kumparan
6 Agustus 2018 16:19

Kritikus AC Milan Itu Bernama Paolo Maldini

Paolo Maldini
Maldini waktu membela Milan. (Foto: FILIPPO MONTEFORTE / AFP)
Belakangan, sepak bola memulangkan kembali mereka yang terhilang. Gianfranco Zola kembali ke Chelsea, Carlo Ancelotti kembali ke Italia, Leonardo Bonucci kembali ke Juventus, Leonardo Araujo kembali ke AC Milan. Terakhir, Paolo Maldini menjadi satu sosok yang ikut pulang ke San Siro.
ADVERTISEMENT
Kepulangan dua nama terakhir mengingatkan pada ironi. Leonardo dan Maldini menjadi sosok yang pernah begitu dimusuhi oleh suporter Milan. Leonardo dianggap sebagai pengkhianat karena membelot ke Inter . Sementara, sebagian suporter garis keras Milan menyalakan api permusuhan kepada Maldini karena sang kapten mengkritik mereka dengan keras: Bahwa kumpulan suporter itu tak lebih dari gerombolan mata duitan belaka.
Guncangan dalam tubuh Milan makin menjadi-jadi ketika UEFA mengancam mereka dengan larangan bertanding di kompetisi Eropa selama dua musim. Padahal, pada musim 2018/19 nanti, Milan punya jadwal untuk bertanding di Liga Europa. Lewat persidangan dan proses yang alot, Milan lolos dari lubang jarum.
Guncangan pada akhirnya membangunkan Milan. Yang ada di pikiran mereka bukan lagi membentuk tim yang kuat, tapi membangun klub yang sehat. Di bawah kendali Elliott Management, perombakan manajemen menjadi agenda.
ADVERTISEMENT
CEO Marco Fassone dan direktur olahraga Massimiliano Mirabelli dicopot dari jabatannya. Bila Fassone digantikan oleh Paolo Scaroni, maka Leonardo masuk untuk melanjutkan dan memperbaiki pekerjaan Mirabelli. Lantas, Maldini mengemban tugas sebagai direktur pengembangan strategis.
Maldini yang Berjarak dengan Milan, Maldini yang Bersuara untuk Milan
Penunjukan Maldini untuk masuk dalam jajaran direksi Milan akhirnya terwujud setelah delapan tahun sang legenda memutuskan untuk gantung sepatu. Berbeda dengan legenda klub lain yang tetap bekerja untuk klubnya seusai pensiun, Maldini justru menjauh dari Milan selama rentang waktu itu.
Terpisah oleh jarak, Maldini tak berhenti bicara untuk Milan. Kritik demi kritik dilemparkannya kepada Milan, terutama kepada manajemen. Penyebabnya jelas, Milan runtuh. Bila awalnya mereka dinilai sebagai klub raksasa, kini Milan tak ada bedanya dengan klub medioker yang disibukkan dengan permasalahan internal dan persaingan papan tengah.
ADVERTISEMENT
“Saya beruntung karena bisa menjadi bagian Milan selama 25 tahun. Saat saya tiba pertama kali, saya menemukan pondasi yang kokoh untuk membangun sebuah klub yang hebat. Presiden Silvio Berlusconi datang dan mengajarkan kami untuk berpikir jauh, untuk memikirkan hal-hal besar, dan ia juga menanamkan investasi yang besar untuk klub ini. Arrigo Sacchi datang dan kami memiliki mental bahwa kami akan menjadi simbol dari sepak bola yang berkelas," tutur Maldini dalam wawancaranya kepada Football Italia.
Perkataan Maldini yang diucapkannya pada Desember 2012 itu ibarat mesin waktu yang membawa siapa pun ke era Grande Milan, dalam kurun waktu 1980-an hingga pertengahan 1990-an. Lima scudetto, empat gelar juara Supercoppa Italiana, tiga trofi Liga Champions, tiga gelar Piala Super Eropa, dan dua trofi Piala Interkontinental menjadi bukti mengapa gelar Grande pantas untuk disematkan ke tubuh Milan di era itu.
