Kumparan Logo

Tiga Anak Bobol 5 Toko HP di Padang, Psikolog Ungkap Faktor yang Perlu Dipahami

kumparanMOMverified-green

·waktu baca 4 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Tangkapan layar 3 bocah membobol lima toko HP di Plaza Andalas, Padang, Sumatera Barat, tertangkap saat masuk ke markas TNI AL. Foto: Dok. Polresta Padang
zoom-in-whitePerbesar
Tangkapan layar 3 bocah membobol lima toko HP di Plaza Andalas, Padang, Sumatera Barat, tertangkap saat masuk ke markas TNI AL. Foto: Dok. Polresta Padang

Tiga anak di bawah umur membobol lima toko handphone di Plaza Andalas, Kota Padang, Sumatera Barat. Aksi mereka terekam CCTV dan viral di media sosial.

Aksi pencurian dilakukan dua kali, yakni pada Jumat (21/8) dan Senin (24/8). Rekaman CCTV kemudian menjadi petunjuk polisi dalam melakukan penyelidikan.

Polisi sempat kehilangan jejak setelah mengetahui para pelaku bergerak ke arah Bungus Teluk Kabung. Pengejaran kembali menemukan titik terang setelah jajaran TNI Kodaeral II Padang melaporkan anak-anak tersebut masuk ke area markas.

Jangan Langsung Labeli Anak

Menanggapi kasus tersebut, Psikolog Pendidikan, Madeline Jessica, M.Psi., Psikolog, mengatakan kasus ini perlu dipandang serius karena dilakukan berulang dan melibatkan beberapa lokasi.

Tangkapan layar 3 bocah membobol lima toko HP di Plaza Andalas, Padang, Sumatera Barat, tertangkap saat masuk ke markas TNI AL. Foto: Dok. Polresta Padang

Namun, anak tidak seharusnya langsung dilabeli sebagai “penjahat”, “kriminal”, atau “anak nakal”. Dalam psikologi perkembangan, kemampuan anak untuk mengendalikan impuls, mempertimbangkan konsekuensi, mengambil keputusan, dan memahami dampak jangka panjang masih terus berkembang.

Perilaku anak juga dapat dipengaruhi keluarga, sekolah, pertemanan, pengalaman buruk, hingga pengawasan orang tua.

“Terpenting untuk ditekankan bahwa "usia" bukan alasan untuk membenarkan tindakan tersebut. Anak tetap perlu memahami bahwa mengambil barang milik orang lain adalah tindakan yang salah dan memiliki konsekuensi,” ujar Madeline kepada kumparanMOM, Selasa (25/8).

Menurutnya, orang dewasa perlu membedakan antara menilai perilaku dan memberi label pada identitas anak.

Ilustrasi anak trauma. Foto: myboys.me/Shutterstock

“Kita bisa mengatakan, “Perbuatanmu salah dan kamu harus bertanggung jawab,” tanpa mengatakan, “Kamu adalah anak yang buruk.” Perbedaan ini penting karena dalam teori psikologi positif, anak masih memiliki kapasitas untuk belajar, berubah, dan mengembangkan perilaku yang lebih adaptif,” tegasnya.

Bisa dari Pengaruh Teman Sebaya

Selain itu, Madeline menjelaskan, perilaku seperti ini biasanya tidak muncul karena satu faktor. Salah satunya bisa berasal dari pengaruh teman sebaya.

Di usia anak dan remaja, keinginan untuk diterima kelompok cukup kuat. Anak bisa ikut melakukan sesuatu karena ingin dianggap berani, takut dikucilkan, atau sekadar mengikuti teman.

Hal ini dapat dijelaskan melalui Social Learning Theory, ketika anak belajar dengan mengamati perilaku orang lain dan konsekuensinya.

Ilustrasi memberi hukuman pada anak. Foto: Shutter Stock

Meski begitu, pengaruh teman bukan berarti anak bebas dari tanggung jawab. Anak tetap perlu belajar mengatakan, “Ini salah, aku tidak mau ikut.”

Anak Tetap Perlu Bertanggung Jawab

Anak yang melakukan kesalahan serius membutuhkan ketegasan sekaligus pendampingan. Orang dewasa perlu membantu anak memahami apa yang salah dan siapa yang terdampak. Anak dapat diajak berpikir melalui pertanyaan seperti:

-Apa yang terjadi karena tindakanmu?

-Siapa yang dirugikan?

-Bagaimana perasaan korban?

-Apa yang bisa kamu lakukan untuk memperbaikinya?

“Tujuannya adalah mengembangkan empathy dan moral reasoning, sehingga anak tidak hanya takut pada hukuman atau takut tertangkap, tetapi benar-benar memahami alasan mengapa perilakunya tidak dapat diterima,” imbuh Madeline.

Ilustrasi anak diberi nasihat. Foto: Shutter Stock

Pentingnya Evaluasi dan Pendampingan Orang Tua

Karena perilaku terjadi berulang, Madeline menilai anak perlu mendapat asesmen dari tenaga profesional untuk melihat faktor yang melatarbelakanginya, seperti:

-Kesulitan regulasi emosi dan kontrol impuls

-Masalah perilaku yang sudah berlangsung sebelumnya

-Tekanan atau pengaruh teman sebaya

-Persoalan dalam keluarga atau lingkungan

Pendampingan juga perlu disesuaikan dengan kondisi masing-masing anak. Tidak semua anak membutuhkan penanganan yang sama. Orang tua juga perlu membangun komunikasi terbuka tanpa menghilangkan batasan. Setelah emosi lebih tenang, ajak anak berbicara, misalnya:

“Apa yang sebenarnya terjadi?”

“Apa yang kamu pikirkan saat melakukan itu?”

“Apakah ada sesuatu yang membuatmu melakukan ini?”

Perbaiki Lingkungan, Bukan Hanya Anak

Ilustrasi anak . Foto: Shutter Stock

Jika pengaruh teman menjadi salah satu faktor, lingkungan anak juga perlu diperbaiki:

-Bangun relasi dengan teman yang lebih sehat

Arahkan pada kegiatan yang positif

-Tingkatkan keterlibatan di sekolah

-Hadirkan orang dewasa sebagai figur pembimbing

Ilustrasi ibu dan anak. Foto: Shutterstock

Penanganan juga perlu berfokus pada perbaikan, bukan hanya rasa jera. Melalui restorative approach, anak dapat belajar memahami dampak perbuatannya, bertanggung jawab, dan memperbaiki kerugian yang ditimbulkan sesuai kondisi dan proses hukum yang berlaku.

“Terakhir, fokus pada perbaikan, bukan hanya rasa jera. Dalam psikologi, kita ingin anak belajar bertanggung jawab, bukan sekadar menjadi takut. Pendekatan yang berorientasi pada perbaikan (restorative approach) dapat membantu anak memahami dampak tindakannya dan, sejauh sesuai dengan proses hukum serta kondisi yang ada, belajar memperbaiki kerugian yang telah ditimbulkan,” pungkasnya.

kumparan post embed