Kumparan Logo

Suara-Suara Monyet: Hikayat Kelam Rasialisme di Sepak Bola Italia

kumparanBOLAverified-green

clock
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kevin Prince Boateng ketika masih memperkuat AC Milan. (Foto: Emilio Andreoli / AFP)
zoom-in-whitePerbesar
Kevin Prince Boateng ketika masih memperkuat AC Milan. (Foto: Emilio Andreoli / AFP)

Meski bertajuk laga pramusim, tapi laga tandang AC Milan melawan Pro Patria yang dihelat pada Januari 2013 terasa sangat tak santai. Pemain-pemain kulit hitam milik Milan saat itu terus menjadi sasaran suara-suara monyet yang diciptakan penyokong tim tuan rumah.

Aksi itu membuat Kevin-Prince Boateng tak tahan. Ketika laga berjalan 25 menit, dia melepas kaus merah-hitamnya dan berjalan ke ruang ganti. Aksi penyerang berkebangsaan Ghana itu diikuti rekan-rekannya sehingga pertandingan ini resmi dihentikan.

Tindakan itu dengan pujian dan dukungan untuk Boateng. Milan kemudian mengampanyekan pesan anti-rasialisme bahkan dalam sesi pemanasan sebelum laga. Sementara, federasi sepak bola Italia, FIGC, membongkar data kasus rasialisme di sepak bola Italia.

Setidaknya ada 50 kasus rasialisme yang terjadi di sepak bola Italia sejak dari enam tahun sebelumnya hingga 2013. 48 di antaranya adalah masalah yel-yel bernada rasialisme, sementara sisanya merupakan spanduk penuh celaan. Mereka berjanji akan berbenah.

Sementara, Boateng masuk dalam FIFA Task Force Against Racism and Discrimination, organisasi yang dibentuk FIFA untuk mengenyahkan rasialisme. Lantas, apa yang berubah sejak kejadian tersebut, setidaknya di sepak bola Italia?

Jawabannya, jika menurut Boateng, tidak ada.

“Ayolah, sepertinya lebih serius peperangan terhadap penyalaan suar (pyro) dalam stadion daripada rasialisme,” kata Boateng kepada ESPN pada November silam. Kini, dia memperkuat US Sassulo, yang berada di posisi ke-11 klasemen sementara Serie A musim ini.

“Di dalam stadion, ketika seseorang menyalakan suar, seseorang di stadion akan meminta agar suar segera di matikan. Kemudian timmu akan didenda 20 ribu euro oleh FIGC. Tapi, ketika ada yel-yel rasialisme, tidak ada," lanjutnya.

Pernyataan Boarteng ini terbukti di laga Inter Milan versus Napoli di Stadion Giueseppe Meazza, Kamis (27/12/2018) dini hari WIB. Harusnya, laga itu hanyalah perkara posisi di klasemen sementara Serie A. Karena laga itu berakhir dengan kemenangan 1-0 bagi Inter, maka La Beneamata hanya tertinggal 6 poin dari Napoli di posisi kedua.

Koulibaly sedang kesal, ditenangkan pemain Inter. (Foto: REUTERS/Alberto Lingria)
zoom-in-whitePerbesar
Koulibaly sedang kesal, ditenangkan pemain Inter. (Foto: REUTERS/Alberto Lingria)

Namun, tidak. Di laga itu, suporter Inter terus mencemooh Kalidou Koulibaly setiap kali dia memegang bola. Kebetulan ball-playing defender berkebangsaan Senegal itu satu-satunya pemain kulit hitam yang tampil di laga tersebut. Terus mendapatkan perlakuan seperti itu membuat Koulibaly tak tahan.

Ketika laga berjalan 80 menit, Matteo Politano terjatuh ketika tengah mengejar bola dengan Koulibaly. Aksi tersebut membuatnya tak hanya mendapatkan kartu kuning, tapi juga cemoohan dari seluruh suporter Inter yang berada di stadion.

