Varian Corona India Menyebar di Beberapa Kota Termasuk Jakarta, Ini 5 Faktanya
ยทwaktu baca 4 menit

Varian corona India dikabarkan sudah ditemukan di beberapa daerah di Indonesia. Ya Moms, menurut Menkes Budi Gunadi Sadikin, daerah-daerah tersebut adalah DKI Jakarta, Kudus, dan Bangkalan.
Budi menyebut di 3 daerah tersebut, varian corona B617.2 atau varian India (Delta) sudah mendominasi. Oleh sebab itu, masyarakat diharapkan semakin mawas diri dan tetap disiplin menjalankan protokol kesehatan.
"Untuk DKI Jakarta, Kudus, Bangkalan memang sudah terkonfirmasi varian Delta atau B1617.2 atau varian India mendominasi. Karena ini penularan lebih cepat walaupun tidak lebih mematikan," kata Budi dalam jumpa pers virtual, Senin (14/6).
Nah Moms, agar Anda dan keluarga lebih waspada, berikut beberapa fakta seputar virus corona India.
5 Fakta soal Varian Corona India yang Sudah Masuk ke Indonesia
1. Lebih berbahaya
Dalam beberapa penelitian, varian corona India menunjukkan adanya indikasi lebih berbahaya dari varian aslinya. Meski demikian, penularannya masih tetap bisa dicegah, Moms.
Sehingga jangan lupa untuk tetap menerapkan 5M, yaitu memakai masker, mencuci tangan, menjaga jarak, menjauhi kerumunan, serta membatasi mobilitas.
"Pencegahan untuk setiap varian tetap sama yaitu dengan 5M. Namun bisa lebih dioptimalkan, misalnya menggunakan masker dobel," ujar Kandidat PhD di bidang kedokteran Kobe University dr. Adam Prabata.
Teknik penggunaan dua masker atau yang juga dikenal sebagai double masking ini bisa menjadi salah satu cara untuk menurunkan risiko penularan COVID-19. Cukup dengan menggunakan masker medis yang kemudian dilapis dengan masker kain, dapat meningkatkan efektivitas dari penggunaan masker itu sendiri hingga lebih dari 85 persen.
2. Lebih berisiko bikin pasien dirawat di RS
Baru-baru ini, hasil studi dari Inggris menemukan bahwa varian B.1.617.2 dari India atau yang bisa disebut juga dengan Delta menyebabkan peningkatan risiko rawat inap 2,61 kali lebih tinggi.
"Risiko rawat inap yang dimaksud adalah risiko orang yang terkena COVID-19 untuk dirawat inap di rumah sakit. Angka 2,61 kali lebih tinggi tersebut berasal dari perbandingan antara risiko rawat inap antara orang yang terinfeksi oleh varian B.1.617.2 (delta) dengan B.1.1.7 (alpha)," jelas dr. Adam.
Risiko rawat inap yang lebih tinggi ini juga memungkinkan peningkatan risiko sakit berat yang membutuhkan alat bantu napas atau ventilator. Ini berarti juga bisa meningkatkan kemungkinan angka kematian yang lebih tinggi.
"Varian-varian tersebut punya karakteristik sendiri yang membuat mereka dianggap berbahaya. B.1.617.2 ini meningkatkan penularan dan risiko rawat inap, serta dicurigai bisa menurunkan efektivitas vaksin," tutur dr. Adam.
3. Varian corona India di Kudus sudah transmisi lokal
Hasil pemeriksaan Whole Genome Sequencing (WGS) yang dilakukan oleh Kelompok Kerja (Pokja) Genetik Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan (FKKMK) UGM, mendapati corona India sudah merebak di Kabupaten Kudus, Jawa Tengah.
Ketua Pokja Genetik FKKMK UGM, dr Gunadi, menyebut bahwa dari hasil pemeriksaan yang keluar pada 11 Juni lalu, didapati 28 dari 34 sampel dari Kudus terkonfirmasi sebagai varian India, Moms.
Menurutnya, dari fakta tersebut kemungkinan besar transmisi lokal varian delta telah ada.
"Sebelumnya sudah terdeteksi beberapa kasus namun bersifat acak, dan sekarang sudah menjadi klaster di daerah Kudus. Artinya, kemungkinan besar sudah terjadi transmisi lokal di Indonesia, khususnya di Kudus. Tidak menutup kemungkinan transmisi lokal juga keluar dari Kudus," kata Gunadi dalam keterangan tertulisnya, Senin (14/6).
4. Picu kematian tanpa gejala
Kepala Dinas Kesehatan Jawa Tengah, Yulianto Prabowo, mengungkapkan keganasan varian corona India di Kudus. Ia mengatakan, selain memiliki tingkat penularan yang tinggi, corona India itu juga menyebabkan kematian pada pasien COVID-19 tanpa gejala.
Seperti yang terjadi pada 2 pasien COVID-19 asal Kudus yang meninggal saat menjalani isolasi mandiri di Asrama Haji Donohudan Boyolali.
"Iya jadi progresifitas klinisnya itu cepat sekali, waktu dievakuasi dari Kudus itu masih tanpa gejala. Tapi karena memang itu ciri khasnya varian baru jadi progresif sekali," ujar Yulianto.
5. Anak muda rentan terkena varian corona India
Yulianto menyebut varian corona India juga memiliki tingkat kerentanan atau fatality yang tinggi jika menjangkiti alias menulari anak muda.
"Lalu ada juga kelompok yang tadinya tidak rentan seperti anak muda, atau tidak fatal, ternyata banyak yang meninggal, banyak yang (gejalanya) berat," ujar Yulianto, di Semarang, Senin (14/6).
Oleh sebab itu, Moms, jangan pernah lengah dan terus terapkan protokol kesehatan. Meski keluarga, teman, atau kolega Anda terlihat sehat, bukan berarti Anda bisa melonggarkan protokol kesehatan. Tetaplah waspada demi kebaikan Anda dan keluarga di rumah.
