Kumparan Logo

Madura United: Menyatukan 4 Kabupaten, Mengikis Stigma Orang Madura

kumparanBOLAverified-green

clock
comment
2
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Aksi pemain Madura United saat melawan Persebaya Surabaya. Foto: Dok. Liga Indonesia
zoom-in-whitePerbesar
Aksi pemain Madura United saat melawan Persebaya Surabaya. Foto: Dok. Liga Indonesia

Madura tak pernah dikenal karena sepak bolanya. Karena memang sempat tak ada klub yang menjadi pusat perhatian pecinta sepak bola di sana.

Seiring berjalannya waktu, harapan penggemar si kulit bundar asal Madura terpenuhi. Fokus mereka tak hanya karapan sapi, tetapi juga sepak bola berkat kemunculan Madura United pada 2016 lalu.

Memang, awalnya tim beralias 'Laskar Sape Kerap' belum begitu dilirik. Perlahan tapi pasti, Stadion Ratu Pemelingan kian ramai dukungan untuk Madura United.

Sepak bola juga menjadi pemersatu warga Madura. Seperti penuturan Achsanul Qosasi, selaku Presiden Madura United bahwa empat kabupaten di Pulau Madura awalnya tak bersatu. Namun, lewat bal-balan empat kabupaten yang terdiri dari Bangkalan, Sampang, Pamekasan, dan Sumenep satu suara mendukung 'Laskar Sape Kerap'.

“Madura itu tidak ada yang memikirkan. Tidak diperhatikan. Madura empat kabupatennya berjalan sendiri-sendiri. Masih malu mengaku orang Madura. Malu karena tidak ada yang bisa dibanggakan. Padahal, sejarah, bahasa, dan nenek moyangnya sama. Orang Madura seringnya mengaku orang Jawa Timur,” kata Achsanul ketika diwawancarai kumparanBOLA.

Presiden Madura United, Achsanul Qosasi. Foto: Helmi Afandi/kumparan

AQ—sapaan akrab Achsanul—mencoba melihat komitmen warga Madura lewat sepak bola. Ia membuat jersi klub bertuliskan Madura di bagian depan. Ia menilai cara itu berisiko, tetapi toh ternyata menyatukan warga Madura.

“Itu seperti identitas mereka. Kalah malu, menang bangga. Perlahan, semua bersatu. Bahkan, sekarang orang Madura yang di luar pulai ikut bersatu. Kalau kami tandang, pasti ada saja orang Madura yang merantau ikut mendukung klub,” ujar AQ.

Sepak bola tak cuma menjelma menjadi kebanggawan warga Madura. Perekonomian juga makin berputar kencang begitu bal-balan merasuki Pulau Garam.

Achsanul mengakui bahwa sepak bola bisa membuat stigma terhadap orang Madura berubah. Sebelum ada sepak bola, menurut AQ, orang Madura dipandang kasar, arogan, atau kampungan.

“Nilai tawar orang Madura lebih rendah karena dinilai jelek. Kesan itu kemudian terkikis lewat sepak bola. Kami menanamkan persahabatan, terkhusus suporter. Sepak bola itu alat silaturahmi. Tengok kapan suporter bikin onar. Saya menegaskan bahwa kalau sekali bikin masalah, saya berhenti urus sepak bola,” tutur Achsanul.

Tak berhenti membentuk kesan terhadap warga Madura, sepak bola Madura juga sudah membawa karakter baru dalam warna-warni kulit bulat Nusantara. Madura United membawa filosofi khas daerah.

“Saya menekankan kepada pemain, kalau jatuh harus bangun, jika ketinggalan mesat mengejar, bila kehilangan kudu merebut. Jangan cengeng. Tidak ada di Madura United ketika sedang unggul bertindak tidak sportif seperti mengulur-ulur waktu dengan pura-pura sakit atau lainnya,” kata AQ.

X post embed

AQ bakal naik pitam jika tindakan tersebut dilakukan pemainnya. Ia mengingatkan agar sebisa mungkin tidak ada medis yang masuk ke lapangan.

Nilai-nilai tersebut berangkat dari cita-cita AQ semasa kecil. Baginya, sepak bola mengajarkan banyak ilmu kehidupan. Mulai dari kemanusiaan, emosi seperti sedih, senang, dan cinta, sportivitas, kebersamaan, kepedulian, serta kedisiplinan.

Saat ini, belum ada anak Madura asli yang menjadi bintang lapangan hijau. Perlahan, AQ bersama Madura United punya ide menelurkan pesepak bola andal asli Pulau Garam. Ia mulai fokus dalam pembinaan usia dini.

“Tim U-16 Madura United 100% anak Madura. Tim U-19 ada 70% pemain berdarah Madura. Mereka butuh panutan untuk membimbing. Karena itu, kami merekrut pemain bintang. Mereka bisa belajar dari pemain senior. Nanti ketika sudah waktunya mereka akan menjadi pemain inti Madura United. Istilahnya, pemain bintang ini lokomotif yang menarik gerbong pemain-pemain junior,” ujar Achsanul.

Bola Jerami

Ya, AQ sudah menyenangi sepak bola sejak kecil. Ia bercerita kepada kumparanBOLA ketika kecil suka main bola plastik.

“Setiap sore main bola. Tanpa alas kaki. Jempol luka itu biasa. Kalau bolanya pecah tinggal diisi jerami. Posisi saya dulu striker,” cerita Achsanul.

Achsanul Qosasi Foto: Instagram @achsanul_q

Tak heran jika dia geram begitu melihat persepakbolaan Tanah Air sulit mengejar negara-negara lain di Asia, khususnya Asia Tenggara yang tengah melaju kencang. Ia merasa kebanggaanya telah dicederai. Apalagi banyak konflik dan skandal yang kini mengemuka.

Selain itu, AQ menilai tidak adanya koordinasi yang baik antara pemerintah dan PSSI justru menjatuhkan martabat sepak bola.

“Negara itu punya duit. PSSI tentu tidak mampu kalau disuruh bangun infrastruktur. Negara kita itu mampu. Tinggal dana itu dipertanggungjawabkan oleh PSSI. Kenapa ini sulit berdampingan?”

Sebagai penutup cerita soal kecintaan AQ dengan sepak bola, ia turut membeberkan pandangannya bagaimana semestinya sepak bola dikelola.

“PSSI harus bisa menjadi penyelenggara, pemasaran, dan manajemen profesional. Jangan terlibat konflik. Jangan jadikan sepak bola sebagai batu loncatan. Sepak bola itu punya kekuatan jaringan dan basis massa besar. Bertindaklah profesional untuk memanfaatkan dua kekuatan itu. Jangan cuma memanfaatkan untuk kepentingan pribadi atau kelompok,” tutur Achsanul.