4 Taktik China Merekrut Mata-mata di Negara Lain

Mendengar kata intelijen, yang terbersit di benak kita adalah operasi mata-mata, terselubung, bawah tanah, intrik, dan pengkhianatan. Pikiran itu tidak salah, karena memang demikian adanya. Setidaknya dalam kasus China yang terbongkar belakangan ini.
Seorang whistleblower yang meminta suaka ke Australia mengungkapkan itu semua. Pria bernama Wang Liqiang ini mengaku sebagai perekrut mata-mata China di tiga negara; Hong Kong, Taiwan, dan Australia.
Whistleblower lainnya bahkan mengatakan China hendak merekrut seorang pengusaha untuk maju di pemilihan anggota parlemen Australia. Tujuannya, China ingin menyusupkan agen mereka di parlemen, jadi musuh dalam selimut bagi Australia.
Ini bukan kali pertama perekrutan China terbongkar. Pada 2017, beberapa warga Amerika Serikat keturunan China, atau warga AS tulen, diadili karena memberikan informasi rahasia negara kepada pemerintah Beijing. Taktik China merekrut dan menguras informasi dari mereka sangat apik.
Dikutip dari laman Wired, setidaknya ada empat taktik China merekrut mata-mata di negara lain:
1. Memanfaatkan Mahasiswa China
Salah satu orang potensial untuk menjadi mata-mata China adalah warga China sendiri. Dalam hal ini, mahasiswa China di negara lain.
Wang Liqiang mengaku menjadi agen perekrut mahasiswa China yang kuliah di Hong Kong. Menurut Wired, biasanya para pencari adalah orang-orang yang dekat dengan think tank, kampus, atau perusahaan di negara asing.
Dalam kasus di AS, Beijing merekrut mahasiswa China di fakultas kelistrikan Institut Teknologi Illinois bernama Ji Chaoqun. Tugas Ji adalah memeriksa latar belakang delapan orang yang potensial menjadi mata-mata China berikutnya.
Calon tentara cadangan AS ini ditangkap pada 2018 karena membagikan informasi sensitif warga AS kepada China.
2. Uang, Ideologi, Pemaksaan, atau Ego
Ketika perekrut telah menemukan orang yang tepat, mereka akan melakukan penilaian soal potensi motif orang tersebut mau bekerja untuk China.
Ada empat motif yang dikenal dengan MICE: money (uang), ideology (ideologi), coercion (paksaan), dan ego. Mereka bisa dibayar dengan uang, atau memiliki ideologi cinta tanah air, atau diperas sehingga terpaksa melakukannya, atau memang karena dilandasi gengsi saja.
Untuk merekrut warga China, pemerintah Beijing mengandalkan ideologi dan paksaan. Tapi untuk merekrut warga negara lain, uang yang bicara.
Seperti Ron Rockwell Hansen yang divonis penjara 10 tahun pada September lalu. Mantan Badan Intelijen Pertahanan AS (DIA) ini dituding menjadi intel China sejak 2013 hingga 2017. Total, Hansen disebut menerima USD 800 ribu (Rp 11,3 miliar) selama bekerja untuk China.
3. Mengelabui Sasaran
Terkadang China melakukan taktik untuk merekrut mata-mata namun tanpa orang tersebut menyadarinya. China "memelihara" orang di negara sasaran dan menjadikan mereka pion untuk menyedot informasi.
Hal ini terjadi pada Glenn Duffie Shriver, pria asal Virginia. Shriver yang kuliah di China dan mahir bahasa Mandarin awalnya didatangi seorang wanita bernama "Amanda". Dia membayar Shriver USD 120 atas esai yang ditulisnya soal hubungan AS, Korea Utara, dan Taiwan.
Hubungan berlanjut. Amanda dan dua pria China lainnya menawari Shriver uang senilai ratusan juta rupiah untuk ikut ujian masuk CIA atau Kementerian Luar Negeri AS. Shriver gagal ujian berkali-kali pada 2005 hingga 2010, namun dia tetap mendapatkan uang dari China. Dia ditangkap ketika akan mengikuti ujian tersebut lagi.
Niat China adalah menanam Shriver di Kemlu AS atau CIA untuk mendapatkan informasi berharga di dalamnya, persis seperti taktik di Australia. Pada 2011, Shriver divonis 48 bulan penjara.
CIA kemudian membuat film berjudul "Game of Pawns: The Glenn Duffie Shriver Story" untuk memperingatkan mahasiswa AS agar tidak termakan bujuk rayu China.
4. Menawari Lewat LinkedIn
Perekrutan intel oleh China tidak hanya dilakukan di dunia nyata, tapi juga di dunia maya, bahkan di media sosial seperti LinkedIn. Dalam hal ini, China berhasil merekrut Kevin Mallory, bekas staf CIA, pada Februari 2017 untuk memperoleh informasi soal AS.
China melihat profil Mallory di LinkedIn dan menghubunginya lewat sosmed tersebut. Mallory yang tengah dibelit utang menyanggupi permintaan untuk memberikan dokumen rahasia negara kepada China.
Dia mendapatkan upah USD 25 ribu, sekitar Rp 350 juta, untuk tiga dokumen rahasia yang diberikan kepada China pada 2017. Pada Mei lalu, Mallory divonis penjara 20 tahun atas tindakannya tersebut.
