Arie Kriting: PON Sebelumnya Tidak Ada Istilah Ikon
·waktu baca 2 menit

Arie Kriting mengkritik mengenai Nagita Slavina yang ditunjuk sebagai ikon PON XX Papua. Hal itu terlihat dari unggahan di Instagram beberapa waktu belakangan ini.
Poin utama yang diangkat oleh Arie adalah tentang cultural appropriaton. Dikutip dari Everyday Feminism, cultural appropriation adalah sebuah konsep yang biasa digunakan untuk menyebut seseorang yang meminjam atribut budaya lain. Dalam hal ini, anggota budaya dominan meminjam budaya minoritas.
Alasan Arie Kriting Kritik Penunjukan Nagita Slavina sebagai Ikon PON XX Papua
Menurut Arie Kriting, penunjukan Nagita Slavina sebagai Ikon Pon XX Papua dapat mendorong terjadinya cultural appropriation.
Pria 36 tahun ini mengatakan dirinya sudah melihat penjelasan dari pihak pelaksana soal polemik PON XX Papua.
“Tidak ada sedikit pun jawaban atas tindakan cultural appropriation itu, hanya penjelasan duta dan ikon,” tulis Arie di akun Instagram miliknya, Jumat (4/6).
Pemain sepak bola Boaz Solossa ditunjuk sebagai Duta PON. Sementara itu, Nagita dan suaminya, Raffi Ahmad, menjadi Ikon PON. Hal ini diketahui dari unggahan Boaz di akun Instagramnya.
“Proses penyerahan simbolis diberikan oleh Bapak Roy Letlora, S.Hut., MM. Ketua II PB PON XX Tahun 2021 Provinsi Papua. Yuk sama-sama kita sukseskan PON Papua 2021. Torang bisa!” tulis Boaz.
Arie juga mengkritisi mengenai istilah ikon untuk PON XX Papua. Sebab, istilah tersebut tidak ada sebelumnya.
“Sebelum-sebelumnya tidak ada istilah ikon dalam PON di tempat lain. Apa yang membuat kalian merasa boleh melakukan hal ini pada orang Papua, terutama perempuan Papua,” tulis Arie.
Menurut Arie, banyak perempuan asal Papua yang bisa ditunjuk sebagai Duta atau Ikon PON. Salah satunya adalah Nowela Elizabeth Mikhelia Auparay, penyanyi jebolan Indonesian Idol.
“Ini event digelar di Tanah Papua, mari tempatkan Putra dan Putri Papua sebagai penampil utama. Kita support PON XX Papua bersama-sama yuk. Kan enak kalau melihat cantik itu dari perwakilan perempuan Papua juga,” tulis Arie.
"Duta PON XX Papua, Boaz dan Perempuan Papua. Itu saja cukup. Tinggal kita support bersama-sama,” lanjutnya.
Dalam unggahan lainnya, Arie menyebut lebih baik istilah ikon untuk PON XX Papua dihilangkan.
“Hilangkan istilah ikon yang mengada-ngada itu. Mari support orang Papua menjadi tuan rumah seutuhnya,” tulis Arie.
