4 Hipotesis WHO soal Asal Corona: Penularan Hewan ke Manusia; Kebocoran Lab

kumparanNEWSverified-green

·waktu baca 4 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Peter Daszak dan Thea Fischer, anggota tim Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) yang bertugas menyelidiki asal-usul penyakit virus korona (COVID-19) di Wuhan, China. Foto: Thomas Peter/REUTERS
zoom-in-whitePerbesar
Peter Daszak dan Thea Fischer, anggota tim Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) yang bertugas menyelidiki asal-usul penyakit virus korona (COVID-19) di Wuhan, China. Foto: Thomas Peter/REUTERS

Sudah hampir 1,5 tahun pandemi COVID-19 melanda dunia ini. Pandemi COVID-19 mengakibatkan hilangnya nyawa jutaan manusia dan merosotnya perekonomian berbagai negara.

Tetapi hingga kini, asal-usul dari bencana dunia ini masih belum ditemukan, bahkan masih panas diperdebatkan. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pun telah turun tangan menginvestigasi langsung ke kota pertama kasus virus corona tersebut ditemukan, yakni Wuhan.

Sejak Januari hingga Februari 2021, selama empat minggu lamanya, WHO telah melakukan penyelidikan lebih dalam soal asal-usul SARS-CoV-2.

Tim Investigasi WHO mengerucutkan segala kemungkinan asal-usul COVID-19 ke dalam empat skenario atau hipotesis, yang mereka urutkan dari yang paling memungkinkan hingga ke yang paling mustahil.

Peter Ben Embarek dan Marion Koopmans, anggota tim Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) yang bertugas menyelidiki asal-usul penyakit virus korona menghadiri konferensi pers studi bersama WHO-China di Wuhan, Hubei, China. Foto: Aly Song/REUTERS

1. Penularan langsung dari hewan ke manusia

Dikutip dari Reuters, pada teori ini, satu orang terpapar virus SARS-CoV-2 lewat kontak langsung dengan spesies inang, yakni kelelawar tapal kuda. Virus ini bisa jadi sudah menyebar di manusia selama beberapa lama, sebelum akhirnya merebak di Kota Wuhan yang padat penduduk.

Dalam laporan WHO yang dikutip kumparan, teori ini dinilai ‘bisa jadi paling memungkinkan’ (possible to likely). Mayoritas penyakit menular yang mewabah di dunia berasal dari hewan reservoir dan ada bukti-bukti kuat bahwa virus-virus corona lainnya (selain SARS-CoV-2) ini berasal dari hewan, seperti virus penyebab epidemi SARS pada 2003, yakni SARSr-CoV, ditemukan di berbagai jenis kelelawar, terutama kelelawar Rhinolopus.

Skema skenario penyebaran dan penularan COVID-19. Garis merah menunjukkan arah penyebaran pada skenario 1 ini. Foto: WHO

Reservoir adalah organisme yang menjadi tempat hidup dan berkembang biak bagi parasit yang patogenik terhadap spesies lain, biasanya tanpa merusak inangnya.

Tetapi, kontak antara manusia dengan hewan reservoir seperti kelelawar itu cenderung jarang, tak seperti kontak manusia dengan hewan-hewan lain, seperti hewan ternak.

Kemudian, meskipun konsumsi daging kelelawar dan hewan liar lainnya banyak dilakukan di berbagai negara, ternyata tidak ditemukan bukti transmisi virus-virus corona lewat kontak seperti itu (lewat memakan daging hewan liar itu).

Investigasi pelacakan oleh WHO juga tak menemukan bukti adanya kehadiran kelelawar di pasar makanan.

2. Penularan lewat hewan perantara

Skema skenario penyebaran dan penularan COVID-19. Garis merah menunjukkan arah penyebaran pada skenario 2. Foto: WHO

Skenario ini dianggap sebagai skenario yang paling memungkinkan. Dalam hipotesis ini, penularan dari hewan reservoir atau spesies inang ke manusia melewati spesies perantara yang masih belum diketahui.

Dikutip dari National Geographic, hipotesis ini menyatakan virus corona pertama dibawa lewat hewan perantara lainnya, seperti cerpelai atau tenggiling. Tak seperti kelelawar, kedua hewan ini cenderung lebih sering berkontak langsung dengan manusia.

SARS-CoV-2 ini terbukti sangat mudah beradaptasi di spesies inangnya, dan dapat menjangkiti hewan-hewan lainnya seperti cerpelai, kucing, anjing, bahkan harimau.

Menurut laporan WHO, meningkatnya jumlah hewan yang rentan terhadap virus corona ini meliputi hewan yang diternakkan dalam peternakan yang cukup padat.

Tetapi, hingga kini masih belum diketahui dengan jelas apa spesies perantara itu.

WHO telah menganalisis sampel yang diambil dari ribuan hewan ternak di seluruh China, yang mana seluruhnya menunjukkan hasil negatif SARS-CoV-2. Meski begitu, ahli menganggap pengambilan sampel yang dilakukan oleh WHO masih kurang dari cukup.