ADVERTISEMENT
Silvio Berlusconi
Mantan Presiden Milan, Silvio Berlusconi. (Foto: Wikimedia Commons)
Namun, sebelum sampai ke era itu, Milan menghadapi paceklik dan nirgelar. Mereka pontang-panting dihajar Skandal Totonero, turun ke Serie B, dan hampir bangkrut. Penyelamat Milan itu datang dalam wujud Berlusconi dan gelontoran dana segarnya.
Ia membeli Milan pada 1986. Berlusconi datang membeli tim ini bukan tanpa tujuan. Kepada publik ia menegaskan bahwa ia ingin membangun tim terbesar di dunia. Mulia dan utopis. Mulia karena waktu itu Milan sedang tidak ada dalam keadaan baik-baik saja, utopis karena presiden klub mana pun akan menyampaikan pernyataan serupa di konferensi pers kedatangannya.
Namun, target jangka panjang Berlusconi tak melulu tentang niatan utopisnya itu. Sebagian besar orang di Italia tahu Berlusconi itu seperti apa. Kaya, cerdik, dan culas. Keberadaannya di Milan juga bertujuan untuk mempertahankan kekuasaan politisnya di Italia. Toh, bukan barang baru, sepak bola dijadikan sebagai suntikan suplemen untuk membesarkan otot-otot politis gajah-gajah putih.
ADVERTISEMENT
Nils Liedholm, pelatih Milan saat itu yang juga merupakan mantan pemain Rossonerri, mengundurkan diri beberapa saat setelah kedatangan Berlusconi dan tumpukan misinya. Pelatih baru ditunjuk. Namanya Arrigo Sacchi.
Sebelumnya, tak ada yang mengenal Sacchi. Maklum saja, curriculum vitae-nya masih kelewat sepi. Saat diangkat menjadi pelatih utama Milan pada 1986, pengalamannya sebagai pelatih dimulai pada 1985. Itupun menangani Parma yang waktu itu masih sibuk berkompetisi di Serie C.
Namun, hitung-hitungan taktik Sacchi bukannya tanpa tuah. Sacchi tumbuh dan dewasa dengan kekagumannya pada tim Budapest Honved FC, Timnas Brasil, dan Timnas Belanda. Lantas, ia menggabungkan filosofi ketiganya dan hasilnya, dalam semusim, tim gurem seperti Parma berhasil naik ke Serie B. Tak cuma itu, Milan menjadi tim yang dua kali menelan kekalahan dari Parma di gelaran Coppa Italia.
ADVERTISEMENT
Singkat cerita, babak baru Milan dimulai. Dan tepat seperti yang diceritakan Maldini, Milan benar-benar berjaya dan melakoni laga demi laga, kompetisi demi kompetisi dengan magi dan berkelas.
AC Milan
Pemain Milan rayakan gelar juara Liga Champions 1994. (Foto: AFP PHOTO)
“Perlahan, magi itu menghilang dan Milan berubah menjadi klub pada umumnya, klub yang biasa-biasa saja. Ini semua karena Milan berhenti meneruskan sejarah kejayaan itu dan mereka yang ikut ambil bagian dalam sejarah tersebut berhenti mengajarkannya kepada generasi di bawahnya. Di tubuh Milan saat ini (pada musim 2012/13 -red), tidak ada satupun yang dipersiapkan untuk menulis sejarah baru bagi klub ini.”
“Lihat seperti apa Bayern Muenchen dan Real Madrid. Mereka memiliki direktur-direktur seperti (Franz) Beckenbauer, (Uli) Hoeness, (Karl-Heinz) Rummenigge, (Emilio) Butragueño, (Ricardo) Gallego, dan (Jorge) Valdano. Magi tersebut dapat dijaga dan diajarkan oleh mereka yang mengalaminya, bahkan menciptakannya sendiri. Milan menghidupi magi itu selama 25 tahun dan sekarang mereka menghilangkannya," jelas Maldini kepada Football Italia.
ADVERTISEMENT
“Sulit untuk mengevaluasi Milan. Masalahnya, di bursa transfer musim panas saja mereka melepas 12 pemain berkarakter hebat. Nah, sekarang mereka masih mengharapkan tidak mengawali musim dengan kepayahan? Ya, mana mungkin!”