Koulibaly meresposnya dengan memberikan tepuk tangan dengan tujuan sarkastik. Aksi tersebut mendapatkan respons kartu merah dari wasit. Setelahnya, suara cemoohan makin nyaring menggema di stadion.

Kasus yang menimpa Koulibaly bukan satu-satunya kasus rasialisme yang terjadi pada 2018. Mei silam, Mario Balotelli juga menjadi sasaran ketika menjadi kapten Timnas Italia di laga berakhir kemenangan 2-1 atas Arab Saudi.

Di tengah laga yang dihelat di AFG Stadium, Swiss, itu, kemudian terbentanglah sebuah spanduk bertuliskan, ‘Il mio captano e di sangue Italiano. ‘Kaptenku harus punya darah Italia’. Spanduk tersebut buru-buru dilenyapkan oleh pihak keamanan.

Melihat kasus yang menimpa Koulibaly dan Balotelli, jelas sudah bahwa sepak bola Italia tak pernah ke mana-mana dalam urusan rasialisme. Karena di tahun-tahun sebelumnya pun, kasus serupa juga terjadi. Dalam tulisan ini, kami akan merangkum kasus rasialisme yang terjadi dari tahun 2014.

2017

Ruediger resmi berseragam Chelsea. (Foto: Chelsea)
zoom-in-whitePerbesar
Ruediger resmi berseragam Chelsea. (Foto: Chelsea)

Antonio Ruediger memutuskan pindah ke Chelsea pada bursa transfer musim panas 2017. Salah satu alasannya karena tak tahan dengan sikap rasialisme yang dialamatkan kepadanya ketika masih memperkuat AS Roma.

Ruediger mendapatkan pelecehan secara verbal dari tim lawan ketika tampil di laga Coppa Italia melawan Lazio di Stadio Olimpico, Maret 2017. Namun, bek berkebangsaan Jerman itu sadar bahwa dia bukan satu-satunya korban rasialisme.

Medhi Benatia juga mengalami pengalaman serupa ketika tampil untuk Juventus di laga berakhir imbang 1-1 dengan Torino pada Mei 2017. Tapi, kasus kali ini tak dilakukan oleh fans. Melainkan oleh orang-orang yang harusnya lebih beretiket.

Ketika melakukan wawancara pascalaga bersama Rai yang disiarkan secara langsung di televisi, bek berkebangsaan Maroko itu mendengarkan kalimat celaan dari earphone-nya. “Apa kau bilang, orang Maroko sampah? Siapa orang bodoh yang telah mengatakannya?”

Pembawa acara kemudian berusaha menenangkan situasi. “Sepertinya ada kesalahan teknis tadi. Tidak ada seorang pun yang mendengar ada celaan tadi.” Benatia mengusap alisnya, lalu pembawa acara itu kemudain buru-buru menyudahi sesi tersebut.

Kasus rasialisme yang terjadi di tahun itu juga menimpa Sulley Muntari. Ketika tampil untuk Pescara di laga tandang melawan Cagliari, April 2017, Muntari juga mendapatkan pelecehan verbal dari penyokong Cagliari. Eks pemain AC Milan dan Inter Milan itu kemudian melapor kepada wasit di akhir laga.

Namun, reaksi yang didapatkan Muntari tak sesuai harapan. Alih-alih menanggapi secara serius, wasit malah memerikan Muntari kartu kuning. Karena kecewa, Muntari kemudian memutuskan untuk meninggalkan lapangan.

“Mudah saja bagi orang-orang dari luar, yang warna kulitnya tak sama dengan kami, untuk bilang ‘Tenang saja, jangan dengarkan’. Tapi, cara seperti itu tak mengubah keadaan,” ucap Ruediger dengan geram kepada Bild tahun 2017.

