Mengenal Rekonstruksi Payudara untuk Pasien Kanker
ยทwaktu baca 3 menit

Kanker payudara terjadi akibat adanya pertumbuhan jaringan abnormal pada payudara. Wanita dengan kanker payudara mengalami gejala, seperti munculnya benjolan, kulit kemerahan, dan nyeri di sekitar payudara.
Hingga saat ini, kanker payudara menjadi jenis kanker yang angka kejadiannya paling banyak di Indonesia. Penyakit ini juga berisiko menyebabkan kematian bagi penderitanya, Moms.
Kanker payudara bisa diatasi dengan dua tindakan yaitu lumptectomy dan mastectomy. Lumptectomy merupakan pembedahan untuk mengangkat sel kanker dan sebagian jaringan di sekitarnya tanpa menghilangkan payudara. Sementara mastectomy adalah tindakan pengangkatan sel kanker serta seluruh jaringan payudara. Metode ini memang bisa menyembuhkan kanker payudara, tetapi, wanita juga berisiko kehilangan payudaranya.
Seiring meningkatnya perkembangan teknologi, para ahli kesehatan menemukan metode baru sebagai solusi bagi pasien yang kehilangan payudaranya karena kanker, yaitu dengan rekonstruksi payudara.
Rekonstruksi Payudara bagi Pasien Kanker
Payudara termasuk salah satu organ penting bagi wanita. Sehingga, kehilangan payudara bisa menimbulkan banyak perubahan hingga mempengaruhi kualitas hidupnya. Menurut dokter spesialis bedah plastik rekonstruksi dan estetik, dr. Mohammad Rachdian Ramadan, Sp. B.P.R.E, Subsp. M.O.(K), kebanyakan wanita menjadi tidak percaya diri setelah kehilangan payudaranya karena kanker. Bahkan, mereka juga jadi tidak nyaman saat melakukan aktivitas seperti berhubungan seks dan olahraga. Oleh karenanya, semua wanita pasien kanker payudara berhak mendapatkan opsi untuk melakukan rekonstruksi payudara.
"Teknik operasi plastik dalam usaha mengembalikan payudara ke bentuk, tampilan, dan ukuran yang mendekati normal setelah mastectomy atau lumtectomy," ujar dr. Rachdian dalam acara diskusi media yang diselenggarakan RSPI di SEIA restoran Setiabudi, Jakarta Pusat, pada Jumat (3/2).
Operasi rekonstruksi payudara dilakukan dengan dua cara, yaitu menggunakan sesuatu dari luar tubuh (implan) atau menggunakan bagian tubuh si pasien itu sendiri (flap).
Metode Rekonstruksi Payudara untuk Pasien Kanker
Rekonstruksi payudara dengan metode flap dilakukan dengan mengambil bagian tubuh pasien, seperti daging dan lemak di perut, paha dalam, atau bokong. Ini tergantung pada karakteristik tubuh pasien kanker. Selain memberikan berbagai opsi, dokter juga akan memberikan kesempatan pasien untuk ikut menentukan keputusannya.
"Tergantung karakteristik tubuh wanitanya ada yang punya kelebihan (daging dan lemak) di mana. Jadi ada banyak sekali caranya untuk flap ini," kata dr. Rachdian.
Kemudian implan biasanya terbuat dari silikon yang sudah terbukti aman untuk tubuh, sehingga sangat kecil kemungkinan untuk menimbulkan reaksi negatif. Namun metode implan ini tidak bisa digunakan secara permanen. Ya Moms, pasien perlu mengganti silikon paling lama setiap 10 tahun.
Rekonstruksi payudara juga bisa dilakukan langsung setelah operasi pengangkatan sel kanker dan jaringan payudara yang disebut immediate reconstruction. Tapi, bisa juga dilakukan kapan pun pasien merasa siap, misalnya 1 tahun setelah kemoterapi dan radiasinya selesai atau delayed reconstruction.
Yang Perlu Dipertimbangkan Bila Ingin Rekonstruksi Payudara
Moms, rekonstruksi payudara memang menjadi solusi baru bagi pasien kanker yang kehilangan payudaranya. Namun, yang perlu dipahami adalah rekonstruksi hanya akan menggantikan volume payudara yang hilang, tapi tidak akan mengembalikan fungsinya, misalnya menyusui.
"Kelenjar payudaranya sudah dibuang duluan sama bedah onkologi. Jadi kalau ditanya putingnya ada nggak, itu bisa dibuat, volumenya ada, bisa dibuat simetris, ukurannya sama itu juga bisa. Tapi kalau untuk menyusui memang tidak bisa," lanjut dr. Rachdian.
Selain itu, ada beberapa kasus kanker payudara yang mungkin tetap kembali meski jaringan payudaranya sudah ikut diangkat. Tapi, biasanya dokter sudah bisa mempertimbangkan dengan berbagai pemeriksaan setelah pengangkatan soal kemungkinan sel kanker bisa muncul lagi atau tidak. Jadi, yang terpenting adalah berkonsultasi dengan dokter hingga jelas sebelum membuat keputusan besar ini ya, Moms.