“Jujur saja, saya tidak dapat melihat apa yang sebenarnya mereka rencanakan. Apa yang jadi alasan mereka untuk memilih pemain-pemain yang sekarang, bahkan free transfer, semuanya terlihat begitu jauh dari apa yang pantas buat disebut sebagai rencana spesifik klub," tegas Maldini.
Di musim itu, eksodus besar-besaran melanda Milan. Sebabnya, tentu permasalahan finansial. Thiago Silva, Alessandro Nesta, Mark van Bommel, Gennaro Gattuso, Clarence Seedorf, Zlatan Ibrahimovic, Alexandre Pato, Antonio Cassano, Robinho, Filippo Inzaghi, Gianluca Zambrotta, dan Flavio Roma angkat kaki dari Milan. Sebagian karena pensiun, sebagian lagi karena pindah ke klub lain. Maldini mengkritisi klub menyoal eksodus besar-besaran ini.
ADVERTISEMENT
Oke, di satu sisi mereka menghadapi masalah finansial. Di sisi lain, mereka juga butuh regenerasi tim. Mengandalkan pemain bintang dan nama-nama senior yang itu-itu saja memang bukan perkara bijak. Namun, ada satu sisi lagi, bagaimana Milan mengatasi eksodus itulah yang dinilai Maldini janggal.
Dalam setiap klub sepak bola, termasuk Milan, ada dua pihak yang perlu diberi asupan gizi terbaik, apa pun keadaannya: manajemen dan kepelatihan. Bila manajemen punya tugas untuk mengurusi segala hal yang berkaitan dengan administrasi (seluruh aspek), maka kepelatihan punya peran untuk mengamankan hal-hal teknis di lapangan. Keduanya harus seirama supaya bisa menghasilkan harmoni dalam klub.
Untuk menjembatani kebutuhan keduanya yang sering kali bertolak belakang, tapi ada di bawah visi klub yang sama (rumit, bukan?), hadirlah sosok yang dikenal dengan sebutan direktur olahraga. Nah, peran seperti inilah yang dinilai Maldini tidak ada di Milan.
ADVERTISEMENT
Maldini vs Manajemen yang Tak Ada Habisnya
Segala hal tentang transfer diserahkan kepada Adriano Galliani. Sosok yang identik dengan dasi kuningnya ini di satu sisi memang punya tangan ajaib. Cerita-cerita bursa transfernya kerap diramaikan oleh free transfer dan kedatangan pemain murah, tapi punya kualitas yang tidak bisa dibilang buruk, walaupun tidak mengesankan.
Kebijakan transfer seperti ini memang tidak bisa dibilang buruk sepenuhnya karena menguntungkan manajemen. Namun, ia menjadi masalah karena tidak menguntungkan kepelatihan yang notabene merupakan ujung tombak klub.
Yang dipermasalahkan Maldini adalah ketidakseimbangan itu. Ia tidak meminta Galliani untuk angkat kaki dari klub. Yang ia minta, keberadaan direktur olahraga yang juga memahami apa yang dibutuhkan oleh tim kepelatihan. Tujuannya, supaya Milan tidak rugi secara manajemen dan kepelatihan. Berangkat dari pemahaman ini, tak heran bila Maldini menyerang Milan saat mereka menjual Kaka dan Andrea Pirlo.
ADVERTISEMENT
Katanya waktu itu, bila di dalam klub ada satu orang saja yang mengatakan bahwa kemampuan Pirlo sebagai pemain sudah tamat, seharusnya Galliani-lah yang menjadi orang pertama yang menentangnya. Di mata Maldini, Pirlo adalah bagian dari tradisi klub yang seharusnya dipertahankan.