WHO menilai skenario ini sebagai "memungkinkan - sangat memungkinkan" (likely to very likely).

kumparan post embed

3. Penyebaran lewat produk makanan beku

Skema skenario penyebaran dan penularan COVID-19. Garis merah menunjukkan arah penyebaran pada skenario 3. Foto: WHO

Dikutip dari Reuters, skenario ketiga ini mengatakan bahwa COVID-19 kemungkinan berasal dari skenario satu atau dua (penularan langsung atau lewat spesies perantara), lalu tersebar lewat rantai penjualan produk makanan beku.

Virus corona tersebut bisa jadi berasal dari luar China dan diimpor masuk ke negara tersebut lewat permukaan kemasan makanan beku atau bahkan di permukaan makanan itu sendiri.

Menurut National Geographic, teori ini mulai ramai diperbincangkan pada musim panas tahun lalu usai lonjakan kasus di China, dan ada beberapa bukti yang menyebutkan bahwa patogen (organisme penyebab penyakit) dapat bertahan hidup lebih lama di temperatur yang rendah.

Tetapi, dalam laporan WHO, disebutkan bahwa tidak ada bukti yang kuat soal transmisi SARS-CoV-2 lewat makanan.

“Tak ada bukti konklusif untuk transmisi SARS-CoV-2 lewat makanan dan probabilitas kontaminasi rantai penjualan makanan beku oleh virus tersebut dari reservoir sangatlah rendah,” kata WHO dalam laporan tertulisnya.

Oleh karenanya, penilaian yang diberikan WHO untuk skenario ini adalah ‘bisa jadi’ (possible).

4. Penyebaran akibat kebocoran lab di WIV

Skema skenario penyebaran dan penularan COVID-19. Garis merah menunjukkan arah penyebaran pada skenario 4. Foto: WHO

Skenario ini adalah skenario yang paling hangat diperbincangkan oleh publik dunia, sejak awal pandemi hingga 1,5 tahun kemudian.

Dikutip dari Reuters, skenario ini berpusat pada virus SARS-CoV-2 bocor dari lab di Institut Virologi Wuhan (WIV). Banyak yang berpendapat bahwa SARS-CoV-2 ini bocor dari salah satu lab, atau bahkan virus ini merupakan virus yang sengaja dibuat oleh WIV.

Laporan WHO menyebut bahwa kebocoran lab itu bisa terjadi, meskipun kejadiannya sangatlah langka. Para peneliti bisa jadi terinfeksi virus atau patogen yang mereka teliti jika keamanan biologi (biosafety) lab tersebut rendah, buruknya manajemen lab, dan kelalaian.

WIV sendiri sudah meneliti berbagai virus corona kelelawar sebelum SARS-CoV-2, seperti virus RaTG13, jenis virus yang ditemukan pada kelelawar. Virus CoV RaTG13 ini, menurut National Geographic, memiliki tingkat kemiripan 96,2 persen dengan SARS-CoV-2 dan merupakan kerabat terdekat virus penyebab COVID-19 sejauh yang diketahui.

Tetapi, WHO menyatakan skenario ini sangat tidak mungkin. Sebab, sebelum mewabahnya COVID-19, tak ada laporan yang mencatatkan lab WIV tengah meneliti virus-virus kerabat yang jauh lebih berkaitan dengan SARS-CoV-2.

Penjaga keamanan berjaga saat anggota WHO yang bertugas menyelidiki asal-usul pandemi penyakit virus korona (COVID-19), mengunjungi pameran di Wuhan, (30/1/2021). Foto: Thomas Peter/REUTERS

Selain itu, tak ada juga laporan dari staf WIV bahwa mereka merasakan adanya gejala-gejala layaknya gejala COVID-19 sebelum Desember 2019.

Kemudian, manajemen serta keamanan lab di WIV terbukti baik. “Tiga laboratorium di Wuhan yang bekerja meneliti diagnostik CoV dan/atau isolasi CoV serta pengembangan vaksin seluruhnya memiliki fasilitas level keamanan biologi (biosafety) BSL 3 atau 4 berkualitas tinggi yang dikelola dengan baik,” tulis WHO dalam laporannya.

Dengan sedikitnya bukti dan banyaknya argumen yang memperkuat keamanan lab, penilaian yang diberikan terhadap skenario ini adalah ”sangat tidak mungkin” (very unlikely).

kumparan post embed

Tetapi, hipotesis keempat ini kembali menjadi sorotan akibat beredarnya laporan intelijen AS yang menyebutkan bahwa ada tiga peneliti WIV jatuh sakit hingga harus dirawat di rumah sakit pada November 2019, sebulan sebelum COVID-19 diumumkan.

Buntut dari laporan ini, Presiden Amerika Serikat Joe Biden memerintahkan kaki tangannya untuk melakukan investigasi lebih dalam soal asal-usul virus corona ini.

Biden juga meminta WHO untuk melaksanakan investigasi asal-usul COVID-19 tahap dua.

Menanggapi hal ini, pada Rabu (26/5), Direktur Program Kedaruratan WHO, Mike Ryan, mengatakan bahwa mereka akan mengabarkan pemberitahuan terbaru soal langkah WHO selanjutnya dalam beberapa pekan ke depan.

kumparan post embed