: Reuters/John Sibley

Namun, seperti yang dikatakan Van Gaal, kesempatan pada pemain-pemain itu belum cukup banyak. Chong, misalnya, baru diberi waktu 11 menit di Premier League dan Liga Champions. Sementara, Greenwood mendapat waktu main dua menit lebih banyak.

Van Gaal berkata bahwa memberi kesempatan pada pemain muda, ya, berarti memercayai mereka turun penuh di sebuah laga kompetitif. Jika Solskjaer memang berniat jadi suksesor sejati Fergie, itu jadi salah satu hal yang harus dia lakukan.

6) Terakhir, Jangan Sampai Pramusim Berantakan Lagi

Salah satu yang membuat musim ketiga Mourinho di Manchester United begitu mengenaskan adalah pramusim yang buruk. Piala Dunia 2018 memang jadi salah satu musabab di balik itu, tetapi buat klub seperti United, seharusnya turnamen antarnegara tidak bisa dijadikan alasan.

Solskjaer sendiri sudah sukses membawa skuat United menjalani rehat pertengahan musim di Dubai tanpa cela. Bahkan, aktivitas itu membuat para pemain, seperti Anthony Martial, mendapat ilmu berharga. Pada musim panas nanti, Solskjaer harus melakukan hal serupa di China dan Singapura.