Kumparan Logo

Benarkah Anak Obesitas Lebih Rentan Kena Gangguan Ginjal Akut?

kumparanMOMverified-green

ยทwaktu baca 4 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Benarkah Anak Obesitas Lebih Rentan Kena Gangguan Ginjal Akut? Foto: Shutter Stock
zoom-in-whitePerbesar
Benarkah Anak Obesitas Lebih Rentan Kena Gangguan Ginjal Akut? Foto: Shutter Stock

Kasus gangguan ginjal akut misterius atau Acute Kidney Injury (AKI) pada anak akhir-akhir ini menjadi sorotan. Pasalnya, sudah 131 anak di Indonesia mengalami penyakit misterius ini dan masih belum diketahui penyebab pastinya.

Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) sendiri mencatat lonjakan kasus terjadi dalam dua bulan terakhir, terhitung Agustus dan September 2022. Di bulan Oktober ini, kasusnya telah tersebar di 14 provinsi. Meski penyebabnya masih terus diteliti, IDAI mengingatkan orang tua perlu waspada apabila anak mengalami batuk, pilek, diare, demam, muntah, hingga jumlah urine anak yang berkurang drastis.

Mungkin Anda selama ini mengetahui bahwa gangguan ginjal akut hanya dialami oleh orang dewasa. Namun yang kini tengah merebak justru menjangkiti anak-anak, khususnya di bawah usia lima tahun dan ada yang berumur delapan tahun.

Ya Moms, ada beberapa golongan yang diduga lebih rentan terkena gangguan ginjal akut, salah satunya anak yang obesitas. Lantas, benarkah hal itu?

Anak Obesitas Lebih Rentan Kena Gangguan Ginjal Akut?

Anak Obesitas Lebih Rentan Kena Gangguan Ginjal Akut? Foto: Shutterstock

Moms, jenis gangguan ginjal yang biasa menyerang anak ada dua, yakni gangguan ginjal akut dan kronik. Dikutip dari laman Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tidak Menular (P2PTM) Kementerian Kesehatan, gangguan ginjal akut (AKI) merujuk pada kondisi di mana ginjal anak mengalami kerusakan fungsi secara mendadak. Penyebabnya adalah penyumbatan sistem penyaringan ginjal oleh sel darah merah yang hancur, trauma luka bakar, dehidrasi, pendarahan, cedera atau operasi.

Sedangkan gangguan ginjal kronik (Chronic Kidney Disease) adalah kondisi penurunan fungsi ginjal anak secara bertahap selama kurun waktu tiga bulan atau lebih. Anak dengan gangguan ginjal kronik akan mengalami penurunan fungsi penyaringan kotoran, kontrol jumlah air dalam tubuh, serta kadar garam dan kalsium dalam darah. Akibatnya zat-zat sisa metabolisme yang tidak berguna akan tetap tinggal dan mengendap dalam tubuh anak sehingga lambat laun membahayakan kondisi kesehatannya.

Infografik Gejala Gangguan Ginjal Misterius. Foto: kumparan

Nah Moms, beberapa penelitian telah menunjukkan bahwa obesitas yang dialami sejak kanak-kanak berisiko meningkatkan risiko semua penyakit ginjal seiring dengan bertambahnya usianya. Sebuah penelitian yang dipublikasikan dalam laman National Center for Biotechnology Information (NCBI) menjelaskan, anak-anak yang sudah mengalami obesitas sejak usia dini berisiko meningkatkan faktor risiko perkembangan gangguan ginjal.

Bila anak sudah mengalami penyakit ginjal, ditambah dengan kondisi obesitas, maka bisa meningkatkan risiko kematian saat penyakitnya sudah stadium akhir. Selain itu, ada bukti lainnya bahwa anak-anak yang obesitas dan dalam kondisi sehat sekali pun tetap berisiko mengalami semua penyebab penyakit ginjal stadium akhir di kemudian hari.

Anak dengan Gangguan Ginjal Akut, Seperti Apa Kondisi Jangka Panjangnya?

Anak dengan Gangguan Ginjal Akut, Seperti Apa Kondisi Jangka Panjangnya? Foto: Shutter Stock

Sebagian besar kasus anak dengan gangguan ginjal akut bisa pulih seperti sedia kala. Setelah pulih, anak akan diminta untuk memperhatikan kesehatan ginjalnya, sebagai bagian permanen dari rutinitas perawatan kesehatannya. Dilansir laman Childrens Hospital, anak perlu menemui dokter untuk memeriksa tekanan darah dan tes urine setiap tahun untuk memastikan fungsi ginjalnya tidak menurun. Dokter juga mungkin akan merekomendasikan anak ditangani langsung oleh ahli nefrologi (dokter dengan spesialisasi ginjal).

Namun pada kasus gangguan ginjal yang parah, terutama bila anak memiliki penyakit atau kondisi medis lain, kemungkinan ginjal tidak kembali pada fungsi normalnya. Jadi ada kemungkinan anak Anda akan menjadi kandidat untuk prosedur dialisis (cuci darah) untuk membantu menggantikan fungsi ginjal sampai kondisinya pulih, dan/atau transplantasi ginjal.

Maka dari itu, penting bagi orang tua untuk mengenali faktor risiko dan gejala gangguan ginjal akut pada anak. Jangan lupa untuk melakukan skrining berkala bila anak Anda termasuk obesitas, sehingga bisa mencegah terjadinya berbagai macam penyakit yang berisiko memperburuk kesehatan.

Sebagai langkah pencegahan agar obesitas tidak semakin parah, anak perlu menerapkan diet sehat dengan mengonsumsi makanan dengan gizi seimbang dan konsumsi air putih yang cukup setiap hari. Sehingga dapat menurunkan risiko gangguan ginjal dengan mengontrol tekanan darah serta kadar kolesterol dalam tubuh. Jangan lupa juga untuk beraktivitas fisik secara rutin agar menjaga tekanan darah tetap stabil dan menurunkan risiko gangguan ginjal di waktu yang akan datang.

kumparan post embed