Andrea Pirlo
Andrea Pirlo di laga melawan Inter, Desember 2007. (Foto: GIUSEPPE CACACE / AFP)
“Tahun lalu (akhir 2011 -red) (Massimiliano) Allegri menghubungi saya dan berkata bahwa ia membutuhkan seseorang untuk mengawasinya, untuk menegurnya saat ia melakukan kesalahan taktik atau bersikap di ruang ganti. Ia membutuhkan seseorang dengan karakter untuk bicara kepada para pemain dengan cara yang lebih tepat. Pikirnya saat itu, dengan segala hal yang saya bangun dan dapatkan di Milan, saya dapat melakukan tugas itu.”
Yang diminta Allegri masuk akal. Segala permasalahan yang dialami Milan membikin langkah mereka terseok-seok. Milan bukannya kehilangan pemain senior, tapi di mata Maldini dan Allegri, mereka kurang berpengaruh.
ADVERTISEMENT
Allegri adalah orang baru di Milan. Ia tak punya urusan apa-apa dengan Milan di masa lampau. Menyoal taktik, Allegri tak buruk. Namun, di tengah situasi pelik demikian ada satu elemen yang tak dapat disentuhnya: kepemimpinan.
Wajar bila Allegri tidak dapat mengangkat permainan timnya waktu itu. Peran Silva dan Nesta seketika digantikan oleh Mario Yepes, bek paling senior di musim itu. Padahal, selama Silva dan Nesta masih bertugas, Yepes banyak menganggur. Ya, bagaimana mungkin ia bisa mengangkat moral permainan lini pertahanan?
Itu baru lini pertahanan. Maju sedikit ke tengah, nama-nama besar pun meninggalkan tim. Bila berhitung mundur, Carlo Ancelotti pernah mengalami masalah serupa di era kepelatihannya. Saat itu Milan ditinggalkan Zvonimir Boban. Namun, Ancelotti mendapatkan Rui Costa sebagai pengganti Boban.
ADVERTISEMENT
Sementara, yang ada di tangan Allegri saat itu hanya Kevin Prince Boateng dan Antonio Nocerino. Persoalannya, keduanya mencapai performa terbaiknya saat Milan masih memiliki Ibrahimovic. Kemampuan hold-up ball pemain jangkung ini membuat mereka banyak mendapat ruang tembak. Hal yang tidak mereka dapatkan begitu Ibrahimovic angkat kaki dari MIlan.
Dengan keterbatasan materi dan kekangan permasalahan manajemen, Allegri merasa ia butuh orang ‘kuat’ untuk mengangkat moral Milan. Maldini menjadi sosok yang dinilainya pas. Namun, Galliani sudah lebih dulu menegaskan, bahkan langsung kepada Maldini dan Leonardo yang sempat bertemu dengannya, bahwa tidak akan ada direktur olahraga di Milan.
AC Milan
Milan telan kekalahan dari Fiorentina, November 2012. (Foto: OLIVIER MORIN / AFP)
Boban yang sudah meninggalkan Milan pun angkat bicara. Selayaknya Boban, ia bicara tanpa tedeng aling-aling. “Saya akan merombak hierarki dan bertindak tegas terhadap institusi serta memanggil Paolo Maldini.” Perkataan Boban itu muncul sesaat setelah Milan menelan kekalahan 0-1 di laga kandang melawan Atalanta pada 18 Januari 2015. Saat itu, Milan dilatih oleh Inzaghi.
ADVERTISEMENT
Keputusan manajemen Milan untuk tak mengangkat Maldini sebagai direktur olahraga memang mengherankan, tapi bukannya berarti tanpa alasan sama sekali. Di mata Curva Sud, Maldini adalah legenda durhaka. Ia berani mengkritik suporter yang di laga final Liga Champions 2005 menjual tiketnya dengan harga yang lebih mahal kepada pendukung Liverpool. Ia berani pula tidak mengindahkan permintaan Curva Sud untuk meminta maaf atau membantu mereka saat bermasalah dengan kepolisian Athena di final Liga Champions 2007.
Bahkan, jauh sebelum peristiwa ini terjadi, hubungan keduanya memang tak akur. Maldini kerap dipandang sebagai sosok yang arogan karena ia tak mau bermanis-manis dengan suporter. Itulah sebabnya, di laga perpisahan Maldini di San Siro, Curva Sud justru membentangkan replika kostum raksasa Franco Baresi. Bagi mereka, Milan hanya punya satu kapten: Baresi.
