Kapan Vaksin Japanese Encephalitis Perlu Diberikan pada Anak?

Japanese Encephalitis adalah salah satu penyakit akibat infeksi virus yang ditularkan oleh nyamuk. Penyakit ini jadi salah satu penyebab radang otak terbanyak di sebagian besar ASIA dan Pasifik Barat, termasuk Indonesia juga, Moms. Pencegahannya bisa menggunakan vaksin pada anak.
Penyakit Japanese Encephalitis atau JE ini bisa menyebabkan kematian dan sebagian besar orang yang terinfeksi tidak memiliki gejala. Biasanya, gejala penyakit radang otak muncul usai inkubasi 4-14 hari dari gigitan nyamuk. Pada anak, gejala awal biasanya berupa demam, anak tampak rewel, muntah, diare, dan kejang.
Sampai saat ini, belum ditemukan obat untuk mengatasi infeksi JE. Sehingga, bisa dicegah menggunakan vaksin dan sudah terbukti sangat efektif. Jadi jangan lupa untuk memberikan vaksin JE kepada si kecil.
Yuk Moms, simak jadwal terbaru dari rekomendasi Ikatan Dokter Anak Indonesia atau IDAI.
Jadwal Terbaru Pemberian Vaksin JE Menurut IDAI
Dalam jadwal imunisasi yang lama atau tahun 2017, vaksin JE diberikan mulai umur 12 bulan. Sedangkan di jadwal terbaru, vaksin Japanese Encephalitis diberikan mulai umur 9 bulan.
Pemberian vaksin ini harus dilakukan untuk anak yang tinggal di daerah endemis atau yang akan bepergian ke daerah endemis. Selanjutnya, untuk perlindungan jangka panjang, anak dapat diberikan booster pada 1 hingga 2 tahun kemudian Moms.
Kata IDAI soal Perubahan Jadwal Vaksin JE
Perubahan jadwal vaksin Japanese Encephalitis ini sesuai dengan keputusan Menteri Kesehatan RI tentang pelaksanaan kampanye dan introduksi imunisasi JE di Bali dan WHO position paper mengenai JE pada 2015, bahwa imunisasi JE diberikan mulai umur 9 bulan.
Imunisasi atau pemberian vaksin JE direkomendasikan untuk anak yang tinggal di daerah endemis atau yang akan bepergian ke daerah endemis. Di Indonesia beberapa daerah yang pernah melaporkan kasus infeksi JE ini adalah Bali, Kalimantan Barat, Nusa Tenggara Timur, Sulawesi Utara, Yogyakarta, Jawa Barat, Jakarta, Jawa Tengah, Nusa Tenggara Barat, dan Kepulauan Riau, dengan kasus JE terbanyak ada di Bali.
