Cerita Pebisnis Kue Kering hingga Sushi yang Terdampak Wabah Corona

Bisnis kuliner di Tanah Air bak berada di tengah samudera dengan gelombang ombak yang tak menentu arahnya akan membawa ke mana. Usaha demi usaha mereka lakukan untuk setidaknya bisa bertahan di industri yang cukup terdampak wabah corona ini.
Cara yang paling memungkinkan untuk tetap ada pemasukan dan menghidupi karyawan adalah dengan berjualan online. Platform media sosial hingga fitur-fitur di Google; seperti Google Ads atau Google Bisnisku juga tak luput dimanfaatkan oleh para pebisnis kuliner ini.
Ya, Retno Utari misalnya, dikutip dari rilis yang kumparan terima (14/5), pemilik usaha Sushi Rakyat ini mengaku biasanya di bulan Ramadhan ada peningkatan omzet sebesar 30 persen. Namun, adanya pandemi yang mengharuskan masyarakat untuk #dirumahaja membuat hal tersebut tak kejadian di tahun ini.
Sushi Rakyat sudah ada sejak Oktober 2011 yang berlokasi di Tangerang, Banten. Sushi buatan Retno ini memiliki ciri khas rasa yang sudah disesuaikan dengan selera masyarakat Indonesia. Tidak hanya sushi, Retno juga menjual dimsum, takoyaki dan baked salmon dibantu oleh lima orang karyawan.
Meskipun begitu, Retno tetap berjualan dengan mengikuti anjuran pemerintah. "Saya mengikuti anjuran pemerintah untuk social distancing hingga Lebaran. Kini kedai Sushi Rakyat tidak menerima pelanggan untuk makan ditempat, melainkan hanya menerima layanan pick up atau take away. Jadwal kerja karyawan juga saya berlakukan shift, untuk meningkatkan kebersihan dan mengurangi kerumunan," ungkapnya.
Perempuan yang dulunya berprofesi sebagai bankir ini kini memilih untuk bekerja dari rumah sembari mengurus anak. Memasuki tahun ke sembilan Sushi Rakyat, membuat Retno tersadar bahwa menjalankan bisnis secara offline saja tak cukup. Ia harus juga menghidupkan bisnis kulinernya melalui sistem daring.
Kini Retno mengaku tengah mempersiapkan stok bahan baku lebih banyak dari sebelumnya. Selain karena permintaan makanan melalui pesan antar meningkat, kini ia juga memanfaatkan penjualan melalui wadah e-commerce.
Hal serupa juga dirasakan Sekar pemilik usaha kue kering SCHATZ Snack & Cookies yang mengaku pendapatannya juga menurun. Ia mengatakan kalau pesanan menurun lantaran banyak kekhawatiran dari pelanggannya bila membeli makanan dari luar.
Menjawab kekhawatiran tersebut Sekar kini meningkatkan standar kebersihan di dapurnya. SCHATZ Snack & Cookies yang biasanya menjual kue lebaran kini juga menambah menu takjil dan jajan pasar sebagai strategi penjualan baru selama bulan puasa.
Pendapat yang menurun turut membuat Sekar menjalankan bisnis sampingan baru, yakni berjualan produk kecantikan. Ia menjual shampoo, conditioner, serum, lulur, hair spa, cat rambut dan lainnya secara online. Sekar juga menjadi aktif berbagi tips kecantikan di akun media sosial untuk tetap terhubung dengan pelanggannya.
(Simak panduan lengkap corona di Pusat Informasi Corona)
***
Yuk! bantu donasi atasi dampak corona.