ADVERTISEMENT
Suporter, apalagi garis keras, adalah penguasa klub selain para direksi jajaran atas. Sebabnya, merekalah yang menjamin keuangan klub dengan membeli tiket dan merchandise resmi. Mereka pulalah yang menjadi pemain ke-12 di setiap pertandingan, tak peduli kandang ataupun tandang.
Bagi kedua penguasa Milan itu, Maldini memang tak punya tempat. Namun, tidak demikian bagi mereka yang menjadi ujung tombak klub (kepelatihan dan para pemain). Kalaupun Maldini langsung diangkat saat itu, tak ada jaminan yang pasti ia dapat menyelesaikan. Tapi, adakah yang terlihat lebih menjanjikan dibandingkan dengan orang yang mulutnya tak bisa disumpal oleh mereka yang jelas-jelas memberikan kontribusi tak sedikit buat klub? Itulah yang menjadi dasar argumen Boban.
Babak Baru Perjalanan Maldini: Direktur Pengembangan Strategis Milan
ADVERTISEMENT
Kini, Maldini resmi ada di dalam tubuh manajemen Milan, walaupun ia tak mendapat peran sebagai direktur olahraga yang sudah lama disuarakannya itu. Namun, setidaknya, jabatan itu muncul di era restrukturisasi Milan. Dan Leonardo yang jadi kawannya itulah yang mendapat tugas demikian.
Ini menjadi babak baru perjalanannya sebagai pegiat sepak bola. Yang menjadi masalah, Maldini masuk saat tim tidak sedang dalam keadaan baik-baik saja. Bahkan dalam rilis yang dikeluarkan oleh Elliott Management di laman resmi Milan, yang menjadi fokus mereka sekarang adalah stabilisasi keuangan. Itulah sebabnya, pada awalnya, Maldini tidak masuk dalam radar manajemen Milan.
Maldini adalah orang yang tidak mau melepaskan sejarah dan tradisi Milan. Untuk memahami kalimat ini, kita hanya perlu menyimak kritik-kritik yang dilemparkannya untuk Milan. Kebanyakan, akan menyinggung sejarah dan tradisi Milan di masa lampau.
ADVERTISEMENT
Di satu sisi, ini hal yang baik. Dalam situasi sulit macam ini, romantisme bisa menjadi pelecut semangat yang entah bagaimana caranya dapat membalikkan keadaan. Namun di sisi lain, urusan masa kini tak ada hubungannya dengan sejarah. Artinya, romantisme bukan menjadi obat untuk menyembuhkan penyakit Milan. Akal sehatlah yang menjadi obat itu. Kalaupun romantisme harus dipakai, maka fungsinya bukan sebagai penyembuh, tapi penghilang rasa sakit untuk sementara.
Tugas Maldini tak mudah, karena penyakit Milan sudah kronis dan mengakar. Itulah sebabnya, di jabatannya yang baru ini, Maldini tak bisa menjadi guru sejarah yang berteriak lantang bahwa Milan tak boleh memutus hubungannya dengan sejarah.
Segala kejayaan yang didapat Milan di masa lampau seharusnya menjadi pengingat bahwa Milan berhasil keluar dari masa sulit dan mendapatkan kejayaan. Bukannya mencontek mentah-mentah apa yang dilakukan saat itu karena bagaimanapun, permasalahan sekarang jauh lebih kompleks ketimbang periode lampau tadi.
ADVERTISEMENT
Dalam tugasnya yang baru sebagai direktur pengembangan strategis, Maldini mesti membuang jauh-jauh libido untuk menyembah segala pencapaian Milan di masa lampau. Satu hal yang mungkin harus diingat Maldini, membangun monumen untuk kejayaan masa lampau tidak dilarang. Hanya, jangan sampai monumen itu menjadi lebih besar daripada upayanya di masa kini. Bagaimanapun, setiap orang, termasuk orang-orang di Milan, memiliki naluri dan kebutuhan untuk melepaskan diri dari cengkeraman masa lampau.
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan