Kumparan Logo

Pemain Kanada Tak Terima Permintaan Maaf Priestman: Rasanya Sulit Sekali

kumparanBOLANITA

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
 Beverly Priestman Foto: William WEST / AFP
zoom-in-whitePerbesar
Beverly Priestman Foto: William WEST / AFP

Pelatih Timnas Wanita Kanada, Beverly Priestman, merilis permintaan maafnya pada Minggu (28/7) kemarin usai terlibat dalam insiden mata-mata terhadap Selandia Baru di Olimpiade Paris 2024. Namun, para pemain tidak yakin apakah bisa memaafkan perbuatan si pelatih.

Pekan lalu, tepatnya pada Senin (22/7), dua staf Timnas Wanita Kanada, yakni Jasmine Mander (asisten pelatih) dan Joey Lombardi (tim analis), ketahuan mengintip sesi latihan Selandia Baru menggunakan pesawat nirawak.

Keduanya, juga Priestman yang berada di belakang insiden itu, dihukum skorsing satu tahun oleh FIFA. Federasi Sepak Bola Kanada (CSA) juga didenda sebesar 175 ribu paun atau sekitar Rp3,6 miliar.

Tak cuma itu, pemain Timnas Wanita Kanada yang tak terlibat dalam insiden ini juga kena getahnya. Poin mereka di sepak bola wanita Olimpiade Paris 2024 dikurangi sebanyak enam!

Priestman juga telah meminta maaf pada para pemain yang, menurutnya, menghadapi masa sulit akibat insiden ini. Namun, penjaga gawang Timnas Wanita Kanada, Kailen Sheridan, agak sulit menerima permintaan maaf itu.

“Saat ini, benar-benar sulit. Ini adalah hal yang sangat sulit untuk dilakukan,” ujarnya kepada The Guardian, Senin (29/7).

“Saya pikir, di kemudian hari kita akan berada di tempat di mana kita bisa menerima itu (memaafkan). Tapi untuk sekarang ini, kita tetap berada dalam zona aman, tidak mengizinkan apa pun masuk,” imbuhnya.

“Saya pikir ini sangat penting. Sejauh ini terbukti berhasil. Kami akan terus melakukannya selama yang kami bisa, dan kami akan membuktikan bahwa beberapa orang salah,” pungkas Sheridan.

Pemain Timnas Wanita Kanada Nichelle Prince berebut bola dengan pemain Timnas Wanita Selandia Baru Abby Erceg pada pertandingan Grup E Piala Dunia Wanita Prancis 2019 di Stadion Alpes di Grenoble, Prancis, pada 15 Juni 2019. Foto: Jean-Pierre Clatot / AFP

Tangan Hampir Patah karena Menahan Kesal

Selain Kailen Sheridan, pemain Kanada yang merespons soal kasus ini adalah Vanessa Gilles. Ia baru saja menjadi pahlawan kemenangan timnya atas Prancis usai mencetak gol di menit 90+12’.

Dilansir dari The Guardian, bek Olympique Lyonnais (Lyon) itu mengungkapkan bahwa tangannya hampir patah usai meninju dinding karena marah ketika pertama kali mendengar tentang pengurangan poin. Ia mengatakan bahwa para pemain Kanada tidak terlibat dalam operasi drone tersebut.

“Kami tidak terlibat dalam semua ini, tapi kami dijatuhi sanksi seolah-olah baru saja tertangkap basah doping. Kami tidak melakukan apa pun. Kami hanya lelah membela diri atas sesuatu yang tidak dapat kami kendalikan,” ucap Gilles, dikutip dari The Guardian.

“Kami tidak mendapat keuntungan apa pun. Kami ke lapangan, bermain dengan sepenuh hati, bekerja keras sepanjang tahun, setiap hari. Jadi, hal-hal yang tidak bisa kami kendalikan itulah yang membuat marah dan frustrasi,” lanjutnya.

kumparan post embed

Sementara itu, Jessie Fleming, pemain andalan Kanada yang mencetak gol pembuka di laga kontra Prancis, memilih melihat ontran-ontran ini dengan positif. Baginya, situasi yang dialami timnya dapat membantu mempererat hubungan mereka. “Rasanya seperti kami melawan dunia saat ini,” katanya.

The Canucks—julukan Timnas Wanita Kanada—saat ini berada di posisi ketiga dalam klasemen sementara Grup A. Mereka sudah memenangkan dua laga: 2-1 atas Selandia Baru dan 1-2 atas Prancis. Namun, akibat insiden ini, poin Kanada yang seharusnya enam menjadi nol.

Kendati demikian, mereka masih punya kans untuk lolos ke babak selanjutnya andai menang di satu laga tersisa. Di laga pamungkas nanti, Kanada akan berhadapan dengan Kolombia di Stade de Nice, Prancis, pada Rabu (31/7) malam WIB.

instagram embed