Kumparan Logo

Sejarah Salat Tarawih di Bulan Ramadhan

kumparanMOMverified-green

comment
2
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Umat muslim menunaikan ibadah shalat Tarawih pertama di Masjid Raya Sabilal Muhtadin, Banjarmasin, Kalimantan Selatan, Minggu (5/5). Foto: ANTARA FOTO/Bayu Pratama S
zoom-in-whitePerbesar
Umat muslim menunaikan ibadah shalat Tarawih pertama di Masjid Raya Sabilal Muhtadin, Banjarmasin, Kalimantan Selatan, Minggu (5/5). Foto: ANTARA FOTO/Bayu Pratama S

Ramadhan kali ini, pemerintah menghimbau pelaksanaan ibadah sunah salat tarawih di rumah untuk mencegah penyebaran virus corona. Bagaimana dengan keluarga Anda, Moms? Apakah sejak awal bulan puasa sudah salat tarawih berjamaah di rumah ?

Jangan lupa ajak si kecil juga ya, Moms! Dengan begitu, anak tetap dapat merasakan istimewanya bulan Ramadhan meski tetap #diRumahAja.

Anak juga perlu dijelaskan bahwa salat tarawih adalah salah satu ibadah sunah pada bulan Ramadhan yang dapat 'menghidupkan' malam. Kenapa? Karena salat tarawih memiliki banyak keutamaan bila senantiasa dikerjakan. Salah satunya, menghapus dosa-dosa kita!

Seorang warga Cinunuk, Kabupaten Bandung, Jawa Barat melaksanakan ibadah salat tarawih di rumahnya di Foto: Antara/Raisan Al Farisi

Tak hanya itu, Anda juga bisa menyampaikan pada anak sejarah salat tarawih atau bagaimana asal mulanya hingga salat tarawih dikenal dan dilakukan oleh umat muslim. Siapa tahu, dengan mengetahui sejarah salat tarawih, anak jadi lebih semangat menunaikannya? Jadi yuk, simak rangkuman kumparanMOM berikut ini:

kumparan post embed

Nabi Muhammad SAW adalah orang pertama yang melakukan salat tarawih. Dalam sejarah tercatat, Rasullullah pertama melakukannya pada tanggal 23 Ramadhan tahun kedua hijriah sebanyak 8 rakaat. Hal ini merujuk pada riwayat Aisyah yang ada dalam H.R. Bukhari dan Muslim:

“(Rasulullah) tidak pernah melakukan salat sunah di bulan Ramadhan dan bulan lainnya lebih dari sebelas rakaat. Beliau salat empat rakaat dan jangan engkau tanya bagaimana bagus dan indahnya. Kemudian beliau salat lagi empat rakaat, dan jangan engkau tanya bagaimana indah dan panjangnya. Kemudian beliau salat tiga rakaat.”

Namun perlu diketahui, Rasulullah mengerjakan salat malam di bukan Ramadhan ini tidak selalu di masjid. Beliau kadang di rumah. Hal ini diriwayatkan dalam HR Bukhari dan Muslim, dari ‘Aisyah Ummil Mu’minin Radliyallahu ‘anha:

"Sesungguhnya Rasulullah pada suatu malam salat di masjid, lalu banyak orang salat mengikuti beliau. Pada hari ketiga atau keempat, jamaah sudah berkumpul (menunggu Nabi) tapi Rasulullah SAW justru tidak keluar menemui mereka. Pagi harinya beliau bersabda, ‘Sunguh aku lihat apa yang kalian perbuat tadi malam. Tapi aku tidak datang ke masjid karena aku takut sekali bila shalat ini diwajibkan pada kalian.” Sayyidah ‘Aisyah berkata, ‘Hal itu terjadi pada bulan Ramadhan’.”

Terkait hal ini, diterangkan juga dalam Fathul Bari Syarh Shahih Bukhari:

“Sesungguhnya Nabi ketika menekuni suatu amal kebaikan dan diikuti umatnya, maka perkara tersebut telah diwajibkan atas umatnya.”

Salat Tarawih di Masjid Raya Medan sebelum masa pandemi Foto: Rahmat Utomo/kumparan

Pada masa khalifah Abu Bakar RA, salat tarawih adalah bagian dari shalat sunnah mu’akkadadah (shalat sunnah yang sangat dianjurkan) meski belum ada salat tarawih berjamaah dengan satu imam di masjid. Umat Muslim menunaikan salat tarawih dilakukan secara sendiri-sendiri (munfarid) atau berkelompok tiga, empat, atau enam orang. Jumlah rakaat shalat tarawih pun ditetapkan atau diatur secara jelas.

Salat tarawih berubah keadaannya ketika khalifah Umar bin Khattab berinisatif untuk menggelarnya secara berjamaah. Inisiatif ini muncul karena ia menyaksikan umat Islam tampak tak kompak dalam melaksanakan salat tarawih. Ada yang sendiri-sendiri, sementara sebagian lain berjamaah.

Salat tarawih berjamaah di Masjidil Haram, Makkah Foto: AFP/STR

Diriwayatkan dalam hadits shahih HR Bukhari:

“Dari ‘Abdirrahman bin ‘Abdil Qari’, beliau berkata: ‘Saya keluar bersama Sayyidina Umar bin Khattab radliyallahu ‘anh ke masjid pada bulan Ramadhan. (Didapati dalam masjid tersebut) orang yang shalat tarawih berbeda-beda. Ada yang shalat sendiri-sendiri dan ada juga yang shalat berjamaah. Lalu Sayyidina Umar berkata: ‘Saya punya pendapat andai mereka aku kumpulkan dalam jamaah satu imam, niscaya itu lebih bagus.” Lalu beliau mengumpulkan kepada mereka dengan seorang imam, yakni sahabat Ubay bin Ka’ab. Kemudian satu malam berikutnya, kami datang lagi ke masjid. Orang-orang sudah melaksanakan shalat tarawih dengan berjamaah di belakang satu imam. Umar berkata, ‘Sebaik-baiknya bid’ah adalah ini (shalat tarawih dengan berjamaah)”.

ilustrasi ibu dan anak beribadah di rumah Foto: Shutterstock

Sementara pada masa khalifah Umar bin Abdul Aziz, salat tarawih dilakukan hingga 36 rakaat ditambah witir 3 rakaat.

Jadi tidak masalah berapa rakaat salat tarawih yang kita kerjakan, Moms. Karena semuanya benar. Yang jelas, semoga saja salat tarawih keluarga kita dapat menjadi amalan yang diterima oleh Alaah SWT.