2016

Koulibaly merayakan gol penyama kedudukan. (Foto: Reuters/Ciro De Luca)
zoom-in-whitePerbesar
Koulibaly merayakan gol penyama kedudukan. (Foto: Reuters/Ciro De Luca)

2018 bukan kali perdana bagi Koulibaly mendapatkan perlakuan rasialis. Febuari 2016, Koulibaly juga pernah menjadi sasaran rasialisme ketika tampil untuk Napoli di laga melawan Lazio yang dihelat di Stadio Olimpico.

Karena memiliki dua telinga, pelatih Lazio saat itu, Stefano Pioli juga mendengar pekikan-pekikan monyet dari Laziale yang dialamatkan untuk Koulibaly. Namun, Pioli merasa masalah ini tak sepatutnya dibesar-besarkan.

“Itu hanya minoritas fans kami saja, lagipula saya tidak merasa itu wujud rasialisme. Kami punya juga kok pemain dengan warna kulit berbeda dan dia diperlakukan baik-baik saja,” kata Pioli kepada Premium Sport selepas laga.

Untuk memberikan dukungan kepada Koulibaly, terbentang sebuah spanduk di tempat latihan Napoli tak lama setelah insiden itu terjadi. Spanduk itu bertuliskan, “Banggalah dengan warna kulitmu, Koulibaly. Karena kau adalah seorang petarung.”

Dukungan tak henti sampai di situ. Setelah laga melawan Lazio, yakni melawan Carpi di San Paolo, seluruh fans Napoli mengangkat kertas dengan foto wajah Koulibaly tercetak di sana. Aksi tersebut menuai pujian dari pelatih Napoli saat itu, Maurizio Sarri.

“Luar biasa apa yang dilakukan suporter hari ini, karena mereka menunjukkan rasa sayang kepada seseorang yang memiliki karakter yang kuat,” kata mantan bankir itu selepas laga yang berakhir dengan kemenangan 1-0 bagi Napoli itu, sebagaimana dilansir the42.ie.

Lazio mendapatkan hukuman 50 ribu euro dan tampil tanpa suporter pada dua laga kandang berikutnya.

2015

Mantan pelatih Milan, Arrigo Sacchi. (Foto: Wikimedia Commons)
zoom-in-whitePerbesar
Mantan pelatih Milan, Arrigo Sacchi. (Foto: Wikimedia Commons)

Salah satu kasus rasialisme di sepak bola Italia yang terjadi pada 2015, ironisnya malah menyangkut Arigo Sacchi yang lengedaris itu. Februari 2015, eks pelatih Milan dan Timnas Italia itu menunjukkan keresahannya terhadap kondisi Timnas Italia saat itu.

“Timnas Italia sekarang tidak memiliki rasa bangga atau martabat, karena banyak pemain-pemain asing yang tampil di liga U-20. Banyak pemain kulit hitam di sistem pembinaan pemain muda kita,” kata Sacchi, sebagaimana dilansir La Gazzetta dello Sport.

Beberapa hari kemudian, Sacchi membantah bahwa dia seorang rasialis. Namun, terlihat jelas dari pernyataannya jika Sacchi menggunakan tameng khas seorang rasialis.

“Saya jelas bukan seorang rasialisme, karena dahulu saya pernah melaith Rijkaard,” kata Sacchi. Frank Rijkaard merupakan pesepak bola kulit hitam asal Argentina yang pernah dilatih Sacchi ketika keduanya masih di Milan.

Kejadian kurang lebih mengejutkan di tahun itu juga menimpa tim U-10 Milan. Ketika menang 4-0 atas Paris Saint Germain di laga perempat final Universal Cup yang dihelat di Tuscany, Italia, April 2015, pemain-pemain kulit hitam dan kelewat muda Milan mendapatkan perlakuakn rasialis dari para penonton.

Walau begitu, tidak ada aksi lanjut dari FIGC.

2014

Mantan Presiden FIGC, Carlo Tavecchio. (Foto: AFP/Alberto Pizzoli)
zoom-in-whitePerbesar
Mantan Presiden FIGC, Carlo Tavecchio. (Foto: AFP/Alberto Pizzoli)

Kejadian paling mengejutkan menyangkut tindak rasialisme di sepak bola Italia dalam beberapa tahun terakhir terjadi pada Juli 2014. Atau kurang lebih setahun setelah aksi Kevin-Prince Boateng yang menjadi headline di berbagai surat kabar di ragam belahan dunia.

