Food & Travel
·
27 Juli 2021 17:51
·
waktu baca 2 menit

Berusia 140 Tahun, Restoran Sukiyaki Tertua di Tokyo Gulung Tikar akibat Pandemi

Konten ini diproduksi oleh kumparan
Berusia 140 Tahun, Restoran Sukiyaki Tertua di Tokyo Gulung Tikar akibat Pandemi (170541)
searchPerbesar
Ilustrasi sukiyaki Foto: Pixabay
Satu kegiatan wajib para turis saat ke Tokyo adalah menikmati sukiyaki. Hidangan hangat khas Negeri Sakura itu sudah lama jadi salah satu ikon kuliner di sana. Tepatnya di distrik Asakusa, berdiri restoran sukiyaki paling fenomenal dan bersejarah.
ADVERTISEMENT
Chinya namanya. Sudah ada sejak 140 tahun lalu. Sedari periode Meiji yakni tahun 1880, penduduk Jepang gemar menyantap daging sapi rebus atau sukiyaki milik Chinya. Setiap hari, restoran tertua itu selalu ramai, tak pernah sepi pelanggan. Banyak orang berbondong-bondong datang ke sana untuk bisa menikmati gurih dan lezatnya sukiyaki.
Sayangnya, meski dinilai laku keras, Chinya tidak dapat bertahan ketika pandemi mulai menyerang Jepang. Selama satu tahun lebih, penduduk lokal menghindari beraktivitas di luar. Mereka memilih berada di rumah guna menjaga keamanan dan kesehatannya.
Faktor ini merupakan titik awal Chinya mulai kehilangan pelanggan. Mengutip Japan Today, selama pandemi, restoran tersebut mengalami kerugian cukup banyak. Mereka tidak bisa bertahan layaknya restoran lain, lantaran produk yang dijual tidak cocok dikonsumsi bila tidak dimakan di tempat.
ADVERTISEMENT
Kebanyakan restoran saat terdampak pandemi akan beralih ke layanan delivery serta take-away. Mereka bisa menyesuaikan dengan aturan terbaru. Namun, tidak dengan Chinya.
Mereka memiliki prinsip, bahwa sukiyaki lebih nikmat dan harus langsung disantap saat baru matang. Sebab, rasa yang tercipta lebih segar dan autentik. Terlebih seperti kita ketahui, orang Jepang tak main-main dalam menyajikan makanan. Mereka selalu mengutamakan rasa dan kualitas.
“Sukiyaki pada dasarnya adalah hidangan untuk mendekatkan banyak orang,” ujar pemilik generasi keenam Chinya, Fumihiko Sumiyoshi. Ucapan Sumiyoshi menggambarkan bila makanan khas tersebut merupakan simbol kebersamaan. Sebab selama ini orang-orang Jepang datang ke restoran bersama teman dan keluarga. Mereka langsung memesan sukiyaki, mengingat porsinya besar serta disukai oleh banyak orang.
ADVERTISEMENT
Jika, Chinya harus menyediakan satu mangkuk untuk satu pelanggan. Maka, kemungkinan besar, biayanya akan lebih tinggi. Esensi dari menghidangkan kuliner tradisional tersebut secara hangat dan segar pun bisa hilang.
Berusia 140 Tahun, Restoran Sukiyaki Tertua di Tokyo Gulung Tikar akibat Pandemi (170542)
searchPerbesar
com-Ilustrasi Sukiyaki Foto: Shutterstock
Kabar penutupan Chinya jelas membuat penduduk Jepang merasa sangat kehilangan. Bukan hanya itu, wisatawan asing serta pencinta kuliner Jepang ikut kehilangan salah satu destinasi wisata kuliner favorit mereka.
Sejumlah seniman pun ikut merasa sedih. Pasalnya, restoran bersejarah itu punya interior desain tradisional Jepang yang sungguh kental. Sangat disayangkan, mereka tak lagi bisa menikmati sukiyaki sambil mengagumi keindahan interior restoran.
Pada 15 Agustus 2021, menjadi hari terakhir Chinya beroperasi. Kendati, mereka berharap bisa segera dipertemukan kembali oleh para pelanggan. Kini, guna mengenang semua memori tentang Chinya dan sejarah kulinernya, pihak restoran berpesan untuk selalu mendengarkan lagu ‘Ue Wo Muite Arukou’, sebuah senandung untuk bisa meredam kerinduan karena tutupnya restoran Jepang berusia 140 tahun itu.
ADVERTISEMENT
Reporter: Balqis Tsabita Azkiya
Baca Lainnya
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020