Menyedihkan, karena kali ini pelakunya adalah Carlo Tavecchio. Saat itu, Taveccio masih menjbaat sebagai ketua FIGC. Taveccio kemudian menyebut nama pesepak bola kulit hitam fiktif bernama Opti Poba.

“Di sini, kami punya Opti Poba. Dahulu dia makan pisang sekarang dia menjadi pemain inti. Di Inggris, dia perlu menunjukkan kepatuhan yang baik dalam dunia pendidikan dan datang dari keluarga yang baik-baik pula.”

Atas tindakan itu, Tavecchio mendapatkan enam bulan larangan mengurus FIGC langsung dari UEFA.

Kenapa Rasialisme Marak di (Sepak Bola) Italia?

Bek Napoli, Kalidou Koulibaly, tertunduk lesu saat timnya dikalahkan Sampdoria. (Foto: Reuters/Jennifer Lorenzini)
zoom-in-whitePerbesar
Bek Napoli, Kalidou Koulibaly, tertunduk lesu saat timnya dikalahkan Sampdoria. (Foto: Reuters/Jennifer Lorenzini)

Sebenarnya, rasialisme tak hanya marak di dunia sepak bola Italia. Cecile Kyenege, Menteri Pemerintah kulit hitam pertama milik Italia, pun pernah mendapatkan perlakuan serupa pada Juli 2013. Dia pernah dilempari pisang, pernah pula dicela figur senator partai Lega Nord bahwa dia mirip dengan orangutan.

Sejarah panjang menunjukkan bahwa memang sangat sedikit sekali orang yang bisa berbahasa Italia dari negeri lain yang bisa terintegrasi dengan orang-orang Italia ‘asli’. Bahkan, ketika mereka telah bersikeras belajar dan menerapkan kultur Italia dalam kehidupan sehari-hari.

Selain itu, hal ini juga terjadi karena ideologi kanan ekstrem yang ditanamkan Benito Mussolini, diktator Italia termasyhur itu, masih juga dijalankan orang-orang beraliran serupa hingga detik ini. Ketika melihat orang ‘asing’, mereka memiliki ketakutan yang tak bisa dijelaskan.

Dalam konteks sepak bola, Alberto Testa punya pandangan menarik. Penulis buku ‘Football, Facism and Fandom: The UltraS of Italian Football’ itu mengetahui bahwa salah satu alasan suporter di Italia melakukan tidak rasialis karena mereka yakin hal tersebut efektif untuk menjatuhkan lawan.

Lantas, apa yang bisa dilakukan orang-orang yang terus menjadi bulan-bulanan rasialisme di sepak bola Italia? Eks pemain Juventus, AC Milan, dan Inter Milan bernama Edgar Davids punya kiatnya sendiri. Dia mengungkapkan triknya dalam sebuah sesi wawancara dengan CNN.

“Saya menemui masalah ketika tampil di berbagai tempat. Tapi, saya profesional, saya punya tanggung jawab. Saya merasa seperti itu dan cara tercerdik menghadapinya adalah tampil sebagus mungkin sehingga mereka marah,” kata Davids.

Namun, tentu saja cara Davids ini dilakukan karena kesadaran FIGC tidak mampu bertindak apa-apa. Bahkan, sampai detik ini pun tidak ada kemajuan drastis dalam sepak bola Italia dalam mengatasi rasialisme.

Walau begitu, tindakan perlindungan yang ditunjukkan fans Napoli kepada Koulibaly telah menunjukkan bahwa masih ada setitik harapan bagi sepak bola Italia lepas dari jerat rasialisme. Memodifikasi bait lagu dari Efek Rumah Kaca, masih ada cara bagi sepak bola Italia untuk menjadi